Fille Forte

Fille Forte
Asli


__ADS_3

Aurora menyusun barang-barangnya dan juga dengan Sean, dia harus kembali ke apartemennya, dia tidak bisa menginap lebih lama lagi disana dan terpaksa menghentikan pencariannya.


"Jika aku kembali lagi kemari, aku harus berhasil mendapatkan berkas-berkas mengenai diriku dari ruangan ibu, itu bisa menjadi petunjuk untuk mencari orang tua kandungku," gumam Aurora memandang gelang yang berada di tangannya.


Aurora turun ke bawah dengan membawa satu tas yang berisikan barang-barangnya, dia bisa melihat ibu Kila dan anak-anak lainnya yang sedang bermain.


"Sean...." panggil Aurora sedikit berteriak agar Sean dapat mendengar suaranya.


Sean yang mendengar panggilan kakaknya langsung menghampiri dirinya, dia bingung kenapa kakaknya turun dengan membawa tas.


"Kakak, kenapa kakak bawa tas?" tanya Sean memandang tas yang dipegang Aurora.


"Kita akan pulang,dan pamitan sana sama ibu," tutur Aurora lembut.


"Kakak, Sean nggak mau pulang" rengek Sean


Aurora ingin berlama-lama disini tapi dia harus sekolah besoknya, jika dia memilih menuruti keinginan Sean dia jamin mereka tidak akan pernah pulang dan terus berada di sana.


Ibu Kila yang mendengar rengekan Sean langsung mendekat padanya dan membawanya dalam pelukannya.


"Sean sayang, kenapa Sean menangis sayang?" tanya Kila mengelus pucuk kepalanya.


"Ibu, Sean masih mau disini lebih lama tapi kakak bilang kita harus pulang," jawab Sean sedih.


"Sean harus pulang sayang, besoknya mau sekolah kan? masa Sean tidak sekolah jika Sean tidak sekolah Sean enggak pintar dong, Sean mau?" jelas Kila agar Sean mudah mengerti.


Sean menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sean ingin pintar biar jadi orang keren," ucapnya menghapus air mata di pelupuk matanya.


Jila yang mendengar jawaban Sean yang begitu sederhana tersenyum dan mengacak rambutnya, "anak ibu lucu, jadi Sean pulang ya sayang," tuturnya lembut.


Sean memayukan bibirnya, dia berpamitan dengan ibu Kila dan teman-temannya,  Aurora juga berpamitan pada Kila.


"Ibu, kami pulang,"ujar Aurora.


"Iya sayang hati-hati," balasnya menepuk bahunya Aurora.


"Ibu, apa ibu yakin gelang ini milikku?" tanya Aurora menunjuk gelang yang berada di pergelangan tangannya.


"Sayang, gelang itu memang milikmu apa kau masih meragukannya?" tanya balik Kila.


"Enggak, tapi aku merasa tidak mungkin orang tua kandungku membuang ku jika dilihat dari gelang ini, bukan?" balas Aurora.


"Apa maksudmu?" tanya Syakila mengernyitkan dahinya.


"Ibu, gelang ini berlapis berlian dan yang bisa membeli dan memiliki ini cuma orang-orang kaya dan memiliki uang yang banyak, apa ada alasan lain orang tua kandungku membuang ku?" tanya Aurora tersenyum smirk.


Kila merasa tangan dan kakinya sudah gemetar dan merasakan keringat dingin mulai keluar, tapi dia berusaha mengendalikannya agar Aurora tidak mencurigai dirinya.

__ADS_1


"Sayang, kita belum tahu gelang itu asli atau tidak, mungkin saja gelang itu imitasi dan ibu tidak mengetahui alasan kenapa orang tuamu membuang dirimu," balas Kila berusaha tenang.


"Ibu, jika ibu kandungku datang kemari, tolong segera hubungi nomorku" ucap Aurora memeluk Kila.


"bye ibu," ucapnya melambaikan tangannya.


Syakila melihat punggung Aurora dan Sean yang menjauh dan semakin menghilang dari pandangannya.


Dia menghembuskan nafasnya dan merasa sedikit gelisah, "Apa anak itu sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya? jangan sampai anak itu mencari informasi apapun, karena itu bisa menjadi boomerang buat dirinya,"gumam Kila kecil.


...~~~...


Aurora berdiri di pinggir jalan dengan Sean yang menggandeng tangannya, mereka sedang menunggu taksi pesanan mereka datang, selama menunggu Sean selalu menanyakan pertanyaan untuk Aurora, untung saja dia bisa menjawabnya.


"Kakak,apa kita akan datang lagi kemari?" tanya Sean.


"Iya Sean"vbalas Aurora mengacak rambut Sean.


"Asyik" teriak Sean kegirangan dan melakukan lompatan kecil.


Aurora memandang Sean yang sedang melompat kegirangan tapi di dalam hatinya dia berkata lain, "aku akan sering datang kemari sampai aku menemukan siapa diriku sebenarnya."


Taksi pesanan mereka tiba, Sean dan Aurora masuk dan barang-barang mereka dibantu oleh supir dimasukkan ke dalam bagasi. Selama perjalanan pulang Aurora memandang ke luar dan Sean yang tertidur di pahanya.


Aurora melihat sebuah toko perhiasan terbesar di kota, langsung meminta supir taksi menghentikan mobilnya.


Supir itu mendengar teriakkan Aurora langsung mengerem mobilnya secara mendadak untung saja tidak ada kendaraan di sekitar mereka.


"Neng, ada apa sampai minta mas untuk berhenti?" tanya supir yang mengusap kepalanya.


"Maaf ya mas, tapi ada hal penting, mas mau menunggu sebentar saya janji akan bayar lebih" ujar Aurora ramah.


"Memang neng mau kemana?" tanya supir.


"Saya mau ke toko perhiasan" ujar Aurora menunjuk sebuah toko.


"Memang cewek lihat perhiasan dikit aja langsung enggak bisa diam" omel supir taksi.


Aurora langsung turun dari taksi dan berjalan sedikit ke toko perhiasan, dia masuk ke dalam dan disambut dengan senyum ramah pegawai.


"Selamat datang ke toko kami! apa ada yang bisa kami bantu?" ujar pegawai itu ramah.


"Kak, saya mau periksa keaslian gelang ini" ujar Aurora menyodorkan gelang.


Pegawai toko itu memeriksa gelang yang disodorkan oleh Aurora, dia bisa melihat ekspresi wajah pegawai toko melihat gelang tersebut.


"Mbak, apa gelang ini punya ibu anda atau kerabat gitu?" tanya pegawai toko seperti ingin memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Enggak, saya dapat gelang itu dari ibu panti" ujar Aurora jujur daripada dia disangka sebagai pencuri lebih baik jujur.


"Apa adik tahu gelang ini adalah gelang yang didesain langsung oleh perancang perhiasan kami" ujar pegawai itu langsung membuat Aurora membuka mulutnya.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Aurora sedikit bingung.


"Gelang ini bukan gelang sembarangan, gelang ini terbuat dari berlian biru yang paling langka di dunia, dan gelang ini dirancang oleh desainer kami untuk seorang wanita dari kalangan atas," jelas pegawai tersebut.


"Apa kalian tahu siapa wanita yang memesan gelang ini?" tanya Aurora berharap bisa menemukan petunjuk.


"Maaf, tapi kami tidak tahu, dan yang mengetahui tentang itu cuma pimpinan kami selaku perancang perhiasan ini."


"Apa bos kalian ada disini?"


"Maaf, dia sedang tidak berada disini, dia sedang berada di luar negeri"


"Kapan dia kembali?"


"Kami tidak tahu tapi anda bisa menghubungi dia, ini kartu namanya" ujar pegawai menyodorkan sebuah kartu nama dan juga gelang Aurora.


"Terimakasih dan maaf telah mengganggu kalian" ucap Aurora ramah.


"Itu sudah tugas kami" balas pegawai itu juga ramah.


Aurora keluar dari toko dan berjalan kembali masuk ke taksi, supir taksi yang melihat dia kembali langsung menjalankan mobilnya. Aurora lesu dan menatap kartu nama yang berada di tangannya.


Mereka tiba di gedung apartemen dan sesuai janji Aurora katakan dia membayar lebih supir taksi.


Dia masuk dengan menggendong Sean yang tertidur, Aurora menekan tombol pada lift dan lift itu membawanya ke lantai 25, Aurora membuka pintu dengan sidik jarinya dan menghidupkan saklar lampu.


Aurora membawa Sean ke kamarnya dan meletakkan dia dia tempat tidur, Aurora melepaskan sepatu Sean dan menyelimuti Sean dan mengecup keningnya.


"Good night my bunny" gumam Aurora mengelus kepala Sean.


Aurora mematikan lampu dan cuma membiarkan lampu tidur saja yang hidup, dia masuk ke kamarnya dan menjalankan rutinitas skincare malam seperti biasa, selesai itu semua ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, ketika dia berbalik dia melihat kartu nama yang berada di meja samping tempat tidur.


Dia melihat dan membaca apa yang tertulis pada kartu nama tersebut, dia menatap lama pada kartu nama itu.


"Aditya Abraham" gumamnya kecil memandang kartu yang berada di tangannya.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.

__ADS_1


See you


__ADS_2