
Seorang gadis dengan gaya rambut ponytail dan make up tebal yang dipoles di wajahnya berjalan di koridor sekolah dengan percaya diri, banyak orang yang memperhatikan dirinya dan membicarakannya.
"Bukannya itu Helen?"
"Dia udah masuk gue sangka dia gak akan pernah balik lagi kemari"
"Dasar enggak punya malu"
"Pantas anaknya gitu emaknya aja pelacur"
"Dasar *****"
Gadis itu adalah Helen setelah satu minggu dia diskors akhirnya ia kembali bersekolah seperti biasanya.
Helen terus berjalan dengan mengepalkan tangannya menahan emosi ketika mendengar orang-orang berbicara buruk tentangnya.
Ia memilih untuk tidak peduli jika saja ia meladeni mereka pasti dia akan kembali diskors dan pasti itu akan membuat ibunya marah padanya.
Helen pulang ke rumahnya, ia melihat pintu rumahnya yang tidak terkunci berpikir maling masuk ke dalamnya. Helen berjalan khawatir ia memeriksa setiap barang yang ada di rumahnya namun, tidak ada satupun barang yang hilang dan hal itu berhasil membuatnya bingung.
"Ahhhh.....faster baby......"
Helen mendengar suara ******* dan tentu saja ia tahu siapa pemilik suara ******* tersebut yaitu ibunya. Helen mengepalkan tangannya marah tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah satu jam ia duduk di sofa ia melihat ibunya mengantar seorang pria keluar bahkan ibunya tidak menyadari kehadirannya.
"Hati-hati sayang," ucap ibu Helen genit melambaikan tangannya.
Ibu Helen masuk ke dalam dan betapa terkejutnya ia mendapat sorotan sinis dari putrinya.
"Ngapain kamu di situ?" tanya ibunya.
"Mama kira ngapain lagi aku di sini selain menunggu mama selesai melayani pria itu," teriak Helen kuat.
"Tidak usah berteriak sama mama! Kenapa kamu di sini seharusnya kamu di sekolah?" tanya ibunya.
"Aku diskors," balas Helen santai.
"Apa....diskors? Apa yang kau lakukan sampai diskors hah!" teriak ibunya menjambak rambut Helen.
Helen merasa akar rambutnya akan terlepas dari kepalanya, "mama, ini sakit tolong lepasin," rengek Helen berharap ibunya berhenti.
Ibunya menarik tangannya dan menyeret dirinya, ia membuka sebuah pintu lalu mencampakkan tubuh Helen ke dalam.
"Mama harap kamu bisa menyadari kesalahanmu," ujarnya menutup pintu.
Helen bangkit dan menggedor pintu, "mama, tolong buka Helen takut gelap. Mama......" teriaknya sambil menangis ketakutan.
Seberusaha apapun Helen berteriak ibunya tidak sama sekali peduli, Helen merintih kedinginan di bawah lantai dan kegelapan yang menyelimuti ruangan.
Helen berjalan masuk ke dalam kelas, ia duduk dan meletakkan kepalanya di atas meja dengan tas sebagai penutup kepala. Baru saja Helen menutup matanya ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
Helen membuka matanya dan melihat siapa orang yang duduk di sebelahnya, bisa ia lihat orang yang duduk di sebelahnya adalah Alice.
"Hi Helen, how are you?" tanya Alice basa-basi.
"Fine," jawab Helen ketus.
"Selama kau diskors banyak yang berubah," ucap Alice pelan.
"Terus apa hubungannya dengan aku?" tanya Helen dingin.
"Lo tahu Citra dia semakin berani dan ngelunjak, itu anak harus dikasih pelajaran bukan?" papar Alice tersenyum smirk.
"Jika lo ingin kasih itu anak pelajaran mending lo lakuin sendiri aja jangan ajak gue," balas Helen tegas.
"Helen, it's not you. Helen yang gue kenal adalah pemberani dan buat orang takut padanya."
"Itu Helen yang dulu, gue enggak akan pernah lupa bagaimana lo bisa kabur dan bebas dari hukuman dan gue terpaksa menanggungnya sendiri. Alice, sebenarnya lo manfaatin gue untuk bully orang dan jika ketahuan otomatis yang nanggung adalah gue, lo cewek licik yang pernah gue kenal," ucap Helen dingin.
"Jika lo enggak mau lakuin gue akan sebar foto ibu lo yang melayani pria," ancam Alice tersenyum manis.
"Silakan saja i'm not afraid. Gue juga akan balas dengan sebar berita bahwa ternyata ibu lo seorang pelakor Alice," ancam Helen balik tersenyum kemenangan.
Alice kalah telak dengan Helen dan bagaimana bisa Helen mengetahui jika ibunya adalah perebut suami orang bahkan teman-temannya saja tidak mengetahuinya selain dia dan kakaknya.
Alice berdecak kesal ia bangkit dari duduknya dan menghentakkan kakinya dan melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
"Baru diancam gitu aja takut, dasar penakut," gumam Helen tersenyum smirk.
...πππ...
__ADS_1
Seorang guru yang memakai setelan jas dan kacamata yang bertengger di hidungnya, tangannya begitu lincah menulis rumus matematika di papan tulis bisa dilihat betapa semangatnya ia dalam mengajar murid-muridnya.
Namun, itu berbanding terbalik dengan muridnya, mereka tidak tertarik sama sekali apa yang guru itu tulis. Mereka bosan mendengar dan melihat guru itu menerangkan rumus matematika pada mereka.
Ada yang berpura-pura memahami penjelasannya tapi kenyataannya ia tidak mengerti sama sekali, dan ada juga murid yang acuh tak acuh dan ada juga yang memilih tidur dengan begitu santainya.
Guru tersebut yang melihat ada murid yang tertidur di kelasnya merasa kesal, ia melemparkan penghapus pada murid tersebut dan berhasil mengenai kepalanya.
"Aduh....." ucap murid tersebut mengusap kepalanya.
Murid-murid lain yang melihat gadis tersebut dilempar penghapus berusaha menahan tawa mereka dan sedikit merasa kasihan pada gadis tersebut.
"Bagus kamu tidur di kelas saya. Kamu kerjakan soal yang ada di papan tulis sekarang!" perintah guru itu tegas.
Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak sama sekali gatal, "ibu, saya yang ngerjain?" tanyanya.
"Iya kamu. Siapa lagi yang ngerjain jika bukan kamu" ucap guru galak.
Gadis tersebut terpaksa maju ke depan mengerjai soal tersebut, ia diam dan memandang papan tulis tersebut untuk beberapa saat tapi tetap saja otaknya tidak mengerti.
"Ibu, saya enggak ngerti," ucap gadis tersebut begitu santai.
Guru tersebut mengepalkan tangannya berharap ia bisa mengendalikan emosinya menghadapi murid seperti ini tapi tetap saja ia tidak sesabar itu.
"Aurora Diandra Charity keluar!" teriaknya lantang.
Aurora yang dihukum keluar merasa sangat senang, ia tidak perlu berlama-lama mendengar penjelasan guru yang begitu membosankan.
"Terimakasih ibu," ucapnya girang dan berlari keluar.
Guru tersebut terdiam mencerna apa yang sedang terjadi, sedangkan murid-murid lain berdecak kagum dengan keberanian yang dimiliki Aurora.
"Memang anak zaman sekarang disuruh keluar malah senang, zaman ibu dulu kalau dihukum pasti udah malu," omel guru tersebut.
Murid-murid menutup telinga mereka sangat rapat, mereka begitu malas mendengar omelan guru tersebut yang begitu menyakitkan telinga.
...***...
Aurora berjalan begitu santai di koridor yang begitu sepi karena ini jam pelajaran maka tidak ada satupun murid yang berlalu lalang di koridor.
"Mending pergi ke taman belakang aja pasti enak tidur di sana," ujarnya melangkah kakinya.
Aurora berjalan menuruni anak tangga dengan bersenandung kecil, ia pergi ke taman belakang. Baru saja ia tiba bisa ia rasakan angin sepoi-sepoi yang membelai rambutnya.
Seorang pria yang selalu menggunakan topeng, melihat ia tertidur pulas membuat siapapun ingin berlama-lama melihat wajahnya.
Aurora menarik sudut bibirnya tipis, "kak Galaksi tidur gini aja tampan," ucapnya pelan memperhatikan wajah Galaksi.
Galaksi menggeliat merasa terganggu sinar matahari mengenai wajahnya, Aurora melihat Galaksi tidak nyaman dengan sinar matahari langsung melindungi Galaksi dengan kedua tangannya menghalau sinar matahari.
Aurora memandang wajah Galaksi begitu dekat, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik dan hal yang menarik dari Galaksi adalah bibir tebalnya yang seksi.
"Lihat kak Galaksi tidur damai seperti melihat dewa," ucap Aurora terkekeh kecil.
Galaksi membuka sebelah matanya dan melihat Aurora yang melindunginya dari sinar matahari berhasil membuat ia tersenyum.
Aurora yang menyadari Galaksi terbangun dari tidurnya begitu terkejut dan itu berhasil membuat ia terjatuh.
Aurora jatuh tepat di dadanya Galaksi, Aurora mengangkat pandangannya manik matanya bertemu dengan manik mata Galaksi.
Mereka saling menatap satu sama lain manik mata coklat Aurora membuat Galaksi sangat menyukai matanya.
Aurora sadar langsung bangkit dari dadanya Galaksi, "maaf kak, kakak baik-baik saja, kan?" tanyanya panik.
Galaksi bangkit dan duduk menatap Aurora intens, "tentu saja i'm not okay" ucapnya.
"Maaf kak, Rora enggak saja, swear!" ucapnya dengan jari membentuk huruf V.
Galaksi tertawa melihat Aurora yang begitu menggemaskan, dia secara reflek mengacak rambutnya Aurora.
Aurora mengernyitkan keningnya, "kakak kenapa tertawa ada yang lucu ya?" tanyanya.
Galaksi mengangkat bahunya santai dan menepuk bangku kosong di sebelahnya, "ayo duduk di sini," ujarnya.
Aurora duduk di samping Galaksi dengan jarak 5 cm, Aurora berbalik dan wajahnya terlalu dekat dengan Galaksi. Pipi Aurora bersemu merah dan ia langsung membuang mukanya.
Galaksi tertawa kecil melihat pipi Aurora yang merah seperti kepiting rebus, "tupai," ejeknya.
"Kakak bilang apa barusan?"
"Tupai, kenapa ada masalah?" tanya Galaksi balik menggedikan bahunya.
__ADS_1
"Aku bukan tupai," teriaknya yang berhasil membuat wajahnya memerah.
"Kalau kau bukan tupai terus ini apa?" ucap Galaksi menunjuk wajah Aurora yang sudah memerah.
"Ini...."
"Ini apa! Hem...." goda Galaksi yang membuat Aurora membuang mukanya.
"Tupai, ternyata kau imut juga," ujar Galaksi mengacak rambut Aurora.
Aurora diperlakukan seperti itu merasa seakan kupu-kupu sedang terbang di perutnya, dan kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar secara tidak karuan.
"Tupai," panggil Galaksi pelan.
"Apa!" balasnya ketus.
"Kenapa kau di sini? Kau bolos?"
"Enggak, aku dihukum."
Galaksi mengangguk kepalanya dan beroh-ria.
"Dan kakak kenapa di sini?" tanya Aurora penasaran.
"Biasa," balas Galaksi singkat.
Bibir Aurora membentuk huruf O dan ia juga mengangguk pelan. Suasana di antara mereka hening dan tidak ada satupun dari mereka yang ingin mencoba membuka suara.
Galaksi mengeluarkan suara seraknya, "Aurora," panggilnya.
Aurora menoleh dan mengernyitkan dahinya, "apa kak?" tanyanya.
"Mau bolos bersamaku?" tanya Galaksi menyunggingkan senyumnya.
Aurora terdiam dan mencerna semua pertanyaan Galaksi. Galaksi melihat Aurora terdiam tertawa melihat ekspresinya yang lucu dan mengacak rambutnya.
"Ih kakak, rambut Rora jangan diacak," protes Aurora melipat kedua tangannya.
"Diam artinya setuju," putus Galaksi yang langsung menarik salah satu tangan Aurora.
Aurora melihat tangannya ditarik tidak berbuat apa-apa dan malah membiarkan Galaksi membawanya.
Mereka di parkiran Galaksi menaiki motornya dan menyerahkan helm untuk Aurora. "Pakai Ra," ucapnya.
Aurora memakai helm dan menaiki motor Galaksi walaupun dia sedikit kesusahan karena motornya yang sangat tinggi.
Galaksi melihat Aurora yang sudah naik dan duduk dengan tenang melalui spion langsung menghidupkan mesin motornya.
"Kak, emang satpam mau buka pagar untuk kita?" tanya Aurora.
"Kau lihat saja Ra," balas Galaksi tenang.
Seorang satpam yang melihat motor berjalan ke arahnya langsung saja berdiri menghalangi mereka agar tidak membolos.
"Stop!" teriak satpam.
Galaksi membuka kaca helm, "Pak, buka pagarnya tolong," ujarnya begitu santai.
Aurora tidak percaya dengan apa yang ia dengar bagaimana bisa Galaksi begitu santainya meminta satpam membuka pagar untuk mereka dan yang lebih parahnya lagi satpam itu mau saja membuka pagar untuk mereka.
"Makasih pak," ucap Galaksi kembali menjalankan mesin motornya.
Galaksi menjalankan motornya keluar dari gerbang sekolah dengan begitu santainya bahkan satpam saja membiarkan dirinya membolos.
"Kak Aksi!" panggil Aurora keras.
"Apa?" tanya Galaksi juga keras.
"Kok satpam itu mau aja bukain pagar buat kakak?" tanya Aurora polos.
"Of course i'm Galaksi Oliver Phoenix," balasnya percaya diri.
Mendengar Phoenix Aurora menghela nafasnya dan menggerutu, "bagaimana aku bisa lupa jika dia adalah putra pemilik sekolah!" ucapnya pelan.
Galaksi diam dan fokus pada jalan di depannya sedangkan Aurora dia menikmati semilir angin yang menghembus rambutnya.
Tiba-tiba ada satu pertanyaan yang terlintas di benak Aurora, "kak Aksi ingin bawa aku kemana?" tanyanya di dalam hati
Hi guys
Kira-kira Galaksi ingin bawa Aurora kemana?
__ADS_1
Ada yang tahu tolong jawab di kolom komentar.