
...Jake...
Pukul sebelas siang waktu ibu kota dan sekitarnya...
Menjelang siang ini aku baru saja sampai di rumah sakit. Aku pikir Lara bercanda masuk rumah sakit. Tapi ternyata dia benar-benar menjalani rawat inap di sini. Dan ya, sesuatu yang tak terduga sekali.
Bisa dibilang Lara amat jarang sakit. Dia jarang absen di kantor bahkan hampir tidak pernah. Dalam satu tahun kalender kerja, paling hanya satu hari tidak masuk. Itu pun karena malas mengisi absen karena telat datang. Tapi kini kulihat selang infus itu terhubung dengan tubuhnya. Wajahnya pun tampak pucat sekali.
"Tuan Jake, Nona Lilia." Dia pun mencoba berdiri saat kami datang.
"Tiduran saja, tak apa." Jake pun meminta Lara untuk tetap berbaring. Priaku ini ternyata tidak gila hormat dari orang lain.
Lara ditemani seorang perawat di sini. Mungkin Jake yang memintanya untuk menemani Lara selama berada di rumah sakit. Dan ya, Jake tampak berbicara dengan perawat itu mengenai kondisi Lara. Sedang aku duduk di sisi pembaringan lalu mencoba bicara padanya. Kuperhatikan wajahnya yang tampak pucat sekali.
"Bagaimana bisa kau berada di sini, Lara?" Aku pun menanyakannya.
__ADS_1
Dia tampak berat mengatakannya. "Kesalahan kecil telah kuperbuat semalam sehingga bisa berada di sini." Dia berkata padaku.
"Kau salah makan?" tanyaku lagi.
Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mungkin hanya sedikit ceroboh karena tidak berhati-hati," jawabnya lagi.
Jake pun telah selesai bicara dengan perawat Lara. Dia kemudian meminta perawat itu untuk keluar sebentar dari ruangan ini. Dia mendekati Lara lalu memegang keningnya untuk memeriksa kondisi terkini. Tampak Jake yang sangat sayang kepada Lara. Aku pun jadi cemburu padanya.
"Jadi dia memakai jenis obat sakit perut agar kau tidak berangkat bekerja?" Jake bertanya kepada Lara lalu duduk di kursi sudut ruangan ini.
"Benar, Tuan. Aku ceroboh. Maafkan aku." Lara pun meminta maaf kepada Jake.
Lara mengangguk. Dia tahu tugasnya sudah selesai.
"Lilia." Jake pun memanggilku.
"Ya?" Aku juga segera menjawabnya.
__ADS_1
"Bisa temani Lara sebentar di sini? Aku akan menemui Biden. Ada yang harus kubicarakan padanya." Jake beranjak berdiri.
Aku mengangguk. Jake kemudian memberikan pistol kepadaku. "Sudah tahu bagaimana cara menggunakannya, bukan?" tanyanya.
Saat menerimanya, saat itu juga jantungku dag-dig-dug tak karuan. Jake akhirnya memberiku satu pistol sungguhan. Yang mana berarti bukti kepercayaan penuh telah dia berikan padaku.
"Lara, Lilia akan bergantian menjagamu. Aku akan kembali secepatnya untuk mengantarkanmu ke tempat pelatihan. Jaga diri kalian selama aku pergi." Jake berpesan pada kami.
"Baik." Aku pun mengantarkannya sampai ke depan pintu.
Jake berbalik ke arahku. Kami berdiri di luar ruangan rawat Lara. "Beb." Dia memanggilku kembali.
"Ya?" Aku juga menjawabnya lagi.
"Bajumu seperti mengganggu penglihatanku. Bisa kenakan jaket? Aku tidak konsentrasi melihatnya," katanya yang sontak membuatku tertawa.
Dia ini. Aku sudah serius, dia malah bercanda.
__ADS_1
Aku kira Jake ingin menitipkan pesan penting lagi padaku. Tapi nyatanya amat jauh dari perkiraanku. Dia ternyata malah membahas pakaianku. Dan memintaku untuk segera memakai jaket. Sungguh aku gemas sekali.
"Muach!"