
Jinny mengangguk. "Selama ini kami LDR. Selama ini juga aku diam-diam menghubunginya. Sampai akhirnya tuan Petrus tahu. Tuan akhirnya bicara empat mata padaku. Dia pun akhirnya setuju untuk membebaskanku. Pembebasan tanpa syarat. Dia juga akan membiayai pernikahanku."
"Apa?!!" Kembali aku terkejut mendengarnya.
"Benar, Lilia. Tuan Jake juga sebelumnya pernah bilang akan membebaskanku jika urusannya telah selesai. Jadi rasanya kebahagiaan itu akan segera kuraih. Bukankah ini adil?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Kau memang layak mendapatkannya, Jinny." Aku turut bahagia.
Jinny memelukku. "Aku berharap kau juga segera menyusul. Aku doakan masalah ini cepat selesai. Bersabarlah untuk sementara waktu." Jinny pun menguatkan hatiku.
Entah mengapa aku merasa senang sekaligus terharu. Ternyata Jinny akan segera menikah dengan pilihan hatinya. Kebahagiaan itu memang benar-benar datang di waktu yang tepat. Walau nyatanya harus menunggu sekian purnama. Aku pun berharap pernikahan kami dapat segera diselenggarakan. Seperti pernikahan Jinny yang hanya tinggal menghitung hari saja. Dan ya, semoga keberuntungan selalu berpihak pada orang-orang yang setia. Aku berharap itu.
Esok harinya...
Pagi hari aku terbangun disertai deburan ombak dan suara burung yang berkejaran di pantai. Asri sekali dan juga menenangkan hati. Ini adalah pagi pertamaku terbangun di sini. Dan ya, aku lekas-lekas membuat kopi. Aku berdiri di teras kamarku sambil memandangi indah pemandangan pagi.
"Eh? Ada telepon?"
__ADS_1
Tak berapa lama kudengar ponselku berbunyi. Aku pun lekas masuk ke dalam untuk mengambil ponselku. Dan ternyata Jake lah yang meneleponku.
"Halo?" jawabku.
"Pagi, Beb. Bagaimana tidurmu semalam?" tanyanya padaku dengan lembut sekali.
Aku pun tertawa mendengarnya. Suara beratnya itu berubah semakin dalam saat berkata lembut padaku. "Tidurku nyenyak. Bagaimana denganmu?" tanyaku balik.
Dia sepertinya sudah berada di kantor pagi ini. Kudengar suara deru kendaraan dari sana. "Aku butuh asupan untuk kurang tidurku. Aku ingin susu," katanya.
"Hahaha." Dia tertawa di sana. "Beb."
"Ya?"
"Alexander mencarimu. Semalam kami bertemu." Dia mengabarkan padaku.
Alexander mencariku???
__ADS_1
Tak tahu mengapa Jake membicarakan mantanku pagi ini. Apakah tawanya bentuk cemburu padaku? Atau memang dia punya berita lain untukku?
"Jangan sebut nama dia lagi, Jake. Aku sudah melupakannya." Aku pun tak ingin Jake mengungkitnya lagi.
"Em, baiklah." Kudengar kursi yang ditarik di sana. "Semua pengusaha di ibu kota bersimpatik atas runtuhnya Sky Grup. Hari ini juga pihak media memintaku untuk mengadakan konferensi pers. Menurutmu apa yang harus kukatakan?" tanyanya.
Eh?!
Saat itu juga aku tak mengerti apa maksudnya. "Aku tak tahu, Jake. Memangnya?"
"Dalang di balik pengeboman ini tentunya menginginkan kabar buruk tentangmu. Karena sampai saat ini dia tidak tahu kau masih hidup atau tidak. Lalu aku harus bilang apa?" tanyanya.
Saat mendengarnya, saat itu juga aku tahu apa maksudnya. Ternyata Jake ingin mengelabui musuh dengan berpura-pura membuat berita buruk tentangku agar dalang pengeboman itu merasa senang. Tapi kalau dipikir-pikir aku takut ucapan itu jadi kenyataan. Jadinya...
"Lebih baik kau terus terang saja kepada mereka jika telah berhasil menyelamatkanku. Bukankah mereka akan lebih menyeganimu?" Aku memberikan saran padanya.
Jake terdiam di sana. Entah apa yang dilakukannya. Tapi kudengar suara ketikan di ponsel kecilnya itu. Mungkin dia sedang membalas pesan anak-anak buahnya.
__ADS_1