
"Ambilkan aku dua kursi," pinta Jake kepada anak buahnya yang berjaga di depan ruangan ini.
"Baik, Tuan." Tanpa perlu menunggu lama dua kursi pun disediakan untuk kami.
Jake memberi kode agar aku segera duduk. Aku pun duduk di sampingnya sambil memerhatikan Aurelia yang tak berdaya. Sepertinya dia belum makan sejak kemarin pagi.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Jake pun mulai bertanya kepada Aurelia.
Aurelia terdiam. Wajahnya terlihat pucat saat ini. Dia menunduk lemas seperti orang yang sedang mabuk perjalanan. Tapi aku harap ini sebatas penglihatanku saja.
Jake menghidupkan satu puntung rokoknya. "Selama ini aku mencoba percaya padamu. Tapi ternyata kau berkhianat padaku. Kira-kira hukuman apa yang pantas kuberikan untukmu?" tanya Jake sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
__ADS_1
Kulihat Aurelia menelan ludahnya. Kedua tangannya terikat ke belakang dengan tubuh penuh ikatan. Yang bisa bergerak hanya kepalanya saja. Tidak salah lagi jika dia belum makan sejak kemarin. Jake memang keterlaluan kalau menyiksa orang. Tapi jika ingat kejadian kemarin aku juga ikut kesal.
"Tuan ...," Aurelia akhirnya berkata pada Jake dengan suara yang lirih sekali. "Maafkan aku ...." Dia berkata lagi. Saat itu juga aku merasa kasihan padanya. "Aku terpaksa melakukannya. Nyonya mengancam akan membunuhku," tuturnya lemah.
Jake mengembuskan asap rokoknya ke atas sambil memerhatikan Aurelia. Aku pun menelan ludah karena melihat wajah Jake yang dingin seperti gunung es. Dia seperti tidak berbelas kasihan.
"Jadi kau takut pada ancamannya tapi tidak takut padaku?" tanya Jake lagi.
Jake diam sejenak sambil terus menghisap asap rokoknya. Dia kemudian berkata lagi. "Aku tidak suka dikhianati. Dan kau tahu itu. Apa yang bisa kupercaya lagi darimu?" tanya Jake dengan dingin.
Aurelia menelan ludahnya. "Aku akan menebus semua kesalahanku, Tuan. Aku rela bekerja seumur hidup tanpa dibayar sama sekali. Tapi kumohon lepaskan aku. Aku sudah tidak kuat lagi. Ikatan ini mencekik tubuhku." Aurelia mengatakan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Jake." Aku pun menegur Jake. Aku kasihan pada Aurelia.
Jake menoleh ke arahku. Mungkin dia melihat wajahku yang kasihan ini. Dia kemudian berdiri lalu mematikan puntung rokok dengan menginjaknya. Dia pun berjalan mendekati Aurelia sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku tidak bisa lagi memercayaimu. Mulai saat ini aku memecatmu. Sisa gajimu akan dibayarkan secepatnya. Dan tolong pergi jauh-jauh dari hadapanku. Jangan sampai aku melihatmu kembali. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan segan untuk memenjarakanmu." Jake berkata seperti itu.
Jake ....
Saat itu juga aku merasakan jika Jake tidak akan main-main dengan ucapannya. Jake kemudian mengajak ku keluar dari ruangan ini. Aku pun mengikutinya. Dia kemudian berkata kepada penjaga Aurelia. Sebuah kalimat yang membuatku merinding sendiri.
"Siram tubuhnya dengan air es dan biarkan dia tidak makan seharian penuh."
__ADS_1
Dan begitulah yang dikatakan Jake kepada penjaga ruangan ini. Sungguh dia sadis sekali. Aku pun tak habis pikir dengannya. Padahal Aurelia telah menjelaskan jika dia terpaksa melakukannya. Tetapi tetap saja Jake tidak terima. Mungkin dia ingin membuat efek jera. Aku pun mencoba untuk tidak ikut campur dalam hal ini. Walaupun hatiku miris sekali.