
Aku tak peduli. Benar-benar tak peduli. Apapun yang dia katakan tidak patut untuk kupercayai lagi. Fakta telah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya. Tak layak bagiku untuk memercayainya.
"Sulit bagiku untuk bicara empat mata padamu. Jadi maaf jika aku harus menggunakan cara seperti ini. Aku tidak punya cara lain untuk memberi pelajaran kepada seorang pengkhianat sepertimu," katanya.
"Apa maksudmu?! Kau lah pengkhianat sesungguhnya!" Aku membela Jake-ku.
"Aku? Kau sudah berani menyalahkanku? Besar sekali nyalimu, Lilia. Apa karena Jake sudah berpihak padamu?" Dia seperti menyimpan dendam yang begitu besar padaku.
"Nyonya Lea, Jake tidak pernah mengkhianatimu. Awal mula kehancuran rumah tanggamu adalah karena dirimu sendiri. Kau harus ingat di mana malam itu berada. Saat kau dan Jake baru saja melangsungkan pesta. Apa kau berada di kasurnya? Tidak, bukan? Kau malah menginap di hotel bersama seorang pria." Kukatakan apa yang kutahu.
"Apa kau bilang?!!"
Lea geram padaku. Dia pun ingin menamparku. Tapi aku segera menahan tangannya. Dia pun terlihat kesal sekali. Tangan kirinya mencoba untuk menjambak rambutku. Tapi aku mampu menahannya dengan tanganku yang lain. Meskipun kakiku masih terikat di kursi ini. Dan Lea benar-benar kesal. Raut wajahnya merah padam melihatku. Tapi aku tidak tergoyahkan sama sekali. Aku harus kuat menghadapi situasi ini.
"Sayang, hentikan!"
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pria masuk ke ruangan ini. Dan ternyata, Andrian. Selingkuhan Lea itu ternyata ikut andil dalam penculikanku. Lea pun melepaskan tangannya dari ?ku.
"Wanita sialan!" Dia pun memakiku.
"Biar aku saja yang mengurusnya, Sayang." Andrian pun mengambil alih lalu berdiri di depanku. "Lilia." Dia menyebut namaku dengan intonasi penuh dendam. "Kau terlalu berani mengkhianati Lea. Malam ini kau akan merasakan akibatnya," tutur Andrian padaku.
Aku tidak takut. "Anda berlindung di bawah ketiak seorang wanita, Tuan Andrian. Apakah kelelakian Anda perlu dipertanyakan?" Aku mengejeknya.
Dia tersenyum padaku. "Jadi kau ingin merasakannya?" tanyanya sambil memegang wajahku dengan kasar.
"Wanita sialan!"
Lea langsung maju ke arahku lalu berniat menjambak rambutku. Tapi saat itu juga Andrian menahannya. Sepertinya Andrian sudah termakan ucapanku.
Dasar buaya! Istri orang ditiduri juga!
__ADS_1
Kulihat Lea begitu kesal kepada Andrian. Dia seperti tak terima Andrian mencegahnya menjambakku.
"Apa yang kau lakukan?!" Lea tampak kesal.
"Sayang, dengar dulu. Kita akan menghabisinya malam ini. Apakah tidak ingin bersenang-senang dulu?" tanya Andrian ke Lea.
Apa?! Menghabisiku?!
Saat itu juga rasa takut mulai merasukiku. Ternyata kedatangan mereka malam ini untuk menghabisiku. Nyaliku ciut dan tak berani bicara lagi. Aku takut sekali.
Lea terdiam. Dia mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesal terhadap ucapanku. Dia pun menatapku tajam lalu kembali ke belakang. Andrian pun berdiri kembali di hadapanku. Dia kemudian mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya.
"Lilia, lihat ini?" Dia memintaku untuk melihat pisau yang dikeluarkannya.
Aku pun menelan ludah. Tapi berusaha sekuat mungkin agar tidak terlihat takut di hadapannya. Aku yakin Jake akan datang untuk menyelamatkanku.
__ADS_1
"Pisau ini sangat tajam. Bahkan sekali sentuh dapat menggores sampai ke lapisan kulit yang terdalam. Kira-kira bagaimana jika pisau ini digoreskan ke wajahmu?" tanyanya padaku.