FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Perhatian


__ADS_3

Sungguh Jake ini memang tidak ada duanya. Di tempat seperti ini dia masih sempat-sempatnya memintaku. Aku pun seakan tidak bisa berkutik di depannya. Jake menghidupkan AC mobilnya lalu menyetel lagu romantis untukku. Dia mulai memundurkan kursiku ini. Dia membungkuk di hadapanku dengan senyum nakal yang mengembang di wajahnya. Saat itu juga aku tahu apa yang akan dilakukannya. Aku pasrah begitu saja. Karena tahu tidak akan bisa lari darinya.


Lusa kemudian...


Pagi ini keadaan ibu kota tampak lebih sepi dari hari bisanya. Maklum, besok adalah akhir pekan. Mungkin sebagian sudah meliburkan diri dan tidak ingin memakai jalan. Aku pun sampai ke kantor lebih cepat. Biasanya harus sampai satu jam perjalanan tapi ini hanya setengah jam saja. Dan ya, aku bisa mengopi sebentar sebelum bekerja.


"Selamat pagi, Nona Lilia."


"Selamat pagi."


Beberapa karyawan yang melihatku datang menyambut dengan sapaan mereka. Mungkin sudah dapat menerima kehadiranku di sini. Padahal dulunya mereka mencelaku. Masih ingat bagaimana rumor pelakor itu tersebar di kantor ini dan orang-orang menghardikku?


"Baiklah. Mari menyeduh kopi dulu."


Saat ini baru pukul setengah delapan pagi. Tapi karyawan teladan sudah datang dan memasuki ruang kerjanya. Aku pun memerhatikan siapa saja yang sudah datang. Dan ya, aku mengingatnya. Akhir tahun nanti mereka perlu diapresiasi atas kegigihan dan kerajinannya selama ini. Agar mereka lebih semangat lagi. Karena mereka hanya orang-orang terpilih di kantor ini.

__ADS_1


"Ponselku sepertinya berbunyi?"


Tiba-tiba saja aku seperti mendengar suara ponselku saat menyeduh kopi ini. Aku pun lekas mengambil ponselku dari dalam tas. Kulihat dan ternyata Jake lah yang meneleponku. Entah ada apa gerangan dengannya.


"Halo?" Aku pun segera mengangkat teleponnya.


"Sudah sampai, Beb?" Kudengar suara seraknya yang seperti baru bangun itu.


"Baru saja sampai. Kau sudah bangun?" tanyaku.


"Jake, jangan lagi. Aku akan bekerja." Aku memperingatkannya.


"Hahahaha." Dia malah tertawa di sana. "Semakin lama semakin besar, Beb. Apa karena sering kusentuh?" Dia seperti ingin menggodaku.


"Jake, jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, kita sudahi saja teleponnya," kataku.

__ADS_1


Dia menghela napasnya. "Ya, ya, baiklah. Aku hanya ingin memberi tahu jika nanti akan langsung ke pengadilan. Mungkin aku tidak akan ke kantor lagi hari ini." Dia memberi tahuku.


Aku mengerti. "Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanyaku.


Dia seperti membuka keran wastafel lalu membasuh wajahnya. "Sudah, Beb. Kau tenang saja. Setelah urusan ini selesai kita segera ke wedding organizer," katanya yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel ini.


Jake ....


Jake ternyata benar-benar ingin memenuhi janjinya padaku. Dia bilang akan mengajak ku ke WO selepas persidangan selesai. Dan sepertinya hari bahagia itu tidak akan lama lagi tiba.


"Jake, kau ... serius?" tanyaku.


Dia terdiam sejenak di sana lalu bertanya, "Kenapa? Kau tak percaya?" Dia bertanya balik padaku.


Tentu saja aku tak percaya jika impian selama ini sebentar lagi akan menjadi nyata. Jika diingat pertemuan awalku dengannya dan bagaimana usahaku yang begitu keras untuk menaklukannya, rasa-rasanya kami tidak akan pernah menikah. Jake adalah lawan tertangguh yang pernah kutemui. Dia menduduki tahta tertinggi dari semua pria yang pernah menjadi targetku. Dia sangat sulit untuk ditaklukkan. Tapi kini, dia...

__ADS_1


__ADS_2