
Satu minggu kemudian, sidang putusan Lea dan Andrian...
Tak terasa waktu terus berlalu tanpa henti. Dan kini tiba waktu sidang putusan untuk Andrian dan Lea. Kedua orang itu tampak mempunyai kuasa hukum masing-masing. Sedang aku duduk di barisan Jake bersama seorang pengacaranya. Aku dihadirkan sebagai pihak korban. Dan kulihat mantan istri dari Jake itu menatap tajam ke arahku. Dia sepertinya belum menyadari apa kesalahannya. Dan selalu ingin menang di atas pendapatnya.
Awalnya aku memang percaya jika Jake pernah melakukan kekerasan non fisik padanya. Maka dari itu aku mau menerima tawaran misi darinya. Tapi lama kelamaan aku menyadari siapa yang salah dan benar. Kenyataan miris itu pun akhirnya kudapatkan. Jika ternyata Lea lah yang menjadi dalang atas kehancuran rumah tangganya sendiri. Dia mengkhianati Jake. Dia bermain dengan Andrian yang merupakan General Manager di perusahaan Jake.
Kini aku diminta duduk di tengah persidangan. Aku diminta menceritakan kronologi sebelum peristiwa malam itu terjadi. Dan aku mengatakan hal yang sejujurnya. Aku juga menyebut nama Aurelia. Tapi dia tidak kupersalahkan dalam hal ini.
Ketua Hakim pun menimbang masalah ini lebih dalam. Dia akhirnya meminta Lea dan Andrian untuk memberikan keterangan. Alhasil berjam-jam lamanya aku menghabiskan waktu di pengadilan. Aku pun harus siap dengan segala putusan yang didapatkan. Tentunya dengan Jake yang menemani. Kami ingin menyelesaikan segera peperangan ini. Dan hidup bahagia tanpa bayang-bayang ketakutan lagi.
__ADS_1
Malam harinya...
Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi. Semakin lama semakin deras dan membuatku mengantuk sekali. Hingga akhirnya aku sampai di apartemen priaku ini. Aku diminta untuk segera menyegarkan diri. Dan aku pun menurutinya sekalipun malas sekali. Karena aku sudah terlanjur terperdaya oleh perasaan cinta ini.
Baru kali ini aku mengikuti sidang, dan rasanya benar-benar melelahkan. Andai tahu seperti ini, lebih baik tidak pernah mempunyai urusan dengan tindak kejahatan. Baik korban maupun pelaku dicecar habis-habisan untuk menggapai kesepakatan. Dan akhirnya aku harus menanggung kelelahan.
Beberapa jam kemudian...
"Hahahaha."
__ADS_1
Gelak tawa kudengar samar-samar lalu semakin lama semakin besar. Aku pun mencoba membuka mata untuk mencari di mana keberadaan Jake. Dan ternyata lampu kamar ini dimatikan. Jake juga tidak berada di sini. Kucoba melihat jam di dinding dan ternyata sudah pukul dua pagi.
"Suara siapa yang tertawa itu ya?"
Lantas aku mencoba bangun untuk mencari di mana keberadaan priaku. Kuhidupkan lampu lalu segera berganti pakaian. Sehabis mandi tadi aku langsung tidur dan hanya mengenakan lingeri. Jadi ada baiknya berganti pakaian baru keluar dari kamar. Karena khawatir di luar banyak orang.
"Pakai yang ini saja."
Aku pun mengambil pakaian yang serba panjang lalu segera menggulung rambutku. Aku keluar dari kamar menuju ruang tamu. Tapi sebelum sampai, kulihat Jake bersama anak buahnya terpingkal-pingkal. Mereka sedang mengadakan pesta kecil-kecilan. Botol-botol bir ada di sana bersama beberapa bungkus kacang kulit yang besar. Tidak salah lagi mereka sedang merayakan keberhasilan.
__ADS_1