
Jake melipat kedua tangannya di dada dengan senyum penuh kepuasan. Sedang Lea dan Andrian terdiam seketika saat dia datang. Mereka tak percaya dengan kedatangan Jake malam ini.
"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara! Tidak!" Pada akhirnya Lea pun berontak untuk dibawa.
"Bibi, apakah Bibi yang telah merebut ayahku dari ibu?" tanya seorang anak kecil saat berpapasan dengan Lea.
"Siapa kau?! Aku tidak mengenalmu!" Lea pun tak peduli.
"Ayah, Ayah mau ke mana? Jangan tinggalkan kami, Yah." Seorang anak kecil kulihat berusaha menahan Andrian yang tengah dibawa para personil bersenjata.
Apakah itu anak Andrian?
Andrian pun berpapasan dengan wanita yang sedang hamil besar itu. Tapi kulihat dia tidak berkata apa-apa. Sedang Lea berontak saat akan dibawa. Entah siapa mereka, aku juga tidak mau memedulikannya. Kepalaku sudah sangat sakit sekali karena dijambak oleh simpanan Lea itu. Aku pun segera memanggil Jake untuk menolongku.
"Jake, cepat tolong aku!"
Pada akhirnya kejadian malam ini berakhir. Tapi rasanya aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan pipisku. Dan akhirnya aku pun pipis di celana. Saat itu juga Jake menggelengkan kepalanya melihatku.
"Semua keluar! Biar aku yang membawa wanitaku!"
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Orang-orang Jake pun segera keluar dari ruangan ini. Sedang Jake menungguku selesai pipis. Tak tahu mengapa malam ini absurd sekali. Tapi semua sudah terjadi. Tak pantas untuk disesali.
"Kenapa datangnya lama sekali, sih?!" Aku pun menggerutu padanya.
Pergantian hari...
Pukul 00.00 aku tiba di apartemen Jake. Sesampainya pun aku lekas mandi dan membersihkan diri menggunakan air hangat. Tapi kini badanku mulai terasa menggigil lagi. Mungkin karena terlalu lama berada di ruangan gelap dan lembab. Jadinya aku segera meminum paracetamol agar tidak demam. Sambil menunggu priaku datang ke sini. Tak lama yang ditunggu datang. Aku pun segera menyambutnya pulang.
"Sudah mandi?" tanyanya pertama kali.
"Sudah," jawabku singkat.
"Kenapa lama sekali tadi?! Kau ingin aku disakiti oleh mereka, ya!" Aku pun masih kesal padanya.
Jake tersenyum padaku. "Aku hanya sedang mendengarkan pembicaraanmu bersama Andrian. Aku ingin tahu sejauh mana hatiku ini mampu bertahan," katanya.
"Eh???" Aku pun bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
"Kau lupa?" tanyanya.
Aku pun jadi memikirkan hal ini. "Jake!" Tapi dia tiba-tiba saja memanggulku. Aku dibawa ke kamar olehnya.
"Kau nakal, Beb." Dia merebahkanku di atas kasurnya.
"Jake, jangan bilang--"
"Tidak. Aku hanya minta penjelasan saja."
Dia kemudian mengunci tubuhku lalu memegang kedua tanganku ini. Entah apa yang terjadi padanya. Aku juga bingung sendiri.
"Sekarang ingat kembali apa yang kau katakan pada Andrian." Dia memintaku.
"Tap-tapi--"
"Cepat, Beb. Sebelum kesabaranku habis!" Dia terlihat kesal padaku.
Sungguh aku sendiri sudah lupa apa yang kukatakan pada Andrian di ruangan itu. Aku pun mencoba mengingatnya kembali. Tapi tidak ingat juga. Lantas saja Jake pun semakin kesal padaku. Dia lalu merobek paksa bajuku ini. Hingga akhirnya bra yang kupakai terlihat jelas di matanya. Dia pun mendekatkan panggulnya ke wajahku.
__ADS_1
"Kau harus diberi pelajaran."
Lantas dia pun memaksaku untuk melakukan sesuatu. Di tengah malam yang dingin ini. Aku pun mau tak mau harus melakukannya. Karena permintaannya adalah titah bagiku. Dan akhirnya malam ini kami habiskan waktu bersama. Sampai lelah, sampai tidak kuat lagi untuk berdiri. Jake memang tidak bisa dinanti-nanti. Kemauannya harus segera dituruti.