
Menjelang petang, di Pulau Zura...
Aku baru saja sampai di sebuah pulau yang bernama Zura. Pulau ini merupakan pulau kecil yang jarang sekali pengunjungnya. Mungkin luasnya tidak seberapa. Tapi di pulau ini juga memiliki pemandangan pantai yang begitu indah. Katakanlah jika ini adalah pulau yang belum menarik para wisatawan karena jarang terekspos media.
Di pulau ini pulalah Jinny dan Petrus disembunyikan. Dan saat aku tiba, ternyata ada sebuah vila atau rumah yang cukup besar. Mungkin luasnya sekitar tiga sampai empat kali luas perumahan kecil pada umumnya. Tapi walaupun begitu, halamannya sangat luas. Ada tempat pendaratan helikopter dan juga dermaga kecil untuk kapal datang.
Indahnya pemandangan sekitar.
Kini aku berjalan bersama Jake memasuki kawasan dermaga. Kami sengaja menggunakan kapal cepat agar tidak menarik perhatian keadaan sekitarnya. Karena kalau menggunakan helikopter, suaranya bising sekali. Dan ya orang-orang Jake tampak menyambut kedatangan kami.
"Tuan."
Jake pun memberi kode untuk tidak terlalu memberi penghormatan padanya. Kami pun segera masuk ke vila yang ada di sini. Vila berlantai dua.
__ADS_1
"Lilia?!" Saat itu juga kulihat Jinny sedang menyiram bunga di depan vila. "Lilia!" Jinny pun segera berlari ke arahku. Dia memelukku.
"Nyonya Jinny." Aku pun menyapanya.
Jinny berwajah khawatir sekali. Dia tampak bersimpati atas musibah yang menimpaku. "Panggil saja aku Jinny. Ayo masuk!" Dia pun memintaku untuk segera masuk ke vila, tanpa menghiraukan Jake yang berada di sampingku.
Sepertinya ada yang berubah.
Saat itu juga aku merasakan ada perubahan sikap Jinny kepada Jake. Apakah Jake yang memintanya? Atau Jinny yang telah dibebaskan dari perjanjian? Entahlah, aku juga tidak tahu. Lebih baik segera masuk dan melihat-lihat keadaan vila yang akan kutempati ini.
Aku, Jake, Jinny dan Petrus duduk bersama di ruang keluarga vila ini. Jinny pun menghidangkan teh untuk kami. Jake juga segera memulai pembicaraannya bersama Petrus. Sedang Jinny tampak menggenggam erat tanganku. Mungkin dia amat mengkhawatirkanku karena kejadian itu.
"Tim masih mendalami kasus, Tuan. Niatku setelah ini akan menjenguk Biden di penjara. Aku curiga jika dia yang meruntuhkannya." Jake berkata sambil menghisap puntung rokoknya.
__ADS_1
Pria tua yang seusia kakekku itu terlihat memikirkan kejadian ini. "Aku rasa masih ada beberapa musuh yang harus segera diselesaikan, Tuan Jake." Pria tua itu pun mengatakan.
Jake mengembuskan asap rokoknya. "Anda benar, Tuan. Maka dari itu aku ingin menitipkan Lilia sementara waktu. Aku akan mencari tahu siapa dalang dari pengeboman gedung itu. Karena kerugian yang ditimbulkan tidak main-main. Satu gedung setara dengan puluhan mobil keluaran terbaru." Jake menyebutkan.
Petrus mengangguk.
"Jinny." Jake beralih ke Jinny.
"Ya, Tuan?"
"Tolong temani Lilia sementara waktu. Aku rasa musuh kali ini tidak ada hubungannya denganmu ataupun tuan Petrus. Jadi aku titip Lilia di sini." Jake berkata pada Jinny.
"Aku siap, Tuan." Jinny pun menyanggupinya.
__ADS_1
Pada akhirnya Jake menyerahkanku pada Jinny dan Petrus untuk sementara waktu. Sedang dirinya akan segera mencari tahu siapa dalang dari pengeboman gedung waktu itu. Jake ingin semua masalah cepat selesai. Aku pun mendukungnya dari belakang. Karena kutahu apapun yang diakukannya untuk kebaikan kami bersama. Dan aku berharap Jake bisa segera menyelesaikannya. Demi pernikahan kami yang akan segera terselenggara.