Fille Forte

Fille Forte
Percakapan


__ADS_3

Suara musik yang cukup keras yang membuat siapapun menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama musik, sebuah tempat dimana orang-orang mencari kesenangan ada yang cuma minum-minum dan ada yang sedang mencari mangsa.


Seorang pria yang duduk di sebuah meja bar sembari meneguk alkohol dan sekali-kali mengeluarkan perkataan yang tidak dimengerti.


Seorang bartender memintanya untuk berhenti minum karena ia sudah banyak minum, tapi pria itu tidak mempedulikan hal itu yang dipikirkannya adalah ia ingin melupakan semua masalahnya untuk sejenak saja.


Selama ia minum ada seorang wanita dengan pakaian minim dengan dada terbuka mendekatinya.


"Apa kau ingin aku memuaskanmu?" tanya wanita itu dengan suara centilnya merangkul lengan pria tersebut.


Pria itu tidak mempedulikan wanita itu, ia terus meneguk alkohol wanita itu tidak menyerah begitu saja ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, kapan lagi dia bisa tidur dengan pewaris keluarga Phoenix.


Pria itu adalah Galaksi dengan topeng yang selalu ia kenakan, walaupun wajahnya buruk rupa banyak wanita yang rela tidur dengannya karena ia adalah pewaris keluarga Phoenix.


Galaksi meneguk minumannya kasar, "hidup memang tidak adil," rancaunya.


Galaksi melepaskan tangan wanita tersebut secara kasar dan bangkit dari duduknya dan menatap sinis wanita yang berada di sampingnya, wanita yang ditatap Galaksi merasa takut melihat tatapan tajamnya.


"Jika kau masih punya harga diri tinggalkanlah tempat ini karena dirimu tidak pantas berada di sini," ucap Galaksi dengan nada sinis.


Galaksi melangkah kakinya meninggalkan club' walaupun jalannya sedikit lunglai dan terkadang ia akan menabrak orang.


Galaksi masuk ke dalam mobil yang sudah terdapat supir di dalamnya, supir itu menjalankan mobilnya pergi meninggalkan club.


Mobil berjalan selama 1 jam tibalah di sebuah mansion yang megah, supir itu membuka pintu untuk tuannya.


Galaksi keluar begitu kasar dan supir itu cuma bisa mengelus dadanya sabar menghadapi anak majikannya yang dalam kondisi mabuk.


Galaksi berjalan lunglai masuk ke dalam sekali ia akan terjatuh dan menabrak dinding, ketika Galaksi ingin menaiki anak tangga terdapat seorang pria paruh baya yang duduk menyilang kakinya di atas sofa menatap Galaksi.


"Kemana saja kau?" tanya Adam dengan suara berat.


"Bukan urusanmu!" balas Galaksi ketus.


"APA SEPERTI INI BICARA DENGAN ORANG TUA!" teriak Adam lantang.


Galaksi diam dan tidak berkutik, Adam yang memerhatikan Galaksi diam langsung mendekatinya ketika ia mendekat bisa ia rasakan aroma alkohol dari Galaksi.


"Kurasa aku tahu jawabannya," ucapnya menatap tajam Galaksi.


Plak.....


Adam melayangkan tangannya ke pipi Galaksi sampai membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Apa aku mengajarkanmu untuk mabukan seperti ini!" teriak Adam menarik kerah baju Galaksi.


"Seenggaknya dengan mabuk aku bisa mendapatkan ketenangan dan melupakan sejenak masalah yang aku hadapi," jawab Galaksi yang tidak kalah lantangnya.


Sekali lagi Adam melayangkan tamparannya ke pipi putranya, ia menatap Galaksi dengan tajam, "aku tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pengecut. Kau membuat malu nama keluarga Phoenix," ucapnya.


Vina melangkahkan kakinya menuruni anak tangga mendengar keributan di bawah, betapa kagetnya ia melihat suaminya menarik kerah baju anaknya.


Ia segera berlari mendekati mereka berdua, "Adam, apa yang kau lakukan!" ucapnya melepaskan tangannya dari Galaksi.


Vina memperhatikan setiap inci tubuh Galaksi, "sayang, are you ok?" ucapnya dengan nada khawatir menyentuh sudut bibir Galaksi.


Vina menatap tajam suaminya, "apa yang kau lakukan pada putra kita?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.


"Tanyakan saja kepada putramu itu apa yang ia lakukan. Bagaimana bisa ia pulang dalam keadaan mabuk seperti itu dan berkata secara kasar pada orang tuanya," ucap Adam dingin.


"Kalau ia melakukan kesalahan kita bisa membicarakan ini secara baik, kau tidak perlu menggunakan kekerasan padanya," bela Vina.

__ADS_1


"Jika kita terus membiarkan dirinya seperti ini aku yakin dia akan menghancurkan nama keluarga Phoenix," ucap Adam melayangkan tatapan tajamnya pada Galaksi.


"Putraku tidak akan menghancurkan nama keluarga Phoenix!" ucap Vina penuh penekanan.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Suruh putramu itu pergi ke sekolah, sudah cukup dia beristirahat," ucap Adam melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka berdua.


Vina langsung mengambil kota obat di dapur, ia membawa sebaskom air dan sapu tangan, Vina mengompres luka yang berada di sudut bibirnya.


"Ahhh...." desah Galaksi merasa perih.


"Kenapa kau mabuk? Kau tahu ayahmu sangat membenci alkohol,"


Galaksi tidak menjawab ocehan Vina, ia menutup matanya mendengar ocehan Vina.


Vina selesai mengobati luka Galaksi, "kau bisa pergi ke kamarmu sekarang, sayang!" ucapnya.


Galaksi bangkit dari duduknya, ia berjalan dalam keadaan kepalanya yang sangat pusing dan berjalan linglung.


Vina melihat anaknya berjalan seperti itu menghela nafasnya kasar, ia mendekat dan memegang bahunya Galaksi, "sini biar mama bantu!" ujarnya.


"Tidak perlu," balas Galaksi ketus.


Galaksi berjalan menaiki anak tangga meninggalkan Vina yang kebingungan melihat putranya.


Dia mengelus dadanya dan menghela nafasnya, "like father like son!" ucapnya pelan.


...***...


Aurora sedang berkutat-katit di dapur dia menyiapkan makan malam untuk anak-anak dan dibantu juga oleh Kila. Kila menatap Aurora dan merasa sedikit khawatir dengannya.


Aurora yang merasa terus ditatap langsung membuka suaranya, "Kenapa ibu terus menatapku seperti itu?" tanyanya sembari fokus memotong sayuran.


"Kenapa ibu mengkhawatirkan diriku?" tanyanya balik.


"Ibu takut kau akan melakukan hal-hal yang diluar kendali" jawab Kila lirih tanpa menatap Aurora.


"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan itu, aku tidak akan melakukan hal-hal yang berbahaya karena ada Sean bersama denganku," balas Aurora mengaduk sup.


Kila cuma bisa menghela nafas, dia sudah pusing memikirkan bagaimana cara agar Aurora mengerti. Ia memilih menyiapkan makan malam buat semua orang.


Aurora menata makanan di atas meja dan menuangkan air ke gelas. Kila memanggil anak-anak lainnya untuk turun makan malam.


Anak-anak turun dan duduk di kursi mereka masing-masing begitu juga dengan Sean Sebelum mereka makan, mereka berdoa terlebih dahulu sesuai yang diajarkan oleh Kila agar mereka bisa bersyukur atas apa yang mereka makan.


"Ayam buatan kak Rora memang terbaik," celetuk Angie memakan ayam goreng.


"Siapa dulu kakaknya Sean," saut Sean dengan bangga.


"Enggak, kak Rora itu kakak Angie bukan kakaknya Sean," timpal Angie yang tidak terima.


"Kak Aurora itu kakaknya Sean buktinya kami tinggal bersama dan kakak sering menceritakan dongeng sebelum Sean mau tidur," ujar Sean yang berhasil membuat Angie menangis.


"Huah…..huah…..kak Rora jahat, Sean dibacakan dongeng masa Anggi nggak!" ujar Angie terisak.


Aurora cuma bisa mengelus dadanya berharap ia sabar melihat dan menghadapi kelakuan mereka.


Aurora mencoba untuk menenangkan Anggi agar berhenti menangis, "Angie sayang berhenti nangis ya," bujuknya  mengusap punggung kecil Angie agar ia berhenti menangis.


"Nggak mau, kakak jahat masa Sean kakak bacakan dongeng sedangkan Angie enggak!" balasnya dengan sedikit berteriak.


"Jika Angie berhenti menangis kakak janji akan membacakan dongeng untuk Angie," ujar Aurora.

__ADS_1


"Janji?" ucapnya mengangkat kelingkingnya.


"Janji…" balas Aurora mengaitkan kelingkingnya dengan Angie.


"Yeah….. kak Rora bacakan Angie dongeng bleh…" ledek Angie menjulurkan lidahnya pada Sean.


Sean merasa kesal dan wajahnya sudah memerah menahan kesal kepada Angie.


Sean juga protes pada Aurora, "Kakak pokoknya Sean juga mau dibacakan dongeng,"ucapnya sedikit ketus.


"Iya sayang," balas Aurora mengelus dadanya.


Setelah semua orang selesai makan Aurora meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka walaupun weekend sekalipun, dan juga meminta mereka segera tidur jika sudah menyelesaikan PR mereka.


Aurora berada di kamar tempat anak-anak panti lainnya tidur dan sesuai janjinya pada Angie, dia akan membacakan dongeng untuk dia.


"Pada suatu hari hiduplah seorang putri yang memiliki kulit putih seperti salju dan bibir Semerah darah, dia dipanggil dengan sebutan snow white, ibunya meninggal ketika dia berumur sekitar 8 tahun dan ayahnya kembali menikah dengan seorang wanita cantik tapi sayang dia begitu terobsesi dengan kecantikan, sehingga snow white terpaksa meninggalkan istana…….."cerita Aurora pada Angie.


Aurora melihat Angie yang sudah tertidur menghentikan ceritanya, dia merapikan selimut Angie dan mencium kening gadis kecil tersebut, bukan Angie saja tapi semua anak panti yang berada di kamar itu Aurora perlakukan sama.


Aurora mematikan lampu dan berjalan pelan-pelan agar tidak ada yang terganggu, Aurora keluar dan berjalan ke kamarnya dan Sean.


Ketika ia berjalan ia melihat pintu kamar ibu panti terbuka dan lampu masih menyala, Aurora memeriksa kamar tersebut tapi baru beberapa langkah dia berjalan, dia bisa mendengar suara ibu panti sedang berbicara dengan orang lain.


Aurora mengurungkan niatnya untuk masuk dan dia memilih menguping pembicaraan ibu panti di luar.


"Tenang saja nyonya aku tidak akan pernah memberitahu siapapun mengenai Aurora," ucap ibu panti pada orang yang sedang dia telepon.


Aurora menutup mulutnya dengan tangannya mendengar pembicaraan ibu Kila dengan orang yang menelponnya.


"Apa maksud ini semua? apa ibu mengetahui sesuatu tentang aku dan siapa orang tua kandungku? tapi kenapa ibu menyembunyikan ini dariku?" pertanyaan itu keluar dari mulut Aurora.


"Nyonya, apa kau tidak ingin bertemu dengan putrimu Aurora? Dia pasti sangat senang," ucap ibu Syakila lirih.


Aurora mendengar kata nyonya yang berarti Aurora berpikir mungkin saja ibu Syakila sedang berbicara pada ibu kandungnya.


Aurora tidak mempercayai hal ini bagaimana mungkin Kila mengetahui orangtua kandungnya jika saja dia tidak diinginkan.


Ia berjalan mundur dan tanpa sengaja tangannya menjatuhkan vas yang berhasil membuat vas tersebut hancur berkeping-keping.


Aurora menutup mulutnya, "****, aku harus segera pergi dari sini," ucapnya mengambil ancang-ancang berlari meninggalkan area tersebut.


Prang......


Syakila mendengar suara benda jatuh dari luar kamarnya dan langsung saja membuat dirinya panik.


"nyonya, aku akan telpon balik," ucapnya mematikan panggilan telepon secara sepihak.


Syakila keluar dari kamarnya, ia melihat kanan dan kirinya dan memeriksa setiap sudut area kamarnya, tidak ada siapapun yang berada di sana, tapi dia merasa sedikit khawatir.


Syakila menghela napas kasar, "Aku harap tidak ada yang mendengar percakapanku ini," gumam Kila membereskan pecahan vas tersebut.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update


See you

__ADS_1


__ADS_2