FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Memberi Tahu


__ADS_3

Pukul sembilan malam waktu sekitarnya...


Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi pulau ini. Aku pun khawatir dengan keadaan Jake setelah mengantarkanku ke tempat ini. Tapi untungnya saja dia mengirimkan pesan jika sudah sampai di GOC. Hatiku pun jadi tenang dan bisa tidur malam ini. Tapi bersamaan dengan itu Jinny mengetuk pintu kamarku.


"Lilia, apakah sudah tidur?"


Aku menempati kamar di lantai dua yang berada di tengah. Luas kamarnya cukup besar dengan perabotan secukupnya. Aku pun mulai membiasakan diri untuk tidur beberapa hari di sini. Tentunya dengan penjagaan orang-orang Jake di sekitar. Ya, Jake banyak sekali menempatkan orang-orangnya. Tapi sayangnya hanya terlihat sebagian. Sepertinya memang cara itu yang digunakan untuk berjaga-jaga di sekitar. Entahlah, priaku itu memang selalu mempunyai kejutan.


Aku membukakan pintu. "Jinny?" Aku pun melihat Jinny di depan kamarku.


Dia tersenyum. "Ada yang ingin kubicarakan padamu, Lilia," katanya, meminta izin masuk ke kamarku.


Aku mengangguk. Kami akhirnya duduk bersama di pinggir kasur ini. "Ada apa, Jinny?" Aku pun segera menanyakannya.


Jinny tersenyum. "Maafkan aku, Lilia. Aku tidak bisa jika tidak menceritakan padamu. Tapi aku juga turut prihatin atas apa yang menimpamu." Dia mengawali pembicaraannya.

__ADS_1


Aku mengerti. "Tak apa, Jinny. Katakanlah," pintaku.


Jinny pun mengembuskan napasnya. Dia menunduk sedih lalu mengangkat wajahnya ke atas, melihat langit-langit kamar ini.


"Sebenarnya aku curiga jika kejadian yang menimpamu ada hubungannya dengan nyonya Lea." Jinny menuturkan.


"Lea? Lea Kenandra? Mantan istri Jake Thompson?" tanyaku memastikan.


Jinny mengangguk. "Aku sempat mendengar pembicaraan nyonya Lea dan tuan Andrian terakhir kali di rumah keluarga besar. Isi percakapan mereka ingin memberi pelajaran padamu. Ini hanya sebatas spekulasi semata, tapi entah mengapa aku sangat yakin jika mereka ada kaitannya dengan runtuhnya gedung itu," kata Jinny lagi.


"Lilia."


"Ya?"


"Berhati-hatilah dengan wanita itu. Dia seperti seorang psikopat yang tidak akan tenang jika belum menghabisi lawannya. Aku khawatir kau bertemu dengannya tanpa ada rasa curiga sama sekali. Aku khawatir dia tiba-tiba menyerangmu tanpa ada persiapan apapun." Jinny mengkhawatirkanku.

__ADS_1


Aku tersenyum. Ternyata banyak sekali orang-orang yang mengkhawatirkanku. Tentunya semua ini berkat pengaruh Jake yang begitu besar dalam hidupku.


"Kau tidak perlu khawatir. Jake sudah membekaliku dengan pelatihan bela diri. Aku rasa jika tanpa senjata, aku bisa melawannya," kataku.


Jinny pun percaya. "Kalau begitu apakah kau atau aku duluan yang menikah?" tanyanya yang tiba-tiba merubah arah pembicaraan.


"Maksudmu?" Aku pun menduganya.


Jinny tampak malu-malu mengatakannya. "Aku akan dibebaskan oleh tuan Jake atas seizin tuan Petrus. Tuan Petrus berencana ke Swiss dan menetap di sana. Sedangkan dia akan merelakanku menikah dengan yang lain." Jinny mengabarkan.


"Apa?!" Saat itu juga aku terkejut mendengarnya.


Jinny mengangguk. "Rencana dalam waktu dekat ini pesta pernikahanku akan digelar. Tuan Petrus juga akan ikut menghadirinya. Aku harap kau juga dapat hadir di sana, Lilia," katanya lagi.


Sungguh aku tak percaya jika akan mendengar kabar ini. Ternyata Jinny akan segera dibebaskan dari perjanjian yang mengikatnya. Dan dalam waktu dekat ini juga dia akan segera menikah. Sungguh aku turut bahagia.

__ADS_1


"Kau memang sudah punya calonnya?" tanyaku kepada Jinny.


__ADS_2