FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Perbincangan


__ADS_3

Jake pun mengambil microphone-nya. Ia menjawab, "Untuk saat ini kami masih fokus memperbaiki kinerja perusahaan. Belum berminat untuk mengakuisisi perusahaan lain." Jake menjelaskan.


"Apakah itu berarti Tuan tidak memiliki keberanian untuk mengakuisisi perusahaan tuan Biden?" tanya wartawan itu lagi.


Sungguh konferensi pers yang disiarkan ulang ini membuat nyaliku ciut sendiri. Jake dicecar banyak pertanyaan yang menyudutkannya. Tapi untungnya saja dia bisa menjawabnya. Jika tidak, pastinya dia akan malu di depan awak media.


Jake, kau pasti sedang banyak pikiran saat ini. Bertahanlah. Semua akan baik-baik saja.


Lantas aku pun mencoba mendengarkan berita sampai selesai. Tak lama sebuah dering telepon pun terdengar. Aku pun segera mengangkat siapa yang meneleponku. Dan ternyata, nomor tak dikenal.


"Siapa ya?"


Aku pun ragu untuk mengangkatnya. Aku khawatir itu orang lain, bukan Jake. Aku takut saat mengangkatnya posisiku bisa terlacak di sini. Jadinya kubiarkan saja. Siang ini pun memintaku untuk beristirahat segera.


Malam harinya...


Malam ini langit cerah berbintang. Udara pun terasa lebih sejuk dari biasanya. Aku pun sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk Tuan Petrus. Dan ya, tak lama dia juga keluar dari dalam kamarnya bersama seorang anak buah Jake. Aku pun menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Tuan." Aku berdiri menyambutnya. Dia pun tersenyum padaku.


"Tempat ini sangat bagus. Tapi sayang, tidak dijual pemiliknya." Tuan Petrus menuturkan.


Pengawalnya pun menarikkan kursi untuknya. Tuan Petrus lalu segera duduk di depan meja makan. "Duduklah." Dia juga memintaku untuk duduk bersama.


"Baik, Tuan." Aku pun duduk di kursi sampingnya.


Anak buah Jake menuangkan air minum untuknya. Tuan Petrus pun segera meneguknya. Sedang aku mulai mengambil hidangan yang kumasak tadi. Aku memasak sapi panggang malam ini. Dan ya, kuharap Tuan Petrus dapat menyukainya.


"Saat ini Sky Grup menjadi isu di kalangan pebisnis kelas atas. Mereka berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan dan mengambil hati GOC. Akan ada banyak tawaran kerja sama kepada Jake. Tapi aku harap kau bisa menahan Jake agar tidak menerimanya." Tuan Petrus berkata.


Pria tua berusia enam puluhan itu pun tersenyum padaku. Dia tampak memaklumi ketidaktahuan aku tentang dunia bisnis.


"Nanti juga akan mengerti sendiri. Kau bisa mempelajarinya dari Jake. Tapi untuk saat ini jika dia meminta pendapatmu atas tawaran kerja sama yang datang, maka tolong tahan dia agar tidak menerimanya. Karena hal itu akan membahayakan ke depannya." Tuan Petrus menuturkan.


"Baik, Tuan." Aku pun mengiyakannya.

__ADS_1


Dia mengiris daging sapi panggang buatanku dengan pisau. Dia kemudian menyuap ke dalam mulutnya dengan garpu. Aku pun begitu. Mulai mencicipi masakanku sendiri.


"Apakah Jinny sudah menceritakan padamu?" tanyanya padaku.


"Tentang apa, Tuan?" Aku pun segera menanyakannya.


"Tentang pernikahannya," jawab Tuan Petrus cepat.


Aku mengangguk pelan di depannya.


"Saat ini aku tidak bisa meminta banyak bantuanmu. Padahal aku ingin sekali kau menemani Jinny menyiapkan pernikahannya. Tapi apapun itu, aku harap kabar baik menyertai kalian juga. Aku berharap yang terbaik untuk kau dan Jake." Dia mendoakanku.


Aku tersenyum. "Terima kasih, Tuan."


Dan pada akhirnya kami pun terus berbincang-bincang sampai Tuan Petrus merasa kenyang. Kami membahas hal-hal ringan sebelum menutup malam. Dan ya, aku juga berharap yang terbaik untuk orang-orang di sekitarku. Semoga saja keberuntungan selalu berpihak pada kami. Kapanpun dan di manapun. Aku berharap itu.


.........

__ADS_1


...Lilia...



__ADS_2