FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Pahlawanku


__ADS_3

Jake berteriak histeris melihatku yang tidak bisa menggapai tangannya. Sedang aku entah mengapa merasakan firasat buruk yang sebentar lagi akan terjadi. Tiba-tiba saja pikiranku tertuju pada bom waktu yang ada di gedung ini.


"Lilia, kau harus berlari lalu melompat ke arahku. Aku akan menangkapmu. Gedung ini sebentar lagi akan runtuh!" teriaknya padaku.


"Apa?!!" Benar ternyata dugaanku.


"Cepat, Lilia! Waktu kita tidak banyak!!!" Jake pun berteriak kembali padaku.


Suara baling-baling helikopter menjadi saksi ketakutanku. Setelah jatuh karena tidak bisa menahan keseimbangan tubuh, akhirnya aku pun berusaha berdiri kembali lalu memundurkan langkah kaki ini ke belakang. Aku berniat berlari ke arah Jake lalu melompat ke tangga yang diturunkan helikopter ke dekatku.


Jake, aku percaya padamu.


Lantas aku pun berlari cepat ke arahnya. Aku melompat untuk meraih Jake-ku. Aku percaya dia akan menangkapku. Kulihat Jake pun dengan setia menunggu. Pada akhirnya...

__ADS_1


"Jake!"


"Lilia!"


Aku berhasil menggapai tangannya. Jake pun menahan tanganku dengan kuat. Aku pun segera berusaha memeluknya dengan erat. Namun, saat itu juga...


BOOOMMMM!!!


Gedung berlantai lima itu runtuh. Bom waktu itu ternyata memang benar ada di sana. Sontak sekuat tenaga aku berpegangan pada Jake. Aku takut sekali.


Aku memejamkan mata, tidak berani melihat ke bawah. Aku tahu jika helikopter ini mulai menjauh dari gedung. Sungguh rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Dadaku serasa ingin pecah dengan apa yang menimpaku.


"Tenang, Beb. Naikkan pelan-pelan kakimu ke anak tangga ini. Aku akan memegangmu dengan kuat." Jake pun memintaku untuk mengikuti intruksinya.

__ADS_1


Pada akhirnya aku berhasil selamat dari bom waktu yang dipasang di gedung itu. Tapi sungguh ingatanku buruk sekali. Aku belum bisa melupakan hal itu. Jika teringat, rasanya kakiku ini tidak sanggup untuk berjalan kembali. Sesuatu hal yang mengerikan harus kualami karena cinta ini. Tapi untungnya saja Jake benar-benar menyayangiku. Dia tidak ingin kehilanganku. Dialah menyelamatkan hidupku.


.........


"Em, ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku," kataku pada semua karyawan GOC yang mengkhawatirkanku.


Sungguh jika teringat kejadian itu rasanya aku menemui jalan buntu. Seluruh akses menuju lantai bawah sudah ditutup dan hanya bisa menggunakan atap gedung untuk menyelamatkan diri. Saat itu aku benar-benar pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Tapi untungnya Jake datang menyelamatkanku. Aku berutang nyawa padanya. Kepada priaku, kepada calon ayah dari anak-anakku. Aku begitu mencintai Jake-ku.


"Sudah nanti lagi ngobrolnya. Siapkan laporan kalian lalu masukkan ke ruanganku."


Jake pun datang mencegah kami untuk berbincang lebih lanjut. Dia menarikku ke ruangannya dan meninggalkan karyawan kantor yang sedang bersimpati atas musibah yang menimpaku. Mereka pun hanya diam saat Jake melakukannya. Jake adalah bos sekaligus pimpinan yang disegani bawahannya.


"Lilia, buatkan aku kopi."

__ADS_1


Sesampainya di ruangan pun Jake memintaku untuk segera membuatkan kopi. Priaku ini lekas duduk di depan meja kerjanya. Ia mulai menghidupkan laptopnya untuk mengecek laporan hari ini. Sedang aku segera membuatkannya kopi. Tak lama lagi kami akan pergi menuju suatu tempat yang tersembunyi. Di mana Petrus dan Jinny tinggal di sana.


Jake ingin keselamatan sepenuhnya untukku. Dia begitu menyayangiku. Dan aku begitu mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya, Jake Thompson.


__ADS_2