FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Permintaan Nakal


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Aku dan Jake duduk bersama sambil meminum kopi late yang enak. Aku duduk di sisi kanannya sambil ikut membaca pesan masuk yang ada di ponsel pintarnya. Dan ternyata banyak sekali pesan yang belum dibalas. Lain kali aku akan menghubungi nomor di ponsel kecilnya saja agar lekas mendapatkan jawaban. Karena ponsel pintar Jake jarang dipakai.


"Seharian ini aku sibuk di pengadilan memberikan kesaksian. Tapi ternyata Lea sudah menyiapkan pengacara untuk membela dirinya. Dan akhirnya putusan sidang ditunda minggu depan." Jake menceritakan.


"Lalu?"


"Kau juga diminta ikut hadir di sana sebagai korban." Jake menuturkan padaku.


"Oh, begitu. Pantas saja hari ini kau tidak lagi sempat mengecek ponselmu. Ternyata masih sibuk di pengadilan." Aku mengatakan.


Dia menarikku agar merebahkan kepala di dadanya. Aku pun mengerti lalu segera melingkarkan tangan ini di pinggangnya. Jake sepertinya butuh semangat dariku.


"Sidang perkara tidak bisa dilakukan hanya sekali, Beb." Dia menjelaskan padaku. Aku pun diam sambil mendengarkan alunan merdu detak jantungnya. "Bersabarlah. Selama menunggu putusan sidang kita bisa ke WO untuk mencari tema pernikahan mana yang kau suka." Dia berjanji padaku.


"Benar, kah?" Aku pun gembira seketika.


Dia mengangguk. "Untukmu apa saja kuberikan. Kecuali waktu kerjaku. Jadi maklumi kesibukanku." Dia berkata lagi.


Aku memerhatikan wajahnya. Jake ku ini sudah berubah bucin padaku. Aku pun tersenyum lalu mencium pipinya. Dia sekarang sudah lebih terbuka dan apa adanya padaku. Padahal dulu dia sangat susah sekali ditaklukkan.

__ADS_1


"Em, Beb." Dia memerhatikan tubuhku. "Sepertinya kau lebih berisi sekarang." Dia memerhatikan penampilanku malam ini.


"Tentu saja." Aku pun menjawabnya. "Hampir tiap malam dipompa terus," cetusku.


"Hahahaha." Dia tertawa geli sendiri mendengarnya. "Tapi suka, kan?" Dia menggodaku.


"Tidak." Aku pun pura-pura tidak menyukainya.


"Benar?" tanyanya lagi sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


Aku pura-pura tak menyukainya dengan mengangguk sekali. Saat itu juga...


"Beb, kau sangat menggairahkan. Aku tidak pernah bosan untuk memandangimu. Kau selalu mampu membuatku bergelora. Apakah kau membacakan mantra sebelum bertemu denganku?" tanyanya.


"Eh???" Seketika itu juga aku tersinggung. "Mana ada. Aku tidak pernah memakai hal itu sekalipun pekerjaanku dulu membutuhkannya. Memang aku tak mampu melakukannya sendiri?" Aku memasang wajah julid di depannya.


"Hahahaha." Dia tertawa renyah di sisiku. "Kau ini menggemaskan. Tubuhmu sangat berisi, Beb. Aku menyukainya." Dia memujiku.


"Jadi hanya suka tubuhku saja?" tanyaku padanya.


"Astaga." Dia menepuk dahinya sendiri. "Memang kalau bicara dengan wanita itu harus ekstra hati-hati ya. Jika tidak, akan ngambek berhari-hari." Dia menyadari sifat asliku.

__ADS_1


Aku tersenyum lalu mulai membelai dadanya yang tertutupi piyama tidur berwarna ungu metalik. Saat itu juga Jake terdiam seraya memerhatikanku.


"Aku juga sama. Kau selalu menggairahkan di mataku. Kau tidak pernah berhenti memuaskanku." Aku bergantian memujinya.


Saat itu juga dia memandangi paras wajahku ini. Lalu pada akhirnya dia mengecup leherku. "Besok aku libur. Bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama hingga esok pagi?" Dia pun menggigit telingaku ini.


Aku pasrah digigit olehnya. Entah mengapa sudah siap diterkam olehnya. "Siapa takut?"


Pada akhirnya Jake pun mendudukkanku di atas pangkuannya. Aku duduk miring di hadapannya.


"Tahan desahmu, Beb. Dan panggil aku dengan kata sayang."


.........


...Jake...



...Lilia...


__ADS_1


__ADS_2