
"Lilia."
Jinny menyapaku karena sedari tadi diam saja. Aku pun mengangguk padanya. Berusaha mengatakan dengan bahasa tubuh jika aku baik-baik saja.
Sungguh aku bahagia tak terkira. Pesta pernikahan yang kutunggu-tunggu akhirnya terwujud juga. Lampu-lampu kristal pun menerangi acara sakral ini. Pembawa acara juga segera mengambil alih. Dia meminta kepada hadirin untuk memberi jarak kepada kami. Dan pada akhirnya aku dipersilakan untuk melangkahkan kaki ke dekat Jake. Saat itu juga aku deg-degan bukan main.
Jantungku ....
Entah mengapa detak jantungku terasa lemah. Aku seperti tidak mempunyai kekuatan untuk terus berjalan ke arahnya. Aku terharu dengan keadaan ini. Aku akan dipersunting olehnya.
__ADS_1
Jake, kau menangis?
Dan saat aku berjalan menuju ke arahnya, kulihat Jake mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Dia menyeka matanya. Seperti menangis melihatku yang dibantu Jinny berjalan ke arahnya. Hingga akhirnya Jake mengulurkan tangannya untukku. Saat itu juga kilatan kamera menyala dari segala penjuru. Aku dan Jake berdiri bersama untuk mengucapkan janji suci. Di hadapan para tamu undangan yang hadir ini. Sungguh jantungku tak lagi bisa terkendali.
Lima belas menit kemudian...
"Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, Saudara Jake Thompson dan Saudari Nona Lilia Hana dinyatakan resmi sebagai pasangan suami istri. Silakan Tuan dan Nona saling bertukar cincin lalu mencium pasangannya."
Jake menatapku. "Lilia." Dia menyebut namaku.
__ADS_1
Kami pun berpandangan setelah saling memakaikan cincin di hadapan para undangan yang hadir. Tampak Jinny yang memberikan ruang kepada kami untuk saling bicara. Dia mundur ke belakang, bercampur dengan hadirin lainnya. Sedang aku menatap dalam Jake-ku. Priaku ini telah menepati janjinya.
"Jake ...." Aku pun menyebut namanya.
Dia menelan ludahnya seraya menatapku. Kulihat linangan air mata itu mulai menggenang di matanya. Aku tahu jika dia juga terharu. Perjalanan panjang telah kami lalui bersama. Dan akhirnya kami bisa mengikrarkan diri sebagai suami istri. Sungguh ini seperti mimpi.
"Malam ini kita telah berikrar janji. Dan malam ini juga kita telah resmi berstatus suami istri. Maafkan aku yang sering mengabaikanmu. Tapi setelah ini aku berjanji akan menyerahkan sisa hidupku untukmu. Aku mencintaimu, Lilia. Maka cintai aku sepenuh hatimu," katanya yang membuat air mata ini tak sanggup terbendung lagi.
Aku mengangguk. Mengangguk dengan air mata yang hampir menetes membasahi pipi ini. Aku begitu bahagia sekali. Apa yang aku impikan, apa yang aku inginkan, kini telah nyata terjadi. Aku pun segera menghambur ke pelukannya. Aku memeluknya dengan erat. Saat itu juga para hadirin ikut terharu dengan momen ini. Beberapa dari mereka ada yang terdengar menahan isak tangisnya. Aku pun kembali fokus ke Jake-ku lagi.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Jake. Aku lebih mencintaimu."
Dan akhirnya kami pun saling berciuman di atas altar pernikahan. Diiringi tepuk tangan dan tangis haru para hadirin yang datang. Jake pun menciumku sepenuh hati. Dia tidak ingin melepas ciumannya malam ini. Aku pun membalas ciumannya. Kami memang telah ditakdirkan bersama. Aku miliknya dan dia milikku. Aku mencintainya, sangat mencintainya.