
Beberapa menit kemudian...
Suasana haru menyelimuti saat aku dan Jake bersalaman dengan para pemilik saham GOC yang hadir. Angin malam pun mulai mengiringi tangis haru yang terjadi di sini. Dan kini tiba bagi seorang wanita yang sangat berjasa dalam hidupku. Dialah Angelina yang datang bersama suaminya. Mereka mengucapkan selamat kepada kami. Tapi entah mengapa aku tidak bisa menahan isak tangisku saat berada di pelukannya yang sedang berbadan dua ini.
"Lilia, aku turut berbahagia dengan pernikahanmu. Sudah, jangan menangis lagi ya. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan ini."
Begitulah yang Angelina katakan padaku. Dialah saksi perjalanan hidupku. Dia juga saksi betapa sakit itu kurasakan saat menjalani hubungan dengan Jake. Tapi dia selalu menguatkanku. Dia terus memberi semangat kepadaku. Hingga akhirnya aku mampu bertahan sampai detik ini. Angelina sudah seperti kakakku sendiri.
Aku melepas pelukan, mencoba mengusap air mata yang terus jatuh. Sedang Jake dan suaminya sedang berbincang sebentar sambil memerhatikan kami. Aku pun mencoba mengatur ulang napas ini. Kebahagiaan kurasakan begitu bergemuruh di hati. Aku tak menyangka jika impian itu terjadi.
__ADS_1
"Nanti kau bisa ikut ke pulau? Kami merayakan pestanya di sana," tanyaku.
Angela mengusap pipiku. "Maaf, Lilia. Aku sedang mengalami mual-mual yang tak tertahankan. Maka dari itu aku hanya bisa datang ke sini. Aku tidak bisa ikut menyeberang. Maafkan aku, ya." Angelina meminta maaf padaku.
Aku bersedih. "Padahal Jake telah menyiapkan banyak helikopter malam ini untuk mengangkut semua undangan yang hadir di sini," kataku lagi.
Angelina mencubit pipiku. "Nanti kau akan tahu bagaimana rasanya masa-masa sulit kehamilan di semester pertama. Semoga cepat nular ya." Angelina mengusap perutnya lalu mengusap perutku. Saat itu juga aku memeluknya kembali.
"Sudah, jangan menangis. Aku sudah datang. Aku sudah menjadi saksi pengucapan janji suci kalian. Jangan lagi dipikirkan. Doaku selalu menyertaimu, Lilia. Berbahagialah." Dia mengusap-usap punggungku.
__ADS_1
Aku tahu bagaimana penderitaan seorang ibu hamil di semester pertama. Karena aku pernah merasakannya. Dan kini Angelina mengalaminya. Dia mengalami mual-mual berat sehingga tidak bisa ikut kami ke acara pesta. Tapi setidaknya dia sudah ikut hadir di pengucapan janji suci ini. Aku pun merasa bahagia sekali. Karena dia adalah orang terpenting untukku.
Lantas malam ini menjadi saksi pengantaran Angelina kepadaku. Dia ikut menuntunku memasuki helikopter yang telah disediakan untuk menyeberangi pulau. Angelina pun seperti menahan rasa mualnya dengan berusaha tersenyum padaku. Aku harap dia bisa melewati tri semester pertama dengan mudah. Aku berharap yang terbaik untuknya. Dan juga untuk keponakanku yang ada di dalam sana. Semoga mereka sehat semua.
Di perjalanan menuju pulau...
Aku dan Jake menaiki helikopter dan duduk di belakang. Sedang anak buahnya mengemudikan heli di depan. Jinny pun duduk di depan sambil menunggu sampai. Sedang suaminya tak tahu ada di mana. Tapi mungkin saja sudah menunggu di pulau sejak tadi. Dan kini Jake memberiku satu koper hitam.
"Apa ini?" tanyaku, sesaat setelah lepas landas dari gedung GOC.
__ADS_1
"Bukalah," pinta Jake kepadaku.
Aku membukanya. Dan saat itu juga aku terkejut melihatnya. "Jake, ini?!"