
Dia pun mulai bermain di sana. Kumis tipisnya itu mengenai permukaan kulit dadaku. Aku pun mulai merasakan geli yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Aku tak sanggup bila terus begini. Aku bisa kehilangan kendali.
"Bagaimana? Masih merasa ini mimpi?"
Dia pun mulai mencubit pucuk dadaku dengan bibirnya. Sontak fantasiku melayang ke mana-mana. Tangannya juga mulai bergerilya di tubuhku. Dia memilikiku sepenuhnya. Dan aku tidak bisa melawannya. Aku memang miliknya.
Esok harinya...
Pagi kembali datang yang membuat jantungku semakin deg-degan. Dan kini aku sedang ke supermarket bersama Jinny untuk membeli barang apapun yang kusuka. Karena akan dijadikan seserahan pesta pernikahan. Jake memintaku untuk memilih sendiri. Sedang dia masih sibuk dengan berbagai pekerjaannya.
"Lilia, aku rasa kau harus membeli lingeri juga." Jinny menyarankan saat kami sedang berjalan di lorong pakaian dalam.
"Memangnya boleh pakaian seperti itu dijadikan seserahan?" tanyaku.
__ADS_1
Jinny terkekeh sendiri. "Iya juga. Tapi tak apa mungkin buat stok sebelum dinas malam." Jinny mencandaiku.
"Hm ... sepertinya ada yang tertunda karenaku." Aku pun menyelidiki ketulusan Jinny dalam membantu pernikahan kami.
Jinny tersenyum. "Tidak perlu dipikirkan. Aku dengan senang hati membantumu," katanya.
"Lilia."
Saat itu juga kudengar suara seorang wanita yang menyebut namaku di tengah pembicaraan ini. Aku pun menoleh, melihat siapa gerangan yang memanggilku. Dan ternyata...
Dia tersenyum padaku. "Kebetulan. Apa kita bisa berbicara sebentar?" tanyanya yang membuatku melirik ke arah Jinny.
Tak tahu mengapa kami bisa bertemu di supermarket ini. Tak tahu mengapa aku bertemu dengan seorang wanita yang awalnya baik padaku. Tapi kemudian dia menolakku mentah-mentah karena tahu masa laluku. Dan sekarang entah apa lagi yang akan dia katakan padaku. Aku juga tidak tahu. Tapi ada baiknya aku menyambut ajakannya dengan senyuman. Aku calon seorang nyonya besar. Aku harus menjaga nama baik Jake-ku.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari mantanku ini mengajak ku berbicara empat mata di kafe supermarket. Sedang Jinny duduk berbeda dua meja dariku. Aku pikir dia ingin membicarakan putranya yang bernama Alexander itu. Tapi ternyata dia meminta maaf padaku. Aku pun merasa semuanya sudah berlalu.
"Tak apa, Nyonya. Memang terkadang orang memandang sebelah mata terhadap pekerjaanku dulu. Aku pun menerimanya. Segala sesuatu pasti memunculkan pro dan kontra." Aku berusaha bijak menerima ucapannya waktu itu.
Dia memasang raut wajah tak enak hati padaku. "Alexander sudah menceritakan pada ibu, Lilia. Tapi mungkin semua sudah terlambat. Kau juga sudah akan menikah dengan tuan Jake Thompson." Dia ternyata tahu priaku.
Aku tersenyum. "Ya. Tinggal hitungan hari lagi kami akan menikah. Mohon doanya, Nyonya." Aku berkata padanya. "Aku rasa apa yang sudah terjadi tidak perlu diungkit lagi. Mungkin takdir memang sudah menggariskanku bersama Jake." Aku berlapang dada.
"Ibu, Lilia."
Tak berapa lama suara seseorang yang kukenal terdengar. Aku pun menoleh ke asal suara untuk memastikan. Dan ternyata Alexander lah yang datang. Sontak aku terkejut melihatnya.
__ADS_1
Dia ke sini?!
Aku pun mulai merasa risih dengan kehadirannya. Aku menoleh ke arah Jinny yang duduk berbeda dua meja dariku. Dia pun melihat mantanku itu datang. Pastinya dia juga sudah tahu siapa Alexander sebelumnya.