Fille Forte

Fille Forte
Bk


__ADS_3

Tiga orang gadis yang sedang duduk di depan seorang guru, bisa dilihat ekspresi wajah mereka yang tidak ada penyesalan sama sekali yang ada mereka saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.


Ibu Jennie yang melihat ketiga siswa itu memijit pelipisnya, "apa kalian bisa berhenti menatap satu sama lain? Ibu udah lelah melihat kelakuan kalian, baru dua minggu sekolah dimulai tapi kalian sudah membuat masalah" ibu Jennie berhenti berbicara, dia minum air agar tenggorokannya tidak kering lalu melanjutkan perkataannya, "terutama kamu" ujarnya menunjuk gadis dengan bandana hitam.


"Kok saya bu? Perasaan saya enggak buat masalah" ujar Shawnette tanpa dosa.


"Enggak buat masalah, jadi itu apa?"teriak Bu Jennie menunjuk gadis botak.


"Ya, itu...." belum sempat Shawnette menjelaskan, Bu Jennie sudah memotongnya.


"Anak zaman sekarang memang susah dikasih tahu," ujar Bu Jennie lesu memijit pelipisnya.


"Mungkin ibu kena karma kali" ucap Shawnette santai.


"Karma apa hah?"


"Mungkin waktu ibu SMA dulu ibu bandel kali, suka bolos, sama suka tawuran dan buat repot guru bahkan lebih parahnya ibu hampir buat guru BP kena serangan jantung jadi Tuhan balas ibu dengan buat ibu jadi guru BP agar ibu bisa merasakan bagaimana rasanya mengurus murid bandel" tutur Shawnette tanpa dosa.


Brak....


Ibu Jennie membanting meja dan menatap tajam Shawnette, "berani ya kamu sama ibu! Siapa sih orang tua kamu?" tanyanya.


"Masa ibu enggak kenal sama orang tua saya? Udah enggak benar ni"celetuk Shawnette.


"Ibu enggak peduli siapa orang tuamu asal jangan dia," ujarnya pelan.


"Dia siapa bu?" tanya Shawnette penasaran.


"Selama kita menunggu orang tua kalian, ibu akan menceritakan sebuah kisah untuk kalian" ujar bu Jennie.


"Kisah apa bu?"


"Udah dengar aja dan jangan ada yang potong cerita ibu"


Mereka bertiga mengangguk kepalanya dan bersiap mendengar cerita guru di depan mereka.


"Kalian kenal enggak sama Pak Adam selaku pemilik sekolah ini?" tanya ibu Jennie


"Tahulah bu masa enggak" jawab mereka serentak.


"Pak Adam harusnya itu jadi menantunya ibu" ucap bu Jennie.


Shawnette menggaruk tengkuknya, "ini guru halu atau apa," ucapnya kecil.


"Pak Adam waktu sekolah dia rajin selalu bawa nama sekolah ke ajang olimpiade....." belum selesai Bu Jennie cerita sudah dipotong oleh Shawnette.


"Jelaslah bu dia rajin sama mengharumkan nama sekolah orang dia pemilik sekolah ini" saut Shawnette


"Udah diam dan dengari ibu" ucapnya tegas.


Shawnette mengerucutkan bibirnya dan ada satu ide yang muncul di kepalanya, dia mengambil ponsel yang ada di saku dan mulai merekam cerita ibu Jennie.


"Ibu dulu suka sama pak Adam sampai ibu kepikiran untuk menjodohkan anak ibu dengan pak Adam..." ucap ibu Jennie menggantungkan kalimatnya.


Shawnette tidak suka mendengarnya, "pede amat bu" ucapnya pelan.


Ibu Jennie kemudian melanjutkan kalimatnya, "ibu bahkan sampai beritahu sama kakeknya Galaksi niatnya ibu untuk menjodohkan mereka tapi sayang, karena si Vina itu ibu enggak jadi besanan sama keluarga Phoenix, apa kurangnya anak ibu cantik iya pintar iya tapi pak Adam malah cintanya sama Vina si murid paling bandel pada masanya" ucapnya sedikit judes.


"Maaf bu tapi saya anak kandung pak Adam dan Vina bu" ucap Shawnette.


"Ih kamu bisa aja, buat ibu takut aja," balas Bu Jennie santai.


"Ini guru gak tau apa kalau gue anak dari orang yang dia ceritakan," gumam Shawnette.


"Kalian tahu si Vina itu hobinya bolos, tawuran bahkan yang lebih parahnya lagi dia pernah botakin rambut orang sama seperti kamu" ujar Bu Jennie menatap Shawnette.


"Keren juga Mak gue ternyata" balas Shawnette bangga.


"Dia bukan Mak kamu gak usah ngaku-ngaku" ucap Bu Jennie


Ibu Jennie akan melanjutkan ceritanya tapi terdengar suara ketukan pintu dan dapat dilihat seorang wanita yang memakai setelan gaun berwarna peach dan high heels dengan rambut yang dikucir.


"Bu Vina apa anda memiliki urusan disini?" tanya ibu Jennie ramah.


"Saya mendapatkan telepon bahwa anak saya berbuat masalah" balas Vina tidak kalah ramah.


"Maaf mungkin anda salah, Galaksi tidak ada buat masalah apapun" balasnya.


"Bukan Galaksi bu, tapi anak perempuan saya, itu dia" ujar Vina menunjuk shawnette yang duduk.


Ibu Jennie menatap Shawnette yang tersenyum padanya, dia juga menatap Vina.


"Jadi, dia anakmu Bu Vina?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, bu itu anak saya yang nomor dua" balas Vina.


"Oh tuhan" ucap Bu Jennie menepuk jidatnya dan memandang Shawnette.


Shawnette dengan ide jahilnya malah menghampiri ibunya, "mama tahu gak tadi ibu Jennie...."


Ibu Jennie langsung memotong percakapan mereka, "Vina ibu enggak sangka dia anak kamu, dia mirip sama kamu" ucapnya berusaha agar Shawnette tidak memberitahu ibunya.


"Ibu, seberusaha apapun ibu hentikan saya tapi saya punya ini" ujar Shawnette mengangkat ponselnya.


Ibu Jennie yang paham dengan maksud Shawnette langsung merebut ponselnya untuk saja Shawnette mengangkat ponsel itu tinggi.


"Putri Vina yang cantik tolong hapus ya!" bujuk Jennie.


"Saya mau kok hapus tapi ibu tangkap saya dulu" teriak Shawnette yang sudah berlari keluar.


Ibu Jennie mencerna semua yang baru saja dia dengar dan lihat, tidak tahu kenapa secara reflek dia berlari mengejar Shawnette, Vina melihat aksi kejar-kejaran antara putrinya dan gurunya ketika masa sekolah menggelengkan kepalanya.


"Pemandangan ini mengingatkan aku ketika bu Jennie mengejar aku yang ingin bolos" gumam Vina kecil.


Ibu Jennie berlari cepat mengejar Shawnette, banyak murid-murid yang melihat dan bertanya-tanya apa yang terjadi bahkan ada yang merekam untuk mengabadikan momen ini.


"Ibu kejar saya" teriak Shawnette.


Ibu Jennie berlari secara ngos-ngosan, dia berhenti sesaat untuk mengambil nafas merasa tubuhnya baik, dia kembali mengejar Shawnette tapi dengan membawa sapu yang dia temukan di depan kelas.


"Kemari kamu" teriak ibu Jennie dengan mengangkat sapu.


Shawnette berbalik dan membuka mulutnya melihat ibu Jennie yang seperti ibu kos yang menarik sewa, Shawnette berlari dengan menuruni anak tangga dan tentu saja ibu Jennie terus mengejarnya.


Mereka berlari sampai di tengah lapangan yang panas terik, Shawnette mengambil nafas begitu juga dengan ibu Jennie, tapi ibu Jennie tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dia langsung menarik telinga Shawnette.


"Awww....kenapa ibu tarik telinga saya?" tanya Shawnette.


"Ibu akan lepaskan jika kamu hapus rekaman itu" ujar ibu Jennie tegas.


"Iya saya hapus tapi lepaskan dulu" rengek Shawnette


Ibu Jennie melepaskan telinga Shawnette, ia terpaksa mengeluarkan ponselnya dan menghapus rekaman itu di depan ibu Jennie.


"Udah saya hapus bu" ujar Shawnette lesu.


"Bagus, kalau gini ibu senang" balasnya tersenyum mengejek Shawnette.


"Tapi maaf bu, walaupun rekaman ini dihapus dari ponsel saya tapi saya sudah menyebarkan ini ke akun sekolah" ujar Shawnette girang menampilkan senyum kemenangan.


"Ibu ayo kita ke ruangan ibu, kesian mama saya menunggu" ucap Shawnette keras yang sudah berjalan.


Ibu Jennie tidak bisa berbuat apa-apa, ia terpaksa berjalan lesu ke ruangannya, dia juga memberikan beberapa kata motivasi untuk dirinya,


"Semoga saja rekaman itu enggak diketahui pak Adam" gumamnya kecil.


Mereka kembali ke ruangan ibu Jennie bisa dilihat orang tua Citra yang sudah datang, ibu Jennie duduk di depan para orang tua.


"Helen, apa ibumu tidak datang?" tanya Jennie memandang Helen.


"Enggak" balasnya ketus.


"Baik kalau begitu saya akan sampaikan maksud dan tujuan saya meminta kalian hadir kemari" ujar ibu Jennie tegas.


Para orang tua mendengar semua cerita dan penjelasan yang ibu Jennie katakan, bisa dilihat dari ekspresi orang tua Citra yang murka mengetahui bahwa putrinya merupakan korban bully.


"Pokoknya saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum" putus ayah Citra.


"Maaf pak, tapi kita bisa bicara masalah ini baik-baik jangan sampai masalah ini dibawa ke hukum" bujuk ibu Jennie.


Vina takut jika masalah ini  dibawa ke jalur hukum, itu sama saja akan membuat citra sekolah ini rusak dan hancur setelah dibangun bertahun-tahun oleh ayah mertuanya dan suaminya.


Vina menghembuskan nafasnya, "saya mohon kepada anda agar masalah ini tidak dibawa ke jalur hukum, saya yang akan menyelesaikan masalah ini" ujar Vina lembut dan tegas dalam satu waktu.


"Apa yang bisa anda selesaikan? Anda juga memiliki seorang anak bukan! Bagaimana anak anda diperlakukan seperti itu apa yang akan anda lakukan?" tanya ibu Citra dengan tidak kalah tegasnya.


"Saya akan buat hidup si pelaku tidak tenang bahkan saya tidak akan segan-segan melakukan apapun untuk memberikan pelajaran kepadanya" ujar Vina menatap tajam Helen.


"Baik saya tidak akan membawa masalah ini ke hukum tapi, saya ingin dia diberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang dia lakukan kepada putri saya" ujar ayah Citra menunjuk ke arah Helen.


"Saya selaku istri pemilik sekolah ini berjanji akan memberikan hukuman yang berat padanya," ujar Vina mantap dan membungkuk sedikit badannya meminta maaf kepada kedua orang tua Citra.


"Saya pegang baik-baik janji anda" balas ibu Citra.


Orang tua Citra beserta dirinya keluar dari ruangan ibu Jennie, dia diperbolehkan pulang awal untuk menenangkan dirinya.


Vina memandang punggung mereka yang sudah menghilang dibalik pintu, dia beralih menatap Helen dengan tatapan yang siap memasang musuhnya.

__ADS_1


"Ibu Jennie lakukan apapun yang anda inginkan, saya ingin dia dihukum setimpal dengan apa yang dialami oleh Citra" ujar Vina dengan suara seraknya.


"Baik saya akan segera memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Helen bu" balas ibu Jennie yang sudah berkutat-katit dengan komputer.


Helen mengepalkan tangannya dan menatap Vina, "Tante seharusnya tante membela aku bukan dia" ujarnya.


"Beri aku satu alasan kenapa aku harus membelamu" ucap Vina dengan nada mengintimidasi.


"Karena aku kekasihnya Galaksi" jawab Helen penuh percaya diri.


Vina tertawa kecil mendengar kepercayaan diri Helen yang begitu tinggi, Helen mengernyitkan dahinya melihat Vina tertawa.


"Kenapa tante tertawa?" tanya Helen.


"Walaupun Galaksi menyukai dirimu sekalipun seluruh keluarga Phoenix tidak akan membiarkan kalian bersatu" jawab Vina tersenyum smirk.


Helen menghentakkan kakinya dapat dilihat dari wajahnya yang memerah menahan malu.


"Helen sampaikan surat ini pada orang tuamu" ujar ibu Jennie menyodorkan sebuah amplop yang berisikan surat.


"Apa isinya bu?" tanya Helen.


"Ibu memutuskan untuk diskors kamu selama satu minggu dan ibu rasa itu cukup untuk merenungkan kesalahanmu dan juga jangan lupa setelah masa diskors kamu wajib membersihkan toilet sekolah selama satu minggu" ujar ibu Jennie tegas.


"Tapi bu ini enggak adil" protes Helen.


"Ibu tidak ingin mendengar apapun kamu bisa menyusun barang-barangmu sekarang" balas ibu Jennie.


Helen merampas surat dari tangan ibu Jennie, dia keluar dengan menghentak kakinya kuat dan tersisa Vina, Shawnette dan gadis berambut botak.


Ibu Jennie mengembuskan nafasnya untuk kesekian kalinya dan juga kepalanya sudah pusing mengurus masalah anak-anak.


"Baik ibu Vina, alasan saya memanggil ibu kemari karena putri ibu telah berbuat kenakalan yang tidak sepantasnya" jelas ibu Jennie


"Kenakalan seperti apa ya Bu? apa anak saya menang atau kalah?" tanya Vina absur.


Ibu Jennie mengelus dadanya agar dirinya tidak emosi, "tentu saja anakmu menang Vina," jawabnya.


"Untung menang kalau kalah saya enggak mau datang buat saya hadir jika buat malu" omel Vina.


"Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, like mother like daughter" ujar ibu Jennie.


"Oh iya bu, bisa jelaskan bagaimana anak saya bisa botakin rambut gadis itu?" ucapnya semangat.


"Oh tuhan, dulu ibunya sekarang aku juga harus menghadapi anaknya" ujar ibu Jennie keras seraya mengelus dadanya.


Vina dan Shawnette tertawa melihat wajah ibu Jennie yang sudah memerah menahan kesal, ibu Jennie pasrah dan berharap stok kesabarannya masih banyak untuk menghadapi anak dari muridnya selama tiga tahu.


Selesai mengurus masalah Shawnette dan Vina keluar, mereka berjalan di sepanjang koridor dapat dilihat Vina yang menarik telinga Shawnette.


"Aww...mama sakit"


"Sakit ya? kenapa Nette harus buat rambut gadis itu botak? Kan masih ada cara lain" omel Vina.


"Mama pernah bilang ke Nette jika berantam itu harus memakai otak"


"Terus?"


"Shawnette selalu menyediakan pisau kecil dan gunting di saku Nette jika ada orang yang ingin mencelakai Nette sudah siap berperang" ujar Shawnette santai.


"Tapi cara itu sudah kuno saya, masa botakin rambut orang kan bisa patahkan tulangnya"


"Oh iya, kok Nette gak kepikiran?"


Vina dan Shawnette memiliki hubungan selayaknya sahabat, mereka terkadang selalu berbicara santai dan karena itu anak-anak Vina tidak ragu untuk menceritakan masalah mereka.


"Ma...ke mall yuk"


"Enggak masuk?"


"Malas"


"Yuk ke mall, mama sudah lama enggak belanja terakhir kali minggu yang lalu"


Bukannya melarang dan memarahi anaknya untuk membolos Vina malah mendukung perbuatan anaknya, sebenarnya Vina ingin melarang anaknya tapi dia melihat jam di tangannya yang sebentar lagi akan pulang jadi buat apa anaknya masuk jika waktu pulang hampir tiba.


Vina dan Shawnette masuk ke dalam mobil, Vina menyalakan mesin dan mulai menancapkan gas meninggalkan pekarangan sekolah.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.

__ADS_1


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.


See you


__ADS_2