FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Pertanyaan Wartawan


__ADS_3

"Nanti dibangun sekelilingnya seperti tempat pesta. Bangun juga tempat peristirahatan untuk para tamu undangan. Bawa semua bahan material yang dibutuhkan."


Dan begitulah yang Jake katakan kepada vendor acara pesta pernikahan kami. Mereka bekerja sama dengan para pekerja Jake di sini. Dan ya, aku hanya bisa melihatnya saja. Aku berharap yang terbaik untuk pesta.


Sepulang dari cek lokasi...


Malam telah datang. Langit pun gelap berbintang. Aku dan Jake baru saja sampai di GOC setelah melakukan perjalanan menggunakan helikopternya. Kami juga lekas turun ke lantai bawah untuk bergegas pulang ke rumah. Tapi saat membuka pintu gedung, saat itu juga kilatan kamera menyala. Ternyata kami telah ditunggu awak media.


"Tuan Jake, kabar pernikahan Anda telah tersebar ke seluruh media. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?" Wartawan pun mulai bertanya pada Jake.


"Saham GOC saat ini sedang mengalami penurunan. Apakah pernikahan yang Tuan selenggarakan untuk menaikkan kembali saham perusahaan?" tanya wartawan yang lain.


"Nona Lilia disebut-sebut sebagai perusak rumah tangga orang. Apakah benar karena nona, Anda memenjarakan mantan istri Anda?"

__ADS_1


Begitu banyak pertanyaan yang diajukan kepada Jake. Jake pun menggenggam erat tanganku lalu meminta jalan untuk keluar. Jake tidak berkata apa-apa kepada awak media. Tak berapa lama penjaga gedung pun datang bersama beberapa anak buahnya. Sepertinya mereka memang sengaja menunggu kedatangan kami di sini. Tapi sayangnya terburu awak media yang menghampiri kami.


Jake, sepertinya kita harus mengadakan konferensi pers untuk membersihkan nama baik.


Tak tahu mengapa wartawan ini terus saja menanyakan berbagai macam hal kepada Jake terkait dengan pernikahan kami. Aku pun hanya diam di sampingnya tanpa menjawab sama sekali. Ini bukanlah ranahku untuk memberi jawaban. Jadinya diam saja jika tidak diminta Jake bicara. Aku khawatir salah kata sehingga malah memperumit keadaan. Karena kutahu wartawan tugasnya mencari kesalahan. Jadi jangan sampai terjebak dengan berbagai macam pertanyaan.


Satu jam kemudian...


Aku baru saja mandi selepas tiba di apartemen. Aku masih mengenakan handuk kimono berwarna putih ini. Tapi priaku masih sibuk di depan laptopnya. Dia seperti sedang memeriksa laporan dari anak buahnya. Aku pun membuatkannya segelas susu hangat. Aku menghidangkannya di atas meja. Lalu setelahnya bergelayut manja padanya.


"Hm, iya. Majalah bisnis menulis artikel tentang kita, Beb." Jake mengatakan.


"Memang apa isinya?" Aku pun bertanya padanya. Saat itu juga Jake memperlihatkannya. Tapi saat itu juga aku terkejut melihatnya. "I-ini?!" Aku tak percaya.

__ADS_1


"Mereka mensinyalir pernikahan kita karena kepemilikan sahammu di GOC. Itu berarti ada yang membocorkan saham yang diberikan Petrus kepadamu. Tapi aku belum menemukan orangnya." Jake menerangkan padaku.


Aku duduk di sampingnya. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Mereka hanya sebatas menduga saja. Jika memang benar, bisa apa? Toh kita juga akan menikah." Aku menyemangatinya.


Jake tersenyum. Senyum manis yang sangat menggetarkan hatiku. Dia lalu mendudukkanku di atas pangkuannya. Jake pun menatapku dengan dalam.


"Beb, kau sudah lebih mengerti aku sekarang. Aku harap kau bisa terus seperti ini." Dia berharap padaku.


Aku mengangguk. "Hitungan hari lagi kita akan menikah. Rasanya tidak bisa lari dari mimpi indah ini." Aku merasa terharu sendiri.


"Mimpi indah?"


Dia bertanya padaku lalu menyingkapkan handukku ini. Saat itu juga aku tahu apa yang akan dilakukannya.

__ADS_1


"Jake, jangan--ah!"


__ADS_2