
Jake menyelamatkanku. Dia adalah pahlawan bagiku. Dengan gagah berani dia datang untuk menyelamatkanku. Sungguh cerita kami seperti drama-drama aksi. Jika ingat hal itu rasanya seperti mimpi. Sebuah mimpi buruk yang harus kujalani.
Waktu itu...
"Halo, Jake. Lampu kantor mati. Baterai ponselku juga tinggal 25% lagi. Aku menggunakan senter dari ponselku!" kataku panik.
Aku masih ingat saat berada di gedung itu. Di mana keadaan berubah drastis malam itu. Lampu gedung tiba-tiba mati dan lift pun tidak terbuka sama sekali. Tangga darurat menuju lantai satu pun terkunci. Saat itu juga aku panik sampai tidak bisa berpikir jernih. Aku terpojok, tersudut di suatu keadaan yang mengerikan.
"Jake?"
Kudengar suara gemuruh dari seberang sana. Jake seperti berada di dalam helikopternya. "Beb, jangan gunakan lift atau tangga darurat. Kau ke atap gedung saja. Sekarang!" katanya dari seberang telepon.
"Apa?! Ke atap gedung?! Ada apa, Jake?" Aku pun kebingungan dengan perkataannya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Sekarang lepas sepatumu lalu berlarilah ke tangga menuju atap gedung ini. Cepat, Beb!" pintanya lagi dari seberang.
__ADS_1
Sungguh aku tak mengerti mengapa Jake meminta seperti itu padaku. Aku pun hanya bisa menurutinya. Kulepas sepatu lalu mencari anak tangga yang menuju ke atap gedung Sky Grup ini. Dan tak lama kutemukan tangga itu. Namun...
"Gelap sekali, Jake. Aku takut." Aku tak berani berjalan melewatinya.
"Lilia, tinggal lima menit lagi. Cepat!!!" Jake pun memintaku untuk segera naik ke tangga itu.
Sungguh jantungku berdegup kencang. Deru napasku seolah ikut memburu kala Jake memintaku untuk segera menaiki anak tangga yang gelap ini. Dan dengan bermodal senter ponsel, akhirnya kuberanikan diri untuk menaiki anak tangga. Yang mana aku harus melalui puluhan anak tangga untuk sampai ke atas sana. Malam ini aku harus berlari sekuat tenaga.
"Hah, hah ...."
"Akh! Jake, ada gempa!!!" Aku pun semakin takut menjadi-jadi.
"Beb, tenang. Lari sekuat tenaga ke atap gedung. Sekarang! Cepat!!!" pintanya lagi.
Dan pada akhirnya aku kembali menaiki anak tangga untuk menuju ke atap gedung ini. Tapi saat baru ingin melangkahkan kaki, saat itu juga gedung ini berguncang. Aku pun segera memegangi sisi pagar tangga untuk menahan bobot tubuhku ini. Sungguh aku panik sekali.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?
"Lilia, kau dengar aku? Cepat Lilia!!!"
Dan begitulah yang Jake katakan padaku. Tak lama kudengar seperti suara helikopter yang datang ke tempat ini. Tidak salah lagi jika Jake lah yang datang untuk menjemputku. Aku pun berusaha sekuat mungkin untuk keluar dari situasi ini. Aku berlari menaiki anak tangga kembali. Sampai akhirnya aku berhasil mencapai atap gedung ini.
"Jake!!!" Aku berteriak memanggilnya saat kulihat dia datang dan menggantung di tangga helikopternya.
"Dekatkan helikopternya!" Jake pun meminta ke anak buahnya. "Lilia, pegang tanganku!"
Dengan sudut kerendahan maksimal, dia mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambut uluran tangannya itu. Tapi, saat ingin meraihnya, tiba-tiba saja gedung Sky Grup berguncang kembali. Sontak aku pun jatuh terduduk di lantai atapnya.
"Akh!!!"
"Lilia!!!"
__ADS_1