
Kediaman Evans
Seorang wanita paruh baya yang sedang bermain piano dengan nada dan melodi yang tidak beraturan,dia memainkan piano itu untuk meluapkan semua emosi dan amarahnya.
Wanita yang bermain piano itu adalah Auristella Evans seorang pianis terkenal yang berhasil memenangkan kompetisi resital piano di Eropa ketika dia berusia 19 tahun, dirinya masih aktif melakukan pertunjukan piano dan sering melakukan tour.
Ada seorang pria paruh baya yang masuk kedalam ruangan musik, Auristella mendengar ada langkah kaki yang mendekat dia langsung menoleh dan melihat suaminya Alex Francisco Evans, seorang pebisnis di bidang minyak dan pertambangan dan juga termasuk salah satu orang yang berpengaruh di negaranya, dia memiliki kepribadian yang tegas dan juga jangan lupakan sifat arogan yang dimilikinya.
"Sampai kapan kau akan terus membahas putri kita yang sudah tiada?" tanya Alex memandang Auris dengan tatapan tajamnya.
"Apa kau ketakutan sayang ketika aku membahasnya?" tanya Auris balik memasang senyum smirk.
"Aku tidak pernah takut pada apapun kecuali pada kegilaan yang kau miliki" jawabnya tegas tanpa memandang Auris.
"Oh ya, jadi kenapa kau selalu menghindar ketika ada pembahasan tentang putri kita sayang?" ujar Auris memainkan nada yang mencekam.
"Sekali lagi aku tegaskan Auris jangan pernah membahas putri kita lagi, dia sudah tenang di sana dan juga jangan sampai Vino mengetahui tentang dia" balas Alex tegas.
"Kenapa Vino tidak boleh tahu tentang adiknya?"
"Karena aku tidak ingin Vino mengetahui tentang kematian adiknya, itu pasti akan menyakiti hatinya" jawab Alex tentu saja berbohong.
"Sungguh menarik kau tidak ingin Vino bersedih tapi kau malah mencampakkan putriku dari keluarga ini"
"Kau tidak akan pernah mengerti Auris, putrimu tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari keluarga ini" ujar Alex lirih memandang setiap foto para tetua yang bergantung di dinding.
"Iya aku lupa, aku tidak akan pernah mengerti kegilaan keluarga ini, tapi ingatlah Alex jika suatu hari dia muncul dan mengungkapkan semua di depan publik kau harus menerima konsekuensinya" ujar Auris masih tetap memainkan nada yang mencekam.
"Tapi sayang sekali Auris itu tidak akan pernah terjadi, karena dia sudah pergi meninggalkan dunia ini, kau tidak mungkin lupa bukan?" ucap Adam tersenyum smirk sembari menyentuh pipi istrinya dan memberikan kecupan di bibirnya.
Alex pergi meninggalkan Auris sendiri di ruangan musik, Auris masih tetap memainkan nada-nada yang hancur dan menyakitkan telinga siapapun yang mendengar nada tersebut, terdapat kemarahan dan kesedihan di matanya yang indah.
"Tengoklah Alex dia akan datang dan membuat kalian semua ketakutan, aku akan menemukan dia dan mengungkapkan keburukan yang kau perbuat" teriak Auris yang cuma bisa didengar oleh dinding di ruangan ini.
Auris berteriak menggelegar dan menggema di ruangan musik, seorang pria masuk ke dalam bahkan dirinya bisa mendengar nada-nada yang mencekam yang dikeluarkan dari tuts piano, Vino berdiri di samping Auris.
"Ma.....bisa nggak main piano ya besok aja?" tanya Vino sedikit mengeraskan suaranya
"Nggak Vino mama harus latihan sekarang!" balas Auris tanpa berhenti menekan tuts piano.
"Mama baru saja pulang dari Italia beberapa hari lalu seenggaknya mama harus istirahat" ucap Vino mengandung nada perintah.
"Kau tahu aku baru saja melakukan kesalahan ketika tampil di Italia!" balas Auristella
"Ma.....itu hal yang wajar yang nggak wajar itu kenapa papa marah besar ketika kau melakukan kesalahan di Italia!" ujarnya dengan penuh tekanan.
Auristella baru saja pulang dari Italia beberapa hari lalu untuk melakukan tour, dia selalu melakukan tour dan bahkan dia pernah tampil di depan para bangsawan Spanyol.
"Aku menyinggung sesuatu di depan ayahmu!" ujar Auristella lirih
"Apa yang mama katakan?" tanya Vino penasaran
"Belum saatnya kau mengetahui tentang dia" jawab Auristella lirih menekan tuts piano
"Dia? dia siapa? apa hubungannya dengan kalian?" tanya Vino yang berhasil membuat dirinya penasaran dengan yang baru saja disebutkan ibunya.
"Kau pasti sudah bertemu dengan dia kan! bagaimana dirinya?" tanya Auris dengan suaranya yang pelan
"Maksud mama apa?" tanya Vino balik
"Jika suatu hari rahasia keluarga ini terbongkar mama harap kau bisa menghadapinya" ujar Auris pelan
Auris beranjak dari tempat duduk dan bersiap meninggalkan ruangan ini tapi ia menghentikan langkah kakinya terlebih dahulu dan berbalik memandang putranya, "sayang, pergilah tidur lebih awal bagaimanapun besok kau harus sekolah dan mulai besok aku juga akan mengajar di sekolahmu" ujarnya lembut
Vino masih terdiam untuk sesaat dan mencerna semua yang dikatakan oleh ibunya itu.
"Apa yang dimaksud mama?mama sedang membicarakan siapa?" ujar Vino bertanya kepada dirinya sendiri tapi dia tidak bisa menemukan jawabannya, " Dan juga kenapa aku bisa lupa jika mulai besok mama sudah mulai mengajar? Sungguh sial nasibku ini" ucapnya mengacak rambutnya.
Vino tidak ingin mengambil pusing dengan memikirkan ibunya yang akan mengajar besok, ia merasa matanya begitu berat ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan musik dan pergi ke kamarnya untuk tidur.
__ADS_1
...........................................................
Seorang pria yang masih tidur begitu pulas, ia tidak terganggu sama sekali dengan bunyi alarm yang terus berdering, ia masih tertidur nyenyak sembari memeluk guling sampai tidurnya harus terganggu karena kehadiran seorang wanita paruh baya.
"Vino bangun......" ucap Auris menggoyang tubuh putranya.
Vino tidak mau membuka matanya yang ada dia menarik selimut menutup kepalanya.
"Vino bangun sekarang....!" teriak Auris kuat yang tidak berhasil membangun Vino.
Vino sebenarnya sudah bangun dari tadi sejak ibunya berteriak di dekat telinganya tapi ia begitu malas untuk beranjak dari kasur empuknya.
Vino sudah tidak tahan lagi dengan teriakan Auris memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.
Auris melihat Vino yang sudah masuk ke kamar mandi langsung pergi dari kamar putranya, ia berjalan menuruni anak tangga dan berpapasan dengan suaminya.
Auris tidak melayangkan tatapan tajam pada Alex melainkan senyum manisnya yang mampu menghipnotis para pria, "selamat pagi sayang!" ucapnya lembut.
Alex menyunggingkan senyum smirk, "apa kepalamu baru saja terbentur sayang sampai kau menyapaku dengan suara lembut?" tanyanya.
"Kita sedang berada di rumah sayang, dan juga ada Vino sebagai orang tua yang baik kita tidak boleh menunjukkan pertengkaran kita terhadap putra kita bukan?"
"Yang kau katakan itu memang benar sayang tapi aku juga harus menambah satu hal yaitu jika kita berada di luar kita harus menunjukkan pada semua orang bahwa kita itu pasangan yang romantis sayang" ujar Alex mengelus surai rambut Auris.
Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, Vino melihat ayahnya yang sedang mengelus surai rambut ibunya merasa sedikit heran pada mereka berdua.
"Semalam berantam sekarang udah romantis aja" ucap Vino pelan terus berjalan menuruni anak tangga.
Auris dan Alex yang mendengar suara langkah kaki langsung mengangkat pandangan mereka ke atas dan melihat putra mereka yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
"Sayang, kapan kau berdiri di sana?" tanya Auris lembut.
"Sudah dari tadi" balas Vino.
"Kapan? Kenapa papa tidak sadar?" ucap Alex.
"Bagaimana papa bisa sadar jika kalian malah romantisan di sini" ucap Vino ketus.
Mereka menuruni anak tangga bersama dan duduk di depan meja makan yang sudah tersedia menu sarapan buat mereka.
Auris mengoles selai coklat di atas roti dan meletakkan roti itu di atas piring Vino, Alex dan dirinya.
Mereka memakan roti dalam keadaan hening tidak ada satu pun di antara mereka yang ingin membuka suara sampai Auris membuka suaranya.
"Vino, mulai hari ini mama akan mengajar di sekolahmu" ujar Auris seraya minum jus.
Vino merasa sedikit kesal harus diingatkan kembali jika ibunya akan mengawasinya selama 24 jam baik di rumah maupun sekolah.
"Oh iya Vino, walaupun mama adalah guru di sana mama tetap akan memperlakukan kamu dengan murid-murid lain setara" ujar Auris tegas sembari menuang air untuk suaminya.
"Mama, dari seluruh sekolah di kota ini kenapa harus Phoenix High School tempat mama mengajar?" ucap Vino ketus.
"Terserah mama mau mengajar di mana" balas Auris.
Vino memilih diam dan tidak ingin berdebat dengan ibunya karena ia yakin jika dia terus berdebat maka dijamin itu tidak akan pernah selesai.
Alex beranjak dari duduknya, "sayang aku sudah selesai" ucapnya.
"Sayang, kenapa cepat sekali kau cuma memakan sepotong roti kau harus memakan yang lain!" ujar Auris.
"Aku harus rapat dengan beberapa dewan direksi, sayang aku harus berangkat, maaf karena tidak bisa menemanimu" Ujar Alex dengan nada rendah
"Kau tidak perlu minta maaf! Aku tahu kau sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi kau jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu sayang" balas Auris merapikan dasi suaminya.
"Aku pergi dulu sayang" ucap Alex mencium kening Auris.
Alex berjalan mendekat pada Vino lalu mencium pipi Vino, "sayang papa berangkat" ucapnya juga mengacak rambut Vino.
"Papa, aku bukan anak kecil lagi!" protes Vino dengan nada kesal.
__ADS_1
Alex tentu saja tidak mendengar suara vino yang protes padanya karena ia sudah pergi terlebih dahulu.
Vino memakan sarapannya kesal dan meminum jus dalam sekali teguk, "mama, Vino selesai" ucapnya.
"Kau tidak ingin pergi ke sekolah bersama mama?" tanya Auris.
"Ku rasa tidak perlu, aku tidak ingin kita menjadi pusat perhatian di sana" balas Vino yang sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi.
"Hati-hati sayang" ucap Auris lembut tersenyum pada Vino.
Vino menyalami punggung tangan ibunya, ia melangkah kakinya keluar dan berjalan ke garasi.
Ia memilih untuk membawa mobil saja untuk hari ini karena moodnya yang sedang tidak baik, jika ia membawa motor dalam mood seperti ini ia takut akan terjadi sesuatu.
Vino masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobilnya dan langsung menancapkan gas menjalankan mobilnya, seorang satpam yang melihat mobil tuannya langsung membuka gerbang agar mobil tersebut bisa pergi dengan mudah.
Vino membawa mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata, ia mengendarai mobil seraya mendengar musik dari radio, ia fokus ke depan sampai ada seorang kakak beradik yang menjadi perhatiannya.
Anak laki-laki itu menyebrang jalan dengan menggandeng tangan adiknya agar tidak lepas dari pandangannya, melihat hal tersebut membuat Vino tersenyum kecut.
"Seandainya saja adikku masih hidup mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anak itu" ucapnya pelan.
Vino tidak ingin berlama-lama memandang anak-anak itu, ia langsung menambah kecepatan mobilnya ia begitu mudah memotong mobil-mobil yang berada di depannya, tidak butuh waktu lama akhirnya dia tiba di sekolah.
Vino memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk siswa, ia keluar dan bisa melihat tatapan para siswi padanya tapi ia tidak ingin mengambil pusing dengan mereka.
Vino bisa melihat suasana di sekolah ini yang begitu sibuk dengan beberapa teriakkan para murid yang sibuk menyusun penyambutan untuk ibunya.
Vino masuk ke kelas dan meletakkan tasnya kasar, ia memilih untuk menyandarkan kepalanya di atas meja.
Teman-temannya yang melihat Vino bertanya-tanya melihat teman mereka yang kondisi moodnya sedang tidak baik.
"Itu anak kenapa?" tanya Chiko.
"Lo lupa hari ini adalah hari penyambutan nona Auristella" jawab Zayn.
"Terus hubungannya apa?" tanya Chiko balik.
"Gue enggak tahu, lo tanya aja sama Vino" balas Zayn.
Mereka mendekat pada Vino yang sudah menenggelamkan kepalanya di tanya.
"Vino, lo kenapa?" tanya Felix yang malah menoel pipi Vino.
"Never mind" jawab Vino yang menepuk tangan Felix.
"Tangan gue" ucap Felix lebay.
Mereka menaikkan alis bingung melihat temannya, sampai terdengar suara radio yang menjadi perhatian mereka.
"Selamat pagi semuanya! Kalian semua harus ke aula sekarang untuk penyambutan nona Auristella sekarang!" Ucap penyiar radio yang tidak kalah hebohnya.
Semua murid yang berada di dalam kelas langsung keluar ketika mendengar radio tersebut, Vino dan teman-temannya tidak ada niat sama sekali untuk pergi keluar.
"Lo semua enggak ada yang mau keluar?" tanya Reza meletakkan dagunya di kursi.
"Buat apa kita keluar? Kita sudah sering lihat Tante Auris" balas Felix menscrolling hp.
Mereka mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan Felix, buat apa mereka keluar dan melihat Auristella mereka sudah terlalu sering melihatnya.
Mereka memilih untuk tetap berada di kelas saja dan tidak ada niat ingin keluar yang ada mereka malah memainkan sebuah game online.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update
__ADS_1
See you