FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Selalu Nakal


__ADS_3

"Lilia, maaf. Masih ada yang tertinggal di antara kita," katanya yang membuat Jinny segera berdiri dari duduknya. Aku pun tak tahu apa yang akan dibicarakannya.


Malam harinya...


Malam akhirnya datang. Aku pun berdiri di dekat jendela apartemen Jake yang besar. Sambil menyeruput kopi latte yang kusuka. Dan ya, apa yang terjadi tadi siang teringat kembali di benakku ini.


Alexander datang dan mengajak ku bicara. Tentu saja hal itu membuat Jinny segera mendekati kami. Wajah Jinny sungguh tak enak sekali saat Alexander membahas apa yang telah berlalu. Jinny melipat kedua tangannya di dada saat mendengarkan penjelasan Alexander. Tapi aku sudah memantapkan hati untuk meneruskan pernikahan ini. Aku tidak bisa menerimanya lagi.


Kuakui perjalanan cintaku bersamanya memang terhambat restu orang tua. Terutama ibunya yang menolakku mentah-mentah. Tapi permintaan maaf ibunya seolah menjadi sinyal jika kami bisa bersama. Namun, aku sudah tidak bisa. Hati ini sudah terlalu sakit untuk berharap lebih. Dan akhirnya pertemuan diakhiri karena Jinny mengajak ku pulang. Mungkin dia khawatir hatiku galau. Aku pun meminta Alexander untuk mengikhlaskan semuanya. Walaupun pahit tapi ini sudah menjadi keputusan. Aku tidak bisa bersamanya.


"Ada calon pengantin wanita sedang merenung di dekat jendela. Ada apa?" Kusadari jika Jake baru pulang dari kantornya. Dia memelukku dari belakang.

__ADS_1


"Eh? Kok tidak kedengaran pulangnya?" tanyaku heran.


Dia membalikkan tubuhku. "Bagaimana bisa kedengaran sedang hati dan pikiranmu tidak berada di sini." Dia seperti menyindirku.


Aku menunduk malu lalu mengangkat wajah ini seraya tersenyum kepadanya. "Maaf. Mungkin aku kelelahan." Aku beralasan saja.


Jake mencubit pipiku. "Jangan banyak pikiran. Pesta pernikahan sudah mulai dipersiapkan. Sekarang beristirahatlah agar bisa tampil cantik di altar pernikahan. Kau tidak perlu memikirkan yang macam-macam, Beb." Dia memintaku.


Dia mengedipkan matanya kepadaku. Lalu meremas bokongku ini. "Jake!" Aku pun kesal karena ulah nakalnya.


"Jangan marah. Kau sudah jadi milikku." Dia berkata seperti itu.

__ADS_1


Pada akhirnya aku pun hanya pasrah. Jake lalu menggendongku ke dalam kamarnya. Otot-otot lengannya kekar sehingga dapat dengan mudah menggendongku. Aku pun direbahkan di atas kasurnya. Dia lalu menarik selimut untukku. Dia juga mengecup keningku. Lalu berkata mesra sambil memerhatikan wajahku. Jake kini sudah berubah. Dia bukan lagi kulkas dua pintu.


"I love you, Beb. Have a nice dream," katanya lembut seraya memerhatikan wajahku ini.


"I love you more."


Dan pada akhirnya aku terlelap dalam mimpi. Semoga esok bertambah lebih baik lagi.


Pesta Pernikahan...


Waktu terus saja berlalu hingga memasuki hari di mana kami melangsungkan ikrar janji suci. Dan kini aku sedang didandani oleh penata rias terkenal. Aku bersama Jinny dan staf pesta pernikahan di sebuah gerai WO yang besar. Sedang Jake bersiap-siap di tempat lain. Kami bertemu terakhir tadi pagi dan langsung dipisahkan di sini. Aku bersama Jinny dan dia dengan anak-anak buahnya. Sepertinya pesta yang berlangsung akan meriah sesuai harapan.

__ADS_1


Jinny mengabarkan padaku jika Jake mengirim lima ratus undangan. Aku pikir akan benar-benar seribu. Tapi ternyata hanya setengahnya saja. Aku pun jadi bisa berpikir dengan tenang. Karena sepertinya lima ratus masih sanggup untuk kuajak bersalaman.


__ADS_2