Fille Forte

Fille Forte
Taman


__ADS_3

Seorang gadis duduk di atas bangku, semilir angin menyapu rambutnya, angin ini begitu sejuk dan dedaunan yang berguguran.


Aurora duduk terdiam di sebuah kursi panjang, ia menggoyangkan kakinya dan sekali menghentak kakinya.


Aurora sudah cukup lama berada di taman belakang sekolah, ia menggenggam sebuah pisau di tangannya.


"Rasain! aku harap itu cowok lukanya tidak parah, kalau parah pasti aku bisa masuk penjara, tapi aku cukup berani bisa menusuk orang" ujar Aurora tersenyum, " Tapi kenapa itu cowok cium pipi Aurora? Dia sangka aku itu cewek yang gampangan apa seperti mantan-mantannya yang goblok itu! Dasar lelaki playboy" ucap Aurora menunjang sebuah kaleng.


Aurora tidak menyadari jika kaleng yang ditunjang olehnya mengenai seorang wanita yang sedang berkeliling.


"Aduh....." teriak seorang wanita.


Aurora mendengar suara wanita merasa bulu kuduknya merinding, ia berpikir mungkin saja itu suara penunggu taman ini karena menurut desas-desus yang ia dengar jika taman belakang sekolah ini terdapat penunggunya dan lebih parahnya lagi jika jarum jam tepat menunjukkan pukul 12 maka hantu itu akan membawa seseorang yang sedang berada di taman itu ke alamnya.


"Jangan bilang ini udah jam 12? Apa sebentar lagi aku akan pergi ke dunia lain?" ujar Aurora ngawur "Tenang Aurora! Ingat di dunia ini hantu itu tidak ada, walaupun mereka ada pasti sudah banyak murid dari sekolah ini yang hilang, jadi hantu itu tidak ada!" ucapnya berusaha menyakinkan dirinya.


Aurora berusaha mengendalikan dirinya, ia mengangkat kepalanya dan merasa lega karena tidak sesuai yang dipikirkannya, suara yang ia dengar bukanlah suara hantu tapi suara wanita yang berdiri di depannya yang berjarak sekita satu meter.


"Huuufsss.... ternyata bukan hantu!" ucap Aurora lega lalu melanjutkan kalimatnya, "Tapi tendangan aku kuatnya sampai bisa mengenai wanita itu" ucap Aurora merasa sedikit puas.


Aurora memerhatikan wanita itu ia merasa sedikit familiar dengan wanita yang menggunakan setelan gaun berwarna hitam dengan topi di atas kepalanya, Aurora baru menyadari jika wanita itu adalah Auristella.


Aurora menutup mulutnya, "jangan bilang itu nona Auristella," ucapnya pelan.


Auristella berjalan mendekat ke arah Aurora yang berhasil membuat Aurora sedikit panik dan berkeringat dingin.


"Oh no....nona Auris kemari, gimana ini!" ucap Aurora panik.


Aurora begitu panik melihat Auris yang semakin mendekat ke arahnya, Auris berdiri di hadapan Aurora dengan sekitar jarak 5 cm.


Aurora menundukkan kepalanya ia dengan meremas ujung roknya, ia tidak berani memperlihatkan wajahnya pada Auristella.


Auris mengerutkan keningnya, "what's wrong with me?" tanyanya.


Aurora tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Auris, Auris menghela nafasnya lalu memandang Aurora dari atas sampai bawah.


"Aurora" ucap Auris pelan.


Aurora mendengar namanya disebut oleh pianis favoritnya merasa sedikit senang dan rasanya dia ingin melompat dan berteriak agar semua orang tahu betapa bahagianya dirinya.


Aurora baru menyadari bagaimana bisa Auris mengetahui namanya jika ini adalah pertemuan pertama mereka.


Aurora mengangkat kepalanya, "nona, darimana anda mengetahui namaku?" tanyanya.


"Aku melihat name tag di bajumu" jawab Auris menunjuk name tag dengan jarinya.


Aurora mengangguk kecil, "kenapa anda ada di sini?" tanyanya lagi.


Auris duduk di sebelah Aurora, "aku sedang keliling dan melihat-lihat sekolah ini" ucapnya.

__ADS_1


"Maafkan aku!" ucap Aurora pelan.


"Maaf untuk?" tanya Auris mengerutkan keningnya.


"Karena telah melempar kaleng pada kepalamu,"


Auris tertawa kecil, "take it easy!" ucapnya.


Aurora mengangkat satu alisnya, "kenapa anda tertawa?" tanyanya.


"Aku merasa gaya bicaramu lucu dan itu sangat aneh di telingaku ketika kau berbicara formal padaku" ujar Auris.


"Maaf jika gaya bicaraku sangat aneh tapi anda lebih tua dariku dan anda adalah guru di sini" papar Aurora.


"Jangan berbicara formal denganku!" ujar Auris tegas tanpa penolakan.


"Baik" balas Aurora pelan.


Mereka duduk dalam keadaan hening tidak ada satupun di antara mereka yang ingin memulai obrolan.


Aurora meremas ujung roknya ia begitu gugup duduk di dekat idolanya, bayangkan saja fans mana yang akan menolak duduk bersama dengan idola mereka.


Aurora ingin memulai obrolan dengan Auris mulai dari musik, konser, dan semua hal tentang Auris, sayangnya ia tidak memiliki keberanian.


"Kenalkan aku Auristella, kau bisa memanggilku madame Auris!" ujar Auris ramah mengulurkan tangannya.


Aurora melihat uluran tangan Auris bingung dan sedikit ragu untuk membalas jabat tangan Auris.


"Aku merasa tidak pantas untuk menyentuh tanganmu" ucap Aurora pelan.


"What! I'm not a god! I'm human too like you" teriak Auris lantang.


Mata Aurora terbelalak melihat Auris berteriak begitu lantang, untung saja cuma mereka berdua yang berada di belakang sekolah jadi tidak ada satu pun yang mendengar teriakannya.


Auris yang menyadari suara teriakan langsung merubah ekspresi wajahnya, "maaf" ucapnya.


Aurora menggaruk tengkuknya, "untuk?" tanyanya.


"Yang barusan,"balas Auris.


"Tidak apa-apa!" balas Aurora memandang langit.


"Aku tahu suara teriakanku mengganggu tapi aku sangat tidak suka ketika kau mengatakan tidak pantas menyetuh tanganku, kau tahu semua orang di dunia ini sama" ujar Auris lugas.


"Cuma sebagian orang yang berpikir sama sepertimu nona," ucap Aurora tersenyum kecut.


"Tidak semua orang berpikir seperti itu" bantah Auris.


"Tentu saja anda tidak mengalami hal itu karena anda berasal dari kalangan atas, dan anda tidak tahu bagaimana rasanya karena aku sudah pernah mengalaminya!" ujar Aurora yang tersenyum manis pada Auris.

__ADS_1


Auris bungkam dan tidak bisa berkata apa-apa, ia tahu senyuman yang ditampilkan oleh Aurora adalah senyuman palsu, jika orang lain melihatnya mereka pasti berpikir itu senyum bahagia tapi tidak dengan Auris.


Mereka kembali diam sampai suara dering telepon Aurora berbunyi yang tertera nama kak Revan sebagai penelpon


Aurora mengangkat teleponnya, "hallo kak, ada apa?" tanya Aurora tanpa basa-basi.


"Rora, kau dimana?" tanya Revan balik.


"Aku sedang di sekolah kak," jawab Aurora.


"Rora, apa kau tahu ini sudah jam berapa?" ucap Revan.


Aurora tidak menjawab pertanyaan Revan, sampai lamunannya buyar karena suara teriakan Revan dari seberang sana.


"Rora!" teriak Revan.


"Iya kak!" balas Aurora cepat.


"Ra, cepat pulang sekarang ini sudah hampir gelap" ucap Revan.


Aurora melihat ke atas langit yang sudah berubah menjadi senja, Aurora menepuk jidatnya, "sial aku lupa jemput Sean" ucapnya.


"Ra, pulang sekarang!" ucap Revan tegas.


"Aku akan pulang kak, aku jemput Sean dulu,"


"Tidak perlu, aku sudah menjemputnya, pulang sekarang!" ucap Revan mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Aurora berdengkus kesal Revan mematikan telepon secara sepihak, Aurora beranjak dari duduknya dan berbalik menghadap Auris.


"Nona, maaf aku harus pergi!" ujar Aurora.


"Apa mau aku antar?" tawar Auris.


"Tidak perlu nona," tolak Aurora halus.


"Biarkan aku mengantarmu pulang ini sudah hampir gelap,"


"Terimakasih atas tawaranmu, tapi aku tidak ingin merepotkan dirimu, permisi nona!" ujar Aurora sopan.


Aurora melangkah kakinya dan  meninggalkan Auris sendiri di taman belakang sekolah.


"Padahal aku ingin mengobrol lebih lama denganmu," ucap Auris lirih.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.

__ADS_1


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update


__ADS_2