Fille Forte

Fille Forte
Tertarik


__ADS_3

Suasana kantin yang ribut seperti biasa dan juga jangan lupakan teriakkan kaum hawa yang selalu berteriak ketika melihat Vanostra Evil.


Seorang gadis yang memandang seorang pria secara diam-diam, dia terkadang tersenyum dan tertawa sendiri melihat tingkahnya.


Dia tidak pernah memandang laki-laki seperti ini selain pada satu orang dan tentu saja orang itu adalah Galaksi, tidak tahu kenapa dia bisa tertarik pada Galaksi yang dijuluki sebagai anbu oleh adiknya.


Aurora sedang duduk di kantin dengan memakan gorengan dan dia duduk bersama dengan Raline, Aurora ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Raline, terkadang dia juga memperhatikan sekitarnya atau lebih tepatnya dia sedang memandang Galaksi.


"Kita ketemu lagi" ujar Aurora berbasa-basi.


"Iya kenapa sendiri aja?" tanyanya.


"Belum punya teman Line!" balasnya dengan cengengesan.


"Masa? gadis cantik sepertimu tidak ada yang mau berteman dengan mu?"


"Bisa aja, kalau kamu kenapa selalu sendiri?"


"Sama seperti kamu"


"Line boleh nanya nggak?"


"Boleh mau nanya apa?"


"Kamu bilang pada ku kemarin tentang kak Galaksi, aku masih penasaran kenapa dia selalu memakai topeng?" tanya Aurora kepo.


"Ra, aku kemarin bilang kalau wajah kak Galaksi itu hancur"


"Terus kenapa nggak operasi plastik aja?"


"Kamu sangka operasi plastik itu gampang apa?" ucapnya kesal.


"Iya gampang tinggal cari plastik di pasar, tinggal pilih mau warna apa! hitam, merah, biru," seloroh Aurora.


"Rora serius dong!" decak Raline.


"Iya aku serius"


"Dia tidak bisa melakukan operasi plastik karena wajahnya sudah mengalami kerusakan yang begitu parah" ujar Raline rilih.


"Terus walaupun wajahnya sudah rusak parah tetap harus operasi plastik kan?" ucap Aurora.


"Ra, dia tidak bisa melakukan operasi plastik" ucapnya pelan.


"Maksudnya?"


"Ra, cara untuk memperbaiki wajahnya adalah dengan operasi transplantasi wajah."


"Kenapa dia tidak melakukan operasi itu jika wajahnya bisa kembali seperti semula?" tanya Aurora.


"Ra, transplantasi wajah tidak semudah yang kau lihat di film, dibutuhkan seorang pendonor yang bersedia mendonorkan sel dan jaringan kulitnya, walaupun ada pendonor tapi jika DNA mereka tidak cocok operasi tidak akan bisa dilakukan," tutur Raline secara jelas.


"Terus apa susahnya? mereka kan kaya tinggal cari aja pendonornya?" ucap Aurora spontan.


"Kamu sangka ini donor darah apa?"


"Emang" balasnya santai.


"Aku nggak tahu mau jelasin macam mana lagi, jadi lebih baik kau lihat di internet saja mungkin kau akan tahu apa yang ku maksud!" ujar Raline memijit pelipisnya.


"Tapi kenapa cuma sebagian wajahnya saja yang hancur?"


"Aku tidak tahu, apa kau tertarik dengan dia?"


"Enggak!"


"So what? kenapa kau terus menanyakan tentang dia?"


"Aku cuma penasaran saja" elak Aurora


"Dari penasaran bisa jadi rasa suka!" goda Raline

__ADS_1


"Ih Raline......!"


Ada dua orang gadis yang duduk di depan Aurora dan Raline, mereka adalah Shawnette dan Xylona yang tidak pernah lelah ingin membujuk Aurora agar dapat berteman dengan mereka.


Aurora mendengkus kasar melihat dua orang yang paling dia hindari tapi kedua orang itu malah memasang muka tanpa dosa padanya.


"Hai Ra, apa kabar?" ujar Xylona berbasa-basi yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Aurora.


"Perasaan baru kemarin kita bertemu di kantin ini juga" balas Aurora menarik senyumnya.


"Itu kemarin Ra, dan ini sekarang"saut Shawnette.


Shawnette memandang seorang gadis dengan rambut kepang dua dan kacamata yang bertengger di hidup mancungnya,ia mengulurkan tangannya pada gadis itu.


"Hai, kenalkan namaku Shawnette" ujar Shawnette ramah.


Raline melihat uluran tangannya Shawnette membalasnya dan tersenyum ramah padanya, "aku Raline."


"Aku Xylona salam kenal" ujar Xylona yang juga mengulurkan tangannya dan tentu saja Raline juga membalasnya.


"Oh iya, bagaimana pulang sekolah kita hangout?"celetuk Xylona menatap mereka berdua.


"Tapi rasanya tidak enak jika kita baru kenal udah langsung jalan bareng" balas Raline kaku.


"Tidak apa-apa, mungkin dengan ini kita bisa dekat"ujar Shawnette menarik senyumnya.


Aurora tidak menanggapi obrolan antara ketiga orang itu, pandangannya fokus pada satu pusat dia memandang seorang gadis yang memegang sebuah cermin tentu saja dia tahu nama gadis itu adalah Helen dan ada tiga orang gadis juga bersamanya tapi dia tidak mengetahui nama mereka.


Citra yang membawa pesanan ke meja mereka, ketika dia meletakkan pesanan di atas meja dia sudah mendapatkan bentakan dari Helen, "bawa ini aja lama amat."


Citra cuma bisa menundukkan kepalanya dan menerima bentakan dari Helen, banyak orang yang memperhatikan mereka tapi tidak ada satupun yang ingin membantu Citra, Helen melemparkan air ke wajahnya Citra.


"Maaf, tapi lo memang pantas digituin," ujar Helen santai.


Aurora yang melihat itu merasa sedikit kasihan padanya,ia beranjak dari duduknya, Raline yang menyadari Aurora ingin pergi langsung bertanya padanya, "Aurora mau kemana?"


"Aku ingin memberikan pelajaran pada mereka semua" ujarnya menunjuk meja Helen.


"Ra, aku sudah pernah mengatakan jangan pernah mencari masalah dengan mereka" ujar Raline khawatir.


"Aku tidak peduli" balasnya menepis tangan Raline.


Aurora melangkah kakinya ke meja mereka, Shawnette dan Xylona yang melihat Aurora berjalan ke sana saling menatap satu sama lain.


"Nette, Aurora ngapain pergi ke meja Helen?" tanya Xylona memandang punggung Aurora.


"Aku tidak tahu, Raline apa kau tahu?" tanya Shawnette pada Raline.


"Aurora bilang dia ingin memberi pelajaran pada mereka," jawab Raline pelan.


"Aurora keren" puji Xylona mengancung jempolnya.


"Bagi kalian keren tapi bagaimana hidupnya selama dia bersekolah di sini" ucap Raline ketus.


"Tidak perlu mengkhawatirkan itu! ayo kita lihat apa yang akan Aurora lakukan"ujar Shawnette santai.


Aurora melangkah kakinya ke meja mereka, ia bisa melihat Helen yang akan menampar pipinya Citra, dia tidak diam melihat itu dia menahan tangan Helen dan langsung saja menamparnya.


Semua orang langsung menatap dan mulai membicarakan mereka termasuk Galaksi dan teman-temannya, Helen yang tidak terima ditampar dia langsung mengangkat kepalanya dan melihat orang yang menamparnya.


"Maksud lo apa hah pakai acara nampar gue?" teriak Helen keras.


Aurora memasang muka datar dan tidak bergeming mendengar teriakkan Helen yang ada dia malah membalas ucapan Helen, "karena lo pantas dapatkan itu."


Helen kesal mendapatkan jawaban seperti itu dan yang membuat dia lebih kesal lagi adalah karena perkataan dari Aurora.


"Memang lo siapa sampai berani nampar gue? masih adik kelas aja lo belagu," ujar Helen memperhatikan name tag di baju Aurora.


"Ya berani dong, sama-sama makan nasi kita" jawab Aurora simple.


"Gue tanya sekali lagi ke lo ngapain lo nampar gue?" teriak Helen nyaring.

__ADS_1


"Karena aku nggak suka lihat kakak membully kak Citra" balasnya tidak kalah nyaring.


"Dia memang pantas dapat itu asal lo tahu dia itu korban pemerkosaan" ujar Helen.


"Terus memang kenapa jika kak Citra korban pemerkosaan apa kakak punya hak untuk membully dia?" bentak Aurora keras yang berhasil membuat semua orang membicarakannya.


"Kau tanya kenapa? apa kau tahu korban pemerkosaan itu begitu hina dan tidak pantas untuk dikasihani!" balas Helen dengan tidak kalah kerasnya.


"Pantas saja tidak ada yang pernah membela korban jika pemikiran kalian seperti ini, apa kakak punya otak kakak itu juga wanita tidak seharusnya seorang wanita menghina wanita lainnya" ujar Aurora bijak.


"Memang terus kenapa jika wanita?" tanya Helen yang tidak mau mendengarkan Aurora.


"Ya karena wanita tidak pantas diperlakukan seperti ini dan asal kakak tahu cara kakak memperlakukan kak Citra seperti ini sama saja kakak sudah menghina kaum wanita" balas Aurora.


"Kau bilang aku apa tadi hah, aku menghina kau wanita? tidak salah yang menghina itu dia" ucap Helen menunjuk Citra


"Kau memang bodoh" umpat Aurora yang kesal melihat Helen yang tidak mengerti semua perkataannya.


Helen mendengar umpatan Aurora emosi dan langsung menarik rambut panjangnya, Aurora merasa sedikit kesakitan tapi dia tidak bisa diam dia harus membalasnya, Aurora menarik rambut Helen dan terjadilah aksi jambak-jambakan antara Aurora dan Helen.


Ketiga teman Helen yang melihat itu membantu Helen dengan menarik Aurora dari belakang tapi sayang sudah ada seorang gadis dengan bandana hitam yang mencekal tangannya.


"Ups masa main keroyokan gak malu apa" ejek Shawnette pada gadis dengan bibir yang merah menyala.


"Lo lebih baik pergi sebelum gue buat rambut lo itu botak" ancam gadis itu


"Memang gue takut apa yang ada rambut lo yang gue botakin" balas Shawnette yang tidak kalah horornya.


Shawnette menarik rambut gadis dia tidak seperti Aurora dan Helen yang saling jambak-jambakan yang ada ia malah mengeluarkan gunting dari sakunya dan memotong rambut gadis itu, pertama dia memotong ujung rambut sampai dia memotong semua bagian rambut itu.


Gadis yang dipotong rambutnya oleh Shawnette langsung berteriak histeris melihat rambutnya yang sudah berjatuhan ke lantai, gadis itu pergi meninggalkan kantin, ia menutup kepalanya dengan kedua tangannya.


Shawnette menunjukkan senyum smirk dan melihat rambut yang berada di lantai, "itu akibat jika macam-macam sama gue" teriak Shawnette kuat pada dua teman Helen.


Kedua teman Helen memilih untuk tidak membantunya, mereka sudah ketakutan melihat salah satu teman mereka yang sudah dibotakin oleh Shawnette, yang ada mereka juga meninggalkan kantin dan membiarkan Helen melakukan aksi jambak-jambakan dengan Aurora.


Shawnette bukannya membantu memisahkan mereka berdua yang ada dia malah menikmati tontonan gratis, sampai ia melihat Helen yang mengambil botol dari meja dia yang melihat itu terkejut dan berteriak begitu keras, "Aurora awas!"


Prang…


Terdengar suara pecahan kaca yang ditimbulkan dari Helen, Shawnette menutup matanya ketika melihat Helen yang akan memukul kepala Aurora dari belakang, ia sedikit memberanikan diri untuk membuka matanya dapat dilihat Aurora baik-baik saja namun ada darah yang menetes ke bawah lantai.


Darah itu bukan milik Aurora melainkan darah dari seorang pria yang berdiri di tengah mereka, Helen menutup mulutnya melihat pria itu dan mulai berkeringat dingin, "Galaksi kenapa kau disini? Apa ada yang sakit" ujar Helen seperti orang yang tidak terjadi apa-apa.


Helen memeriksa tangan Galaksi yang terluka ketika menerima pukulan botol kaca dari Helen, Galaksi merasa risih langsung menepis tangan Helen, "nggak usah peduli" ujarnya dingin.


Galaksi beralih menatap Aurora dapat dilihat rambutnya sudah berantakan dan wajahnya yang sudah memerah, tidak tahu apa yang terjadi pada Galaksi dia menyentuh pipi Aurora, "kau baik-baik saja kan?" tanyanya.


Aurora mengerutkan keningnya, "bukannya pertanyaan itu lebih cocok ditanyakan ke kakak!" ujar Aurora menatap darah yang terus mengalir dari lengannya Galaksi.


Helen tidak menyukai Galaksi yang malah mengkhawatirkan gadis lain bukan dirinya, "Galaksi buat apa kau menanyai dia yang seharusnya kau khawatirkan itu aku bukan dia" celetuk Helen bernada ketus menunjuk Aurora.


"Tidak usah bermain play victim Helen" ujar Galaksi dingin.


Dia tidak mempedulikan Helen ia masih asyik memandang Aurora sampai seorang guru dengan high heels dan juga jangan lupakan penggaris kayu yang selalu dia bawa.


Guru itu adalah ibu Jennie selaku guru BP dia datang ke kantin dengan seorang gadis yang baru saja Shawnette botakin kepalanya.


"Siapa yang melakukan hal ini padanya" tanya ibu Jennie sedikit berteriak agar semua orang bisa mendengarkannya.


Shawnette yang seperti orang tidak memiliki dosa begitu mudahnya mengangkat tangannya tinggi, "saya melakukannya bu" ujarnya.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.


See you

__ADS_1


__ADS_2