
Seorang gadis yang tertidur begitu nyenyak merasa sedikit terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya dan angin pagi yang berhembus masuk ke dalam.
Ia begitu malas membuka matanya tapi karena sinar matahari dia harus, ia mengucek matanya dan mengumpulkan nyawanya.
Ia bangun dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya.
Ia membuka hp dan bisa melihat banyak sekali notifikasi yang berasal dari grup kelas, dan ada grup yang tidak ia tahu, ia membuka grup dan bisa melihat siapa peserta dan beberapa deskripsi yang dibuat di grup tersebut.
"Ternyata grup yang dibuat Xylona" ucap Aurora menscrolling hp.
Cecans Squad
Xylona
Hi guys
Hari ini jangan lupa
Datang ke rumah kak Citra
Shawnette
Sip aman tuh!
Demi makan gratis 🤣
Raline
Share loct ok!
"Untung saja mereka membuat grup ini! Kalau gak mungkin aku sudah lupa sama ulang tahun kak Citra" ucap Aurora menepuk jidatnya memandang ponsel di tangannya.
Aurora beranjak dari kasurnya, ia mulai melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya, ia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aurora menyalakan shower mengguyur seluruh tubuhnya dan menggosok dengan sabun, ia mengambil body scrub dan menggosok semua tubuhnya dengan benda tersebut agar sel kulit mati terangkat dan mencerahkan.
Aurora membasuh tubuhnya dengan air agar sel kulit mati jatuh ke bawah, selesai mandi ia keluar dan membuka lemari pakaian.
"Pakai baju yang mana ya?" ucap Aurora melihat-lihat semua baju, "masa gak ada yang cocok, sial seharusnya aku beli baju baru" keluhnya terpaksa mengambil gaun berwarna cream.
Aurora tahukah dia bahwa lemarinya sudah penuh dengan semua pakaiannya, ia bahkan ingin membeli baju baru padahal kenyataannya dia masih memiliki banyak pakaian bagus yang tidak pernah terpakai.
Aurora membuka laci meja hias, ia mengambil hair dryer, ia mulai menyalakan dan mengeringkan rambutnya yang panjang bergelombang, selesai itu dia memakai gaunnya dan sedikit menghias dirinya dengan skincare dan make up andalannya.
Aurora keluar dan akan mampir ke tempat kak Revan menjemput Sean, Aurora sudah berdiri di depan unit Revan dan memencet bel.
Tidak lama Aurora memencet bel, kak Revan sudah membuka pintu dengan Sean yang bersamanya.
"Kakak, Sean kangen sama kakak" ujar Sean dengan suara khas anak-anak.
"Kakak juga kangen sama adik kakak yang lucu ini" balas Aurora mencium pipi Sean.
"Ehem.... kayaknya aku dikacangi oleh kalian berdua" ujar kak Revan memajukan bibirnya.
"Ih kak Revan bisa aja?" ucap Aurora tertawa kecil.
Revan melihat penampilan Aurora dari atas sampai bawah, ia mengangkat satu alisnya, "Ra, mau jalan sama pacar ya?" tanyanya.
Aurora mengerutkan keningnya, "enggak" ucapnya.
"Terus kenapa kau sudah rapi pagi-pagi begini?" tanya Revan.
"Aku mau ke rumah temanku kak!" jawab Aurora.
"Kak, Sean sudah mandi ya?" tanya Aurora melihat Sean yang sudah rapi.
"Iya, kami mandi bersama tadi" balas Revan.
"Jadi, aku tidak perlu memandikan Sean lagi, Sean ayo kita pergi" ujar Aurora mengulurkan tangannya.
"Kakak, padahal kak Revan ingin ngajak kita mancing tapi kakak malah pergi ke rumah teman kakak" balas Sean ketus menggembungkan pipinya.
Revan merasa gemas dengan pipi gembul Sean malah menggigitnya, Sean sudah memukul kecil tangan Revan.
"Kak Revan jahat! Masa pipi Sean digigit" ujar Sean ketus mengusap pipinya.
Aurora tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, ia beralih menatap kak Revan, "kak, terimakasih telah menjaga Sean semalam" ucapnya membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Kau tidak perlu sungkan seperti itu, kita bukanlah orang asing aku sudah menjadi tetanggamu sejak Sean masih bayi" ujar Revan.
Revan sudah lama tinggal di sebelah unit Aurora, Revan tinggal di sini ketika dia melanjutkan S2 dan alasan kenapa mereka bisa dekat karena Revan juga ikut turun tangan dalam merawat Sean.
"Maaf kak, tapi aku harus pergi sekarang! Terimakasih kak!" ujar Aurora.
"Sama-sama, Sean maaf mancingnya kapan-kapan saja ya" ucap Revan mengacak rambut Sean.
"Padahal Sean ingin mancing dan lihat bentuk ikan waktu ikannya masih hidup" balas Sean polos.
"Sean, pamitan sama kak Revan sayang!" ucap Aurora.
"Kak Revan, Sean pulang ya bye, kak Revan janji bawa Sean mancing, kan?" ucap Sean menaikkan kelingkingnya.
Revan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Sean yang kecil, "kakak janji tapi cium dulu" ucapnya menoel pipinya sendiri.
Sean mencium pipi Revan, "bye kak Revan, jangan kangen sama Sean soalnya kangen itu berat" ucapnya.
__ADS_1
Mereka mengerutkan kening dan sedikit terkejut dengan perkataan Sean dan berpikir darimana Sean mempelajari kata-kata gombalan seperti itu.
"Sean, belajar kata-kata seperti itu darimana?" tanya Revan lembut.
"Kan kan Revan semalam yang ajarin Sean" balas Sean polos.
Revan mengingat apa yang dikatakannya sampai Sean bisa meniru perkataannya, ia menepuk jidatnya, "sial, pasti karena aku menggombal asistenku waktu nelpon" ucapnya.
"Sean, lain kali kalau kak Revan ngomong seperti itu Sean jangan tiru, ok!" ujar Aurora lembut.
Sean mengangguk kecil, "tapi kenapa?" tanyanya.
"Suatu hari nanti Sean pasti mengerti" jawab Aurora mengacak rambut Sean.
Sean mengerucutkan bibirnya karena Aurora tidak menjawab pertanyaannya, Aurora menggelengkan kepalanya melihat bibirnya Sean.
Aurora menatap kak Revan, "kak, terimakasih mau jaga Sean dan maaf aku harus pergi sekarang dengan Sean" ucapnya.
"Hati-hati Ra" balas kak Revan.
Aurora menautkan tangannya dengan Sean, ia melangkah kakinya meninggalkan unitnya, Aurora memesan taksi online, mereka menunggu selama beberapa menit.
Taksi datang dan mereka menaikinya, setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit mereka tiba di depan sebuah rumah tingkat dua yang minimalis.
"Kakak rumahnya macam istana" ujar Sean berbinar.
"Iya kau benar" balas Aurora, "pantas saja orang tuanya ingin menuntut Helen ternyata dia lahir dari sendok emas" ucapnya dalam hati.
Aurora menekan bel yang ada pada gerbang, tidak lama dia menekan bel sudah ada seorang satpam yang membukanya.
"Temannya non Citra?" tanya satpam tersebut
"Iya" balas Aurora.
"Ayo masuk neng" ujar satpam mempersilahkan dia dan Sean masuk.
Aurora berjalan masuk bisa ia lihat sepanjang jalan dihiasi dengan tanaman bonsai dan air mancur di tengahnya, mereka masuk ke dalam rumah dan bisa melihat bagaimana bentuk dan kemewahan yang ada.
Aurora berjalan masuk ke dalam sudah disambut dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat awet muda dan berpenampilan modis, ia bisa menebak pasti wanita ini adalah ibunya Citra.
Aurora membungkukkan tubuhnya, "selamat siang tante" ucapnya.
"Siang, temannya Citra?" tanya wanita itu yang mengenakan gaun berwarna merah.
"Iya tante, saya Aurora dan ini adik saya Sean, Sean salam sama tante!" ucap Aurora.
Sean menyalami tangan ibunya Citra, wanita itu malah tersenyum dan mengacak rambut Sean, "kau anak yang lucu" ucapnya dan beralih menatap Aurora, "Aurora yang main jambak-jambakan sama Helen, kan?"
Aurora merasa sedikit kikuk dan menggaruk tengkuknya, "iya tante" balasnya.
"Aku sangat berterimakasih karena kau telah menolong Citra!" ucap mama Citra tulus.
"Kau anak yang baik, seandainya saja aku mempunyai putra seusia denganmu mungkin aku ingin menjodohkan kalian" seloroh ibunya Citra.
Aurora tersenyum kikuk dihadapan ibunya Citra, "Tante, kak Citra mana ya?" tanyanya.
"Citra masih bersiap-siap, mari tante antar ke kamarnya"
Ibunya Citra melangkah kakinya menaiki anak tangga, Aurora mengikutinya dengan menggandeng tangan Sean, ia menaiki anak tangga bisa melihat beberapa foto keluarga yang dipajang di atas dinding.
Ibu Citra berhenti di depan sebuah pintu ukir kayu, Aurora juga berhenti, wanita itu mengetuk pintu, "Citra, apa kau sudah selesai? temanmu sudah tiba" ucapnya sedikit berteriak.
Terdengar balasan dari arah dalam, "suruh saja mereka masuk!" teriak Citra keras.
Ibunya Citra berbalik, "kalian bisa masuk, dan maaf tante harus pergi dulu" ucapnya ramah melangkah kakinya meninggalkan mereka.
Aurora mengetuk pintu, "kak Citra, aku boleh masuk?" tanyanya keras.
"Masuk aja Ra, pintunya gak dikunci" balas Citra tidak kalah kerasnya.
Aurora membuka handle pintu, ia bisa melihat kamar Citra yang didominasi oleh warna pink, sebuah lemari besar yang berada pada sudut kamar, tapi ada hal menarik di kamar ini ada sebuah piano dan gitar yang terletak di tengah kamarnya.
"Kak Citra, kamar kakak bagus" puji Aurora berjalan menuruni tangga kecil yang ada di kamar Citra.
"Enggak, bagiku kamar ini biasa saja" ujar Citra.
"Tentu saja kau merasa biasa saja kau sudah terlahir dari sendok emas" ucap Aurora dalam hatinya.
Citra menatap Sean dan menarik pipi gembul Sean, "Ra, ini adikmu?" tanyanya.
"Iya, kak namanya Sean!" balas Aurora.
"Aduh, pipinya buat aku geram ingin menariknya terus" ujar Citra asyik menarik pipi Sean.
"Kakak, lihat teman kakak masa pipi Sean ditarik!" teriak Sean sedikit memberontak.
Citra melepaskan tangannya dari pipi Sean, Sean senang pipinya tidak ditarik lagi, ia mengelus pipinya.
"Aurora, adikmu begitu lucu bahkan adikku kalah" ucap Citra jujur.
"Tentu saja adikku imut jika kakaknya cantik" seloroh Aurora.
"Baru dipuji kupingnya udah naik dua meter"
"Iri bilang bos"
Aurora memandang piano berwarna putih, Citra melihat tatapan Aurora yang mengarah pada piano mengangguk kecil.
"Apa kau ingin mencoba memainkannya?" tawar Citra.
__ADS_1
"Enggak, terimakasih kak!" tolak Aurora halus.
Mereka mengobrol datanglah tiga orang gadis yang berhasil membuat kerusuhan di kamar Citra dengan teriakan mereka.
"Hi guys queen Xylona comeback, mana red carpet y!" teriak Xylona.
"Gak ada red carpet buat lo yang ada lumpur untuk lo" seloroh Shawnette.
"Lo pikir gue babi apa" ucap Xylona ketus.
"Iya memang" balas Raline.
"Ih Raline, masa Xylona dinistain seperti ini" rengek Xylona seperti anak yang merengek pada ibunya.
Mereka tertawa melihat Xylona yang merengek selayaknya anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada ibunya.
"Ada kak galak!" ujar Sean yang tertuju pada Shawnette.
Shawnette yang tahu panggilan itu dituju untuk dirinya, ia berbalik dan menatap Sean, "apa kau tidak punya panggilan lain untukku selain itu?" tanyanya sedikit ketus.
"Enggak, karena kakak cocok dipanggil kak galak" ujar Sean polos.
Shawnette mengelus dadanya, untung saja dia memiliki stok kesabaran yang banyak, Xylona melihat Sean gemas dan secara reflek menarik pipi gembul Sean.
"Aduh.... gemas ya anak siapa sih" ujar Xylona menarik pipi Sean.
"Kok semua orang suka narik pipi Sean? Kalau Sean nggak ganteng lagi gimana" protes Sean.
Xylona tidak peduli dengan teriakkan Sean yang ada dia malah asyik menarik pipi Sean sampai semburan merah keluar dari pipinya.
Aurora yang merasa kasihan pada adiknya meminta Xylona untuk melepaskannya, "Lona, tolong jangan ditarik lagi, lihat pipinya sudah merah" ujarnya ragu.
Xylona melihat pipi Sean yang sudah memerah langsung melepaskan tangannya, "aduh.... maafkan kakak ya, kakak kebablasan soalnya kamu gemes" ucapnya mengacak rambut Sean.
Sean berlari pada Aurora dan langsung memeluknya, "kakak, kita pulang aja" pinta Sean.
"Kita nanti pulang tapi enggak sekarang ya" balas Aurora sedikit halus agar Sean mengerti.
"Pokoknya Sean mau pulang" ucap Sean tanpa ada penolakan yang sudah mengeluarkan air matanya.
Aurora melihat air mata Sean merasa bingung bagaimana cara menenangkan Sean, mereka yang melihat Sean menangis juga ikut merasa bersalah.
"Gara-gara lo ini, Lona" ujar Raline.
"Kok gue?" balas Xylona yang tidak terima.
"Coba aja lo gak tarik pipi itu bocah pasti dia enggak nangis" saut Shawnette.
"Gue tarik pipi itu bocah karena lo yang mulai duluan Shawnette" balas Xylona.
Citra pusing melihat kedua sisinya, di satu sisi Aurora yang mencoba menenangkan Sean dan satu sisi lainnya teman-temannya bukannya membantu malah berdebat.
Citra menarik napas panjang dan berjalan mendekat ke arah Aurora dan Sean, "Sean sayang, jangan pulang ya soalnya di sini ada mainan" ucap Citra.
Sean yang mendengar kata mainan mengangkat kepalanya, "pasti bohong" balas Sean ketus.
"Kakak enggak bohong di sini memang ada banyak mainan mulai dari mobil, PlayStation, dan....." belum sempat Citra menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Sean, "ada Naruto enggak?" tanyanya.
Citra menarik bibirnya dan mengelus surai Sean, "di sini semuanya ada tinggal Sean sebutin aja Sean mau apa" ujarnya lembut.
"Sean mau di sini, Sean gak mau pulang" ucap Sean dengan suara seraknya yang habis menangis.
Aurora merasa lega Sean sudah berhenti menangis, "terimakasih kak" ucapnya.
"Sama-sama" balas Citra dan beralih menatap Sean, "Sean ikut kakak yuk biar kakak antar ke kamar adik kakak" ajak Citra mengulurkan tangannya.
Sean membalas uluran tangan Citra, "udah ayuk kita main" ucapnya.
Citra berjalan keluar dari kamar dengan membawa Sean, mereka merasa sedikit lega karena tidak perlu mendengarkan rengekan dan tangisan Sean.
"Untuk aja gue enggak punya adik" ujar Xylona.
"Memang kenapa?" tanya Raline.
"Soalnya ribet harus ngurus dan jaganya belum lagi nangis macam tadi" ucap Xylona kuat yang dapat didengar oleh Aurora.
Shawnette mendengar suara Xylona yang sedikit kuat langsung menutup mulut Xylona dengan tangannya, "Lo, bisa diam enggak hargai Aurora" ucapnya menunjuk Aurora dengan lirikannya.
Xylona mengerti langsung menutup mulutnya, ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal dan tersenyum kikuk, "Ra, maafin gue ya, gue gak bermaksud menyinggung perasaan lo" ucap Xylona dengan nada sedikit bersalah.
"Enggak apa-apa, ini salahku juga" balas Aurora tersenyum kecut.
Xylona merasa sedikit tidak enak pada Aurora, ingin sekali dia membenturkan kepalanya tapi dia tahu itu pasti sakit.
Citra kembali ke kamarnya setelah mengantarkan Sean ke kamar adik laki-lakinya yang bernama Lucas.
"Udah ayo kita mulai" ujar Citra girang.
Bisa dilihat dari tatapan mata Citra yang bahagia, Aurora dan Xylona berusaha untuk tidak canggung yang akan merusak pesta Citra.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update
See you
__ADS_1