
Seorang gadis cantik yang sedang berias di depan cermin, ia mengoleskan bedak tabur dan sedikit sentuhan warna lip tint pada bibirnya dan tidak lupa pula mengucir rambutnya.
Selesai berias Aurora memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu.
Aurora merapikan sedikit ruang tamunya karena terlihat berantakan, selesai merapikannya Aurora keluar dari unitnya, ketika dia akan menutup pintu ia dapat melihat Sean dan Revan yang baru saja keluar.
"Kakak" panggil Sean riang langsung memeluk Aurora.
"Sean, bagaimana tidur Sean kemarin? Pasti Sean tidur nyenyak, kan?" ucap Aurora mengelus surai rambut Sean.
"Iya, Sean tidur sambil pelukan sama kak Revan" ucap Sean bersemangat.
"Ahhh Sean, Sean tahu kakak tidak bisa tidur " keluh Aurora.
"Ya kakak kasihan! Sean tidur nyenyak sama kak Revan" ejek Sean menampilkan deretan giginya.
Revan mendengar pembicaraan kakak beradik itu geleng-geleng kepala, "ehemm..." dehem Revan.
Sean dan Aurora berhenti bicara dan beralih menatap Revan yang bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangannya.
"Apa kalian sudah selesai? Aku hampir lumutan menunggu kalian" sindir Revan.
"Maaf kak," ucap Aurora menyentuh daun telinganya.
"Karena kakak orang baik jadi enggak kakak maafin," seloroh Revan.
Aurora mengerucutkan bibirnya layaknya anak kecil yang kesal pada ibunya, Revan begitu gemas langsung menarik pipi Aurora.
"Kakak," decak Aurora kesal.
"Maaf Ra, soalnya kamu gemes" balas Revan tersenyum cengengesan padanya.
"Udah Aurora mau berangkat, kakak antar Sean" ujar Aurora.
"Ra, tunggu" ucap Revan memegang pergelangan tangan Aurora.
Aurora berbalik da menatap tangan Revan, "why?" tanyanya.
"Berangkat bareng aja" ucap Revan.
"Tapi kak...."
"Udah ayok" putus Revan tanpa penolakan.
Aurora menuruti perkataan Revan, ia berangkat bersama dengan Revan dan Sean. Mereka berjalan menuju parkiran Aurora duduk dengan memangku Sean di pahanya, lalu Revan masuk.
Selama perjalanan di isi dengan obrolan Sean dan Revan, dan suara senandung Aurora.
Tiba di TK Aurora keluar dengan menggandeng Sean tidak disangka Revan juga menggandeng salah satu tangan Sean.
Untung saja Aurora memakai seragam sekolah, jika orang-orang melihat mereka pasti mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang mengantar anaknya sekolah.
"Sean, jangan nakal dan dengerin kata guru" ujar Aurora lembut.
"Iya Sean, jika ada yang ganggu Sean hajar aja" ucap Revan yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Aurora.
"Sean, jangan dengerin kak Revan" ucap Aurora.
"Tapi kakak pernah bilang Sean juga harus dengerin perkataan kak Revan, tapi kenapa kakak larang Sean dengerin kak Revan?" tanya Sean polos.
"Sean, lupakan saja! Masuk sana!" ujar Aurora yang tidak ingin melanjutkan obrolan ini.
Sean mengerucutkan bibirnya dan masuk ke kelasnya, Aurora berbalik dan melayangkan tatapan tajam pada Revan.
Revan yang ditatap malah tersenyum nyengir, "apa Ra?" tanyanya.
"Kakak jangan ajarkan Sean seperti itu! Bagaimana jika dia memukul temannya?" ucap Aurora emosi.
"Kalau dia pukul temannya otomatis pasti kita dipanggil hore....." seloroh Revan.
"Ih... kakak nyebelin banget!" decak Aurora kesal.
Aurora melangkah kakinya menuju parkiran, Revan yang baru menyadari bahwa Aurora meninggalkannya langsung menyusulnya.
Revan masuk ke dalam mobil bisa ia lihat Aurora sudah berada di mobilnya. Revan menancap gas lalu mobil meninggalkan pekarangan TK, tidak ada satu pun di antara mereka yang berbicara, cuma terdengar suara musik mengisi keheningan di antara mereka.
Revan mengetuk jarinya pada stir, "Ra," panggilnya.
Aurora menoleh, "iya kak," balasnya.
"Masih ngambek sama kakak?" tanya Revan.
"Enggak, siapa yang ngambek" balas Aurora memandang jalanan.
"Dari mukanya aja udah nampak kalau kamu lagi ngambek sama kakak" ujar Revan.
"Iya, aku marah sama kakak" balasnya cepat.
"Why? Can you tell me?"
"Kenapa kakak mengajarkan Sean untuk menghajar orang? Bagaimana jika Sean benar-benar melakukan itu" ucap Aurora beruntun.
Revan menghembuskan napasnya kasar, "Ra, dengerin kakak! Alasan kakak bilang seperti itu pada Sean karena Sean pernah cerita sama kakak kalau teman-teman sekelasnya selalu mengejeknya" ucapnya.
__ADS_1
"Maksud kakak apa?"
"Ra, ketika kami tidur bersama Sean bilang sama kakak jika dia tidak ingin sekolah, mau tahu kenapa? Karena teman-temannya mengejeknya tidak punya orang tua bahkan Sean pernah didorong oleh temannya," jelas Revan dengan nada rendah.
"Kenapa Sean tidak pernah cerita sama aku kak?" tanya Aurora dengan suara seraknya.
"Dia tidak ingin kau khawatir"
"Tapi tetap saja aku harus tahu kak" ucap Aurora penuh penekanan.
"Dia tidak ingin kau mengkhawatirkan dirinya, dan juga ia tidak ingin merepotkan kakaknya," ucap Revan.
"Tetap aja, Sean harus beritahu aku bagaimanpun aku keluarganya," ucap Aurora ketus.
Revan bungkam dan tidak berkata apa-apa begitu juga dengan Aurora, mereka tidak ada yang buka suara sampai mobil berhenti di depan gerbang sekolah.
"Ra, kita sudah sampai" ujar Revan.
"Terimakasih kak" ucap Aurora dingin lalu keluar dari mobil.
Aurora berjalan sudah banyak orang yang menatapnya dengan tatapan sinis, ia berusaha biasa saja dan terus berjalan tapi terkadang beberapa orang akan menabrak bahunya secara sengaja.
"Woi" teriaknya tapi orang yang menabrak bahunya berjalan begitu saja tanpa menoleh ke arahnya.
Aurora menghentakkan kakinya kesal memandang punggung orang yang menabraknya, "itu orang nyebelin banget sih" decaknya.
Aurora melanjutkan langkahnya masuk ke kelasnya, selama dia berjalan ia bisa mendengar bisikan-bisikan orang yang menceritakan dirinya.
"Cih ternyata ia masih punya malu menunjukkan wajahnya"
"Jika aku jadi dia aku pasti tidak berani menunjukkan wajahku di sini"
"Tentu saja ia tidak punya malu soalnya urat malunya sudah putus"
Aurora bisa mendengar bisikan penghinaan untuknya ia berusaha untuk tidak mempedulikan hal itu.
Ia tahu alasan kenapa banyak orang memperlakukan ia seperti ini, tentu saja itu semua karena gosip mengenai Aurora menusuk Felix tersebar begitu cepat yang pasti disebarkan oleh orang ekstrakurikuler siaran radio.
Aurora mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak mempedulikan orang-orang yang terus memandangnya dengan tatapan sinis sampai seorang gadis dengan bedak tebal menyiramkan air pada tubuhnya yang berhasil membuat seluruh tubuhnya basah karena air.
"Maksud kalian apaan hah!" teriak Aurora lantang yang berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Gadis dengan bedak tebal yang didampingi oleh dua dayangnya malah tertawa keras seperti tertawa kuntilanak.
"Tadi lo bilang apa hah? Gue enggak dengar" ejek gadis rambut merah.
"Aku katakan sekali lagi kenapa kalian menyiramku dengan air!" teriak Aurora lantang dengan mata yang memerah.
"Maksud lo apa hah nusuk Felix! Lo mau cari perhatian semua orang sampai harus nusuk Felix segala" teriak gadis berambut merah.
"Kalau lo mau cari perhatian jangan di sini tapi di club' aja sana," ejek gadis bedak tebal.
"Punya mulut enggak!" teriak gadis tersebut menarik rambut Aurora.
Aurora merasa rambutnya yang akan terlepas dari kepalanya, ia tidak tinggal diam ia membalas menarik kembali rambut gadis itu.
Para teman-teman gadis itu melihat Aurora menarik rambut temannya langsung menahan tangannya, Aurora tidak bisa melawan.
"Kalian semua pengecut mainnya bawa orang satu kampung kalau berani lawan dengan tangan kosong" teriak Aurora lantang.
"Beraninya lo sama kita"
"Beranilah, orang kalian cuma mental tempe"
Gadis tersebut emosi ia menarik rambut Aurora kuat sampai ke akarnya sampai Shawnette dan yang lainnya datang.
Shawnette melihat rambut Aurora ditarik langsung saja melepaskan tangan gadis bedak tebal secara kuat, Xylona mendorong dua gadis yang menahan Aurora secara kasar.
"Siapa lo semua hah? Berani ya sama kita" teriak gadis rambut merah lantang.
"Beranilah masa enggak" balas Citra memandang mereka sinis.
"Oh ternyata lo Citra. Udah berani ya lo sama kita" ucap Gladis menarik rambut Citra.
Citra tertawa remeh, "jelas gue berani soalnya kalian itu cuma modal mental tempe eh bukan deh tapi mental sampah" ucapnya menarik tangan Gladis lalu memutarnya sampai terdengar suara bunyi retak dari tulangnya.
Gladis merasa sakit pada tangannya dan merasa ia mengalami patah tulang, Citra memandang remeh dan tersenyum smirk.
"Kalau aku mau aku ingin mematahkan semua tulangmu dan membuatmu lumpuh bahkan rumah sakit mana pun tidak ada yang bisa menyembuhkannya" ucap Citra tersenyum smirk.
Teman-teman Gladis tidak ada niat ingin membantunya yang ada mereka malah diam dan merasa takut pada Citra.
Semua orang tidak mempercayai jika Citra mematahkan tulang Gladis, mereka berpikir bagaimana bisa korban bully sepertinya bisa berubah seperti ini.
"Cih ternyata memang benar mereka modal tempe doang" ujar Xylona remeh.
"Aku sangka dia hebat tapi baru aku sentil doang udah down" sambung Citra dengan nada remeh.
"Thanks" ucap Aurora merapikan rambutnya.
"No problem" balas Shawnette.
Aurora mengalihkan pandangannya ke gadis bedak tebal yang berdiri di depannya yang berjarak sekitar 5 cm.
__ADS_1
Aurora berjalan dengan tenang lalu berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis padanya.
"Loser" ejek Aurora.
"Maksud lo apa!" teriak gadis tersebut lantang.
"You're loser, you know" balas Aurora remeh.
Gadis itu bungkam dan tidak berkata apa-apa, ia melihat Shawnette dan lainnya yang memeragakan gerakan memotong leher berhasil membuat ia ketakutan.
Terdengar suara high heels menuju ke arah koridor dan semua orang tahu siapa yang berjalan kemari, tentu saja ibu Jennie dengan penggaris rotan kebanggaannya.
"Ada apa ini?" teriak ibu Jennie lantang
Tidak ada yang menjawab pertanyaan ibu Jennie sampa ia memandang Gladis yang menyentuh tangannya dengan gemetar.
"Kamu kenapa?" tanya ibu Jennie.
"Tangan saya dibuat patah bu sama Citra" jawab Gladis menunjuk Citra dengan telunjuknya.
Ibu Jennie menghembuskan nafasnya kasar, "Citra datang ke kantor ibu" ucapnya lalu mengalihkan pandangannya ke Aurora, "kamu juga ke ruangan ibu sekarang" ujarnya.
"Kembali ke kelas sekarang" teriak ibu Jennie.
"Huuuuu...." sorak para murid
Semua orang langsung bubar dan kembali ke kelas mereka masing-masing.
Citra dan Aurora terpaksa berjalan mengikuti ibu Jennie ke ruangannya, mereka masuk dan duduk di hadapan ibu Jennie.
"Citra, apa kamu bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya ibu Jennie tenang.
"Ibu, buat apa basa-basi jika pada akhirnya ibu pasti akan memberikan saya hukuman" balas Citra.
"Citra, jaga bicaramu pada saya" ucapnya dingin.
"Citra, hukumanmu adalah membersihkan halaman sekolah selama satu minggu" putus ibu Jennie.
Ibu Jennie mengalihkan tatapannya ke Aurora, "dan kamu, ibu tidak percaya kamu bisa menusuk Felix" ucapnya.
"Bu, Felix duluan yang mencari masalah bukan saya" bela Aurora.
"Ibu tidak peduli dengan alasanmu, ibu akan memberikan hukuman skors"
"Ibu, enggak bisa gitu dong. Felix yang salah bukan saya" protes Aurora.
"Itu hukuman yang paling ringan asal kamu tahu, kamu tahu ibunya Felix ingin mengeluarkan kamu dari sekolah ini tapi hanya karena pak Adam makanya kamu tidak dikeluarkan" jelas ibu Jennie.
"Tapi tetap saja bukan saya yang salah" ucap Aurora membela dirinya.
"Ibu tidak ingin mendengar alasan apapun, silakan kamu keluar dan begitu juga denganmu Citra" ujar ibu Jennie.
Citra dan Aurora keluar dari ruangan ibu Jennie. Aurora menghentakkan kakinya kasar pada lantai, Citra melihat Aurora mengerti bagaimana perasaan kesalnya.
Citra menepuk pundak Aurora, "udah enggak usah di pikirkan" ujarnya.
"Kak, aku bukan kesal karena aku diskors tapi Felix yang salah malah aku yang dihukum" ucap Aurora emosi.
"Kenapa sebut nama gue" teriak seorang pria.
Mereka berbalik dan bisa melihat Felix yang berdiri bersandar pada dinding dengan rokok di mulutnya.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Citra.
Felix melemparkan rokok sembarangan, "Ngapain ya? Tentu saja lihat dia" balas Felix menunjuk Aurora.
"Buat apa lihatin aku?" tanya Aurora dingin.
"Kau pasti kesal karena diskors, makanya jangan macam-macam sama aku sayang" ujar Felix yang malah menyentuh surai rambut Aurora.
Aurora merasa risih ia menghempaskan tangan Felix kasar dari rambutnya.
"Aku malah berterimakasih sama kak Felix karena berkat kakak aku bisa libur" ucap Aurora.
Aurora memasukkan tangannya ke dalam saku dan merogoh isi sakunya, "sebagai ucapan terimakasih, aku akan memberikan hadiah untuk kakak" ucapnya.
"Hadiah apa yang ingin kau berikan sayang" ucap Felix.
Aurora mengeluarkan pepper spray dari sakunya lalu menyemprotkan cairan itu ke Felix yang berhasil mengenai matanya.
"Ini hadiah dariku sayang" ejek Aurora.
Aurora dan Citra berlari meninggalkan Felix yang matanya sudah perih terkena semprotan merica.
"KEMBALI KAU KEMARI" teriak Felix lantang.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update
__ADS_1