
Suasana kelas yang begitu sunyi dan aura yang mencekam yang bisa dirasakan dari pintu masuk, seorang guru laki-laki dengan kacamata tebalnya yang menulis berbagai rumus-rumus matematika di papan tulis.
Semua murid cuma memandang papan tulis dengan lesu, ada yang sudah beberapa kali menguap dan menepuk pundak lelah melihat rumus-rumus tersebut.
Mereka berharap semua ini cepat berakhir dan betapa beruntungnya mereka, bel istirahat sudah berbunyi, guru yang menulis berhenti dan berbalik.
"Kalian bisa istirahat tapi jangan lupa belajar karena minggu depan kita ujian," ujar guru tegas.
"Ih...pak masa gitu"
"Gak adil tau"
Protes beberapa siswa tapi pak Reyhan tidak mempedulikan keluhan muridnya, dia malah melangkahkan kakinya keluar dengan begitu santai.
"Itu guru macam enggak pernah sekolah aja," saut Xylona.
"Masa minggu depan kita ujian," sambung Belva si ratu gosip.
"Gue pasrah aja paling dapat 0," sambung Shawnette santai.
"Lo mah enak, mau dapat nol enggak dapat repetan emak yang sangki indahnya," ujar Belva lesu.
"Itu mah derita lo kali" seloroh Xylona.
"Nette, Xylona gue pamit gue ada urusan di ruang radio" ujar Belva.
"Berita tentang Bu Jennie ya?" tanya Shawnette.
"Yoi" balas Belva dan berlari keluar.
Phoenix High School memiliki ruangan khusus radio yang dijalankan oleh murid-murid untuk menyebarkan berita dan informasi yang sedang terjadi di Phoenix High School, bahkan kucing kepala sekolah melahirkan saja diberitakan.
Alasan Belva diterima menjadi penyiar radio karena dia tahu semua berita dan gosip bisa dikatakan dia itu paparazi sekolah.
"Nette, ke kantin yuk!" ajak Xylona.
"Ayuk".
Ketika Shawnette ingin beranjak dari duduknya, Laquitta sudah berdiri di depannya.
"Ngapain lagi lo?" tanya Shawnette datar
"Nette, gue ingin minta maaf" ujar Laquitta.
"Minta maaf? Setelah lo hancurkan persahabatan kita gitu aja, lo cuma bisa minta maaf" saut Xylona ketus.
"Maaf Laquitta tapi gue anti fake friend kayak lo" saut Shawnette
"Oh iya, Laquitta lo bilang lo cuma berteman dengan kalangan atas kan? Lo tahu enggak definisi dari kalangan atas?" Xylona menjeda kalimatnya, "kalangan atas adalah orang yang memiliki martabat, harga diri, etika, dan cara menghargai orang lain, tapi lo enggak punya semua itu artinya lo bukan kalangan atas karena lo gak bisa hargai orang lain" lanjut Xylona menyentil dahi Laquitta.
"Lona, ke kantin yuk! Nanti kita ketularan virus fake friend dari ini orang" sindir Shawnette.
Shawnette dan Xylona berjalan dengan menabrak bahunya Laquitta dan berhasil membuat Laquitta terkena meja.
"Sakit ya!" ejek Xylona.
Laquitta cuma bisa mengepalkan tangannya, Shawnette dan Xylona ingin keluar tapi mereka melihat Aurora yang akan keluar malah mengikutinya.
"Ra, ke kantin yuk!" ajak Xylona merangkul tangan Aurora.
Aurora tidak merasa risih dengan rangkulan Xylona, dia terlihat biasa saja, "ayuk" ucapnya.
Laquitta memandang mereka tajam dan mengepalkan tangannya kuat, "Gue pastikan hidup lo menderita Ra," gumamnya kecil menatap punggung Aurora.
Kantin
Mereka duduk di meja yang berada di tengah kantin, dapat dirasakan suasana kantin yang ramai dan ribut.
Xylona yang menangkap siluet tubuh Raline, " Raline kemari" teriaknya melambai tangannya.
Raline yang melihat Xylona melambaikan tangannya, dia memilih bergabung dengan mereka, ia duduk di samping Shawnette.
"Kalian ingin pesan apa?" tanya Shawnette.
"Gue bakso ya, minum ya teh manis dingin aja" ujar Xylona.
"Raline sama Aurora pesan apa?" tanya Shawnette.
"Aku juga samakan aja sama Xylona" ujar Raline.
"Aku rujak tapi buahnya mangga aja ya" ujar Aurora.
"Ra, yakin makan itu?" tanya Shawnette.
Aurora mengangguk, "itu makanan favoritku" ucapnya.
"Ra, tapi itu asam gak baik buat lambung" sambung Raline.
"Enggak apa-apa, aku jarang memakannya" balas Aurora.
"Udah itu aja kan?" Gue pesan dulu ya" ujar Shawnette yang sudah mengambil ancang-ancang berdiri.
"Shawnette, aku ikut" saut Aurora beranjak dari duduknya.
Shawnette dan Aurora memesan pesanan mereka, mereka mengantri terlebih dahulu untung saja antriannya tidak terlalu ramai jadi mereka bisa lebih cepat.
Mereka kembali dengan membawa nampan yang berisi pesanan, mereka duduk dan memakan pesanan mereka.
Ketika mereka makan bisa di dengar penyiar radio sekolah yang memulai acaranya.
__ADS_1
"Hai semua, kembali lagi dengan saya Belva dari 10 MIPA 1, ini waktunya istirahat kalian bisa menikmatinya dengan mendengar berita yang akan kami sampaikan" ujar Belva melalui pengeras suara dia melanjutkan perkataannya, "Kalian semua pasti sudah melihat akun sekolah kita bukan? Berita tentang Bu Jennie yang menceritakan nyonya Vina selaku dari istri pemilik sekolah ini......"
Mereka makan makanan mereka dengan mendengarkan Belva, ada seorang gadis dengan rambut tergerai menghampiri meja mereka.
"Hai" ucap gadis itu.
Mereka menoleh dan melihat gadis tersebut, "kak Citra" ucap mereka semua.
"Aku boleh bergabung dengan kalian?" tanya Citra.
"Tentu saja boleh" balas mereka tersenyum pada Citra.
Citra duduk di samping Aurora, mereka merasa sedikit canggung untuk beberapa saat sampai Citra membuka suaranya.
"Terimakasih atas semuanya" ucap Citra pelan dan tersenyum pada mereka semua.
"Tidak perlu berterimakasih, itu sudah menjadi tugas kami sesama perempuan saling membantu" ujar Shawnette.
"Aku sempat menyesal karena pernah takut sama Helen" ucap Citra pelan.
"Udah gak usah sebut nama itu nek lampir buat selera makan hilang aja" ujar Shawnette
"Oh iya, masa kita udah kenal sama kak Citra tapi dia gak kenal kita, jadi ayuk kenalan" saut Xylona.
"Kenali aku Shawnette" ujar Shawnette.
"Aku Xylona" sambungnya.
"Aku Raline kak"
"Bisa panggil Line gak?" seloroh Citra yang membuat mereka tertawa kecil.
"Kenalkan aku Aurora" ujarnya yang begitu menikmati rujak.
Baru saja mereka berkenalan sudah terdengar suara teriakan histeris yang merupakan hal biasa yang terjadi dan tentu saja pelakunya Vanostra Evil, Felix baru saja dia tiba di kantin ia sudah mulai menebarkan gombalan mautnya pada para gadis.
"Apa mereka tidak pernah lihat orang ganteng?" ujar Xylona sinis menatap kumpulan para gadis.
"Bahkan suara Belva pakai toa aja kalah sama mereka" sambung Raline
Aurora memandang Vanostra Evil, dia mencari seseorang tapi orang yang dicari tidak ada, "kak Galaksi mana?" ucapnya pelan.
Mereka berempat bisa mendengar suara Aurora walaupun pelan, mereka malah menggoda Aurora.
"Cie...cie....ada yang cari ayang beb" ujar Shawnette.
"Kalau suka tinggal bilang aja kali" ujar Xylona mengompori.
"Kalian kenapa?" tanya Aurora yang pura-pura tidak tahu.
"Pakai acara pura-pura tak tahu lagi" saut Raline.
"Enggak" elak Aurora.
"Karena aku orang baik aku akan kasih tahu" ujar Shawnette mengibaskan rambutnya.
"Sejak kapan lo jadi orang baik Maemunah" sambung Xylona sinis.
"Udah lo diam" balas Shawnette yang tidak kalah sinis.
"Terserah" ujar Xylona datar.
"Jadi kak Galaksi pergi ke Prancis" ujar Shawnette.
"Kenapa?" tanya Aurora penasaran.
"I don't know but daddy said they went to see the doctor" jelas Shawnette memasukkan bakso ke mulutnya.
"Apa tentang operasi itu?" tanya Xylona pelan.
"Ku rasa iya" balas Shawnette.
"Kalian sedang bahas operasi transplantasi wajah?" tanya Raline sedikit ragu.
"Iya"
Citra yang merasa sedikit canggung dan tidak mengerti pembicaraan mereka, memilih untuk diam dan membiarkan mereka selesai bicara.
"Kenapa dari nada kalian bicara seperti orang yang sedang ketakutan?" tanya Aurora.
"Kau pasti pernah bukan melihat sebuah film yang memindahkan wajah ke orang lain, bukan?" ujar Shawnette menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus nafasnya, "itu tidak seperti yang kau lihat, ada resiko dari operasi itu" ujarnya pelan dengan pandangan kosong.
Aurora tidak ingin bertanya apapun pada Shawnette, dia tidak ingin mendengarkan apapun. Mereka diam untuk waktu yang lama sampai Citra membuka suaranya.
"Guys, bagaimana besok kalian datang ke rumahku?" ujar Citra.
"Ngapain?" tanya Xylona.
"Tidak apa-apa, besok ulang tahunku yang ke 16 tahun jadi aku ingin merayakannya dengan kalian, boleh?" tanya Citra dengan nada berharap.
"Tentu saja kami datang lumayan makan gratis" saut Shawnette menepuk bahu Citra
"Tenang aja kami semua pasti datang" ucap Xylona membentuk jarinya huruf O.
"Maaf aku tidak bisa" ucap Aurora sedikit ragu.
"Kenapa Ra?" tanya Raline lesu.
"Aku harus menjaga adikku" jawab Aurora.
__ADS_1
"Ihhh Rora, ikut dong gak seru kalau gak ada lo" rengek Xylona.
"Ikut ya Ra, please" sambung Raline.
"Tenang saja kau boleh bawa adikmu, aku juga punya adik biar nanti mereka bermain berdua, jadi datang ya, please!" bujuk Citra menampilkan puppy eyes.
Aurora menatap mereka satu persatu dan mengembuskan nafasnya, "iya" ucapnya.
"Guys, bagaimana kita bolos aja untuk hari ini?" tanya Xylona.
"Ayuk" ucap Aurora.
"Aku juga ikut kalian" saut Citra.
"Aku juga" sambung Raline.
"Udah ayuk sekarang kita bolos mumpung itu gerbang lagi terbuka" ujar Shawnette.
"Ambil tas kalian terus kumpul di parkiran" ujar Xylona.
Mereka meninggalkan kantin dan mengambil tas mereka, ketika mereka keluar sudah ada ibu Jennie yang berdiri di depan pintu dengan membawa penggaris.
"Shawnette..." teriak ibu Jennie menggelegar seluruh ruangan.
"Ibu bisa enggak gak usah teriak ini sekolah bukan hutan" balas Shawnette.
"Enggak" balasnya kuat dia memandang mereka bertiga yang berdiri dengan membawa tas, "kalian ngapain bawa tas segala?" tanyanya tegas.
Mereka menggaruk tengkuk dan senyum cengengesan, "sebagai murid yang baik kami minta izin ya bu" ujar Xylona menyalami tangan ibu Jennie diikuti oleh Aurora dan Shawnette
Ibu Jennie memperbaiki kacamatanya dan mengernyitkan dahinya, "izin apa dan kenapa kalian menyalami tangan ibu?" tanyanya.
"Izin mau bolos bu" ujar Shawnette santai.
Aurora mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari dan mulai berhitung, "satu....dua....tiga.... lari" ucapnya.
Mereka bertiga berlari kencang dan ibu Jennie masih bingung dengan apa yang baru saja dia lihat, sampai dia tersadar dan mulai mengeluarkan teriakannya.
"Kalian kemari" teriak ibu Jennie keras.
Ibu Jennie berlari mengejar mereka sekencang mungkin, "jangan kabur kalian" teriaknya.
Banyak siswa yang berlalu lalang di koridor melihat ibu Jennie yang sedang mengejar mereka tentu saja mereka akan merekamnya dan menyebarkan video itu ke akun sekolah.
Ibu Jennie yang sudah tidak tahan lagi berlari melepaskan sepatunya dan melemparkan sepatunya berharap mengenai mereka.
Xylona yang menoleh ke belakang melihat ibu Jennie yang melemparkan sepatu pada mereka, "guys cepat sebelum sepatu ibu Jennie mengenai kita" ujarnya ngos-ngosan.
Sepatu itu melayang tapi sayang tidak mengenai mereka mungkin dewi keberuntungan sedang berpihak pada mereka.
"Sial kenapa tidak kena" ucap ibu Jennie menghentakkan kakinya.
Dia sudah begitu lelah dia memilih mengambil nafas dalam-dalam lalu kembali mengejar mereka, mereka bertiga sudah berada di parkiran untung saja Citra dan Raline sudah tiba di sana.
"Kok kalian lari?" tanya Citra.
"Nanti dijelaskan cepat masuk" ujar Xylona.
Mereka mengangguk dan masuk ke dalam mobil, baru saja mereka masuk sudah bisa dilihat dari kaca spion ibu Jennie yang semakin mendekat.
"Lona, cepat ibu Jennie" ujar Shawnette panik.
"Kalian kemari!" teriak ibu Jennie.
Xylona langsung menancap gas, ibu Jennie yang melihat itu langsung berteriak pada satpam
"Pak satpam cepat tutup gerbang ya" teriak ibu Jennie nyaring.
Xylona yang melihat gerbang akan segera ditutup tentu saja tidak tinggal diam dia menambah kecepatan pada mobilnya, gerbang hampir selesai ditutup mobil Xylona sudah pergi meninggalkan pekarangan sekolah.
Mobil Xylona yang convertible jadi ibu Jennie bisa melihat siapa saja yang berada di mobil tapi sayang, dia tidak mengetahui siapa mereka selain Shawnette yang notabenenya adalah putri Vina.
Mereka menoleh ke belakang dan betapa tidak ada akhlaknya Xylona dan Shawnette mereka malah mengejek ibu Jennie.
"Ibu Jennie, kami bolos ya" teriak Xylona agar ibu Jennie bisa dengar.
"Ibu, mau ikut ayuk masih muat tapi ibu di ban ya" ledek Shawnette.
Ibu Jennie sudah mengepalkan tangannya dan menahan emosinya melihat kelakuan muridnya.
"Kemari kalian atau ibu panggil orang tua kalian!" teriak ibu Jennie.
"Kami enggak takut" balas mereka bersama.
"Bye ibu Jennie" ujar Aurora melambaikan tangannya.
Xylona menancap gas dan bayangan mobilnya dan mereka hilang dari pandangan ibu Jennie.
Ibu Jennie menghembuskan nafasnya kasar dan memijit pelipisnya, "enggak emak enggak anak sama aja buat pusing kepala barbie" ucapnya.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.
See you
__ADS_1