FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Terbuka


__ADS_3

Aku pun mencium pipinya sebagai wujud rasa gemasku karena ucapannya. Dia pun tersenyum padaku. Aku tahu jika dia sangat menyayangiku. Tapi dia juga tidak bisa melihatku berpakaian yang sedikit terbuka. Hasratnya tidak bisa ditahan kalau dekat-dekat denganku. Dan aku sudah paham benar apa yang diinginkan olehnya. Kami sudah mengenal satu sama lain cukup lama. Dan aku menyayangi Jake-ku.


Malam harinya...


Langit cerah berbintang. Bulan pun telah menampakkan sinarnya. Udara di dermaga terasa dingin menusuk kulit. Aku pun berlindung di pelukan Jake-ku. Hangat tubuhnya begitu kubutuhkan saat ini. Dan ya, dia juga memelukku. Pelukan hangat dan erat. Jake tahu jika aku membutuhkannya.


"Lusa sidang perdana Lea dan Andrian. Kau mau ikut hadir?" tanya Jake sambil duduk bersamaku di dalam mobil ini.


Aku menggelengkan kepala. "Aku ingin di kantor saja. Pekerjaan menumpuk sekali," jawabku.


Jake mengusap-ngusap lenganku. Kami baru saja mengantarkan Lara ke tempat pelatihan. Dia akan beristirahat di sana selama beberapa hari ke depan. Jake memberinya waktu liburan. Dan kini tinggal aku bersamanya di ibu kota. Kami menikmati masa tenang bersama. Berpelukan di dekat dermaga di bawah sinar rembulan.

__ADS_1


"Aku memutuskan untuk melepaskan Aurelia. Dia akan melakukan serah terima di kantor besok ini. Kau akan bertemu dengannya lagi. Apa tidak keberatan?" tanya Jake padaku.


Aku menghirup aroma parfumnya dalam-dalam. Bergitu harum dan juga memabukkan. Aku pun memeluknya dengan erat seperti tidak mau dilepaskan. Di dalam mobil ini kami begitu mesra tanpa peduli ada yang melihatnya. Dan ya, aku mengatakan apa yang ada di pikiranku saat ini kepadanya.


"Sebenarnya aku tidak keberatan jika Aurelia masih bekerja di GOC. Karena bagaimanapun dia telah lama andil dalam kemajuan perusahaan. Tapi jika kau memang tidak bisa menolelir kesalahannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ikut denganmu dan akan selalu mendukungmu. Tapi kurasa kita harus memberikan pesangon yang besar kepadanya." Kuungkapan isi pikiranku.


Jake mengangguk. "Aku tahu kau akan menimbang hal itu. Aku hanya ingin memberi efek jera padanya. Sekalipun dia bekerja, dia tidak akan kuat menahan cibiran orang. Karena dia tidak lagi bisa kutempatkan di kantor pusat. Hanya bisa di kantor cabang luar kota. Itu pun jika dia bersedia," terang Jake padaku.


Aku mengerti. Sangat mengerti jalan pikiran Jake mengenai masalah Aurelia ini. Jake memang tidak bisa dikhianati walaupun hanya sekali. Dia berintegrasi tinggi dan menjunjung tinggi sebuah komitmen. Aku juga tidak bisa memaksakan pendapatku padanya. Karena Jake lebih tahu mana yang lebih baik untuk perusahaannya.


"Hm?"

__ADS_1


"Ingin merasakan sensasi baru?" tanyanya sambil melihatku.


"Sensasi baru?"


Dia mengangguk. "Sepertinya kita belum pernah bermain di mobil. Apalagi di dermaga seperti ini. Mau mencobanya?" tanyanya padaku.


Saat itu juga aku mengerti apa yang diinginkannya. "Jake, aku masih tidak boleh--"


"Tidak di dalam. Di luar saja. Seperti semalam. Ya?" Dia memintaku.


Aku duduk tegak lalu melihat ke belakang. Memeriksa kondisi dermaga ini. Dan ternyata dermaganya sepi. Tetapi tetap saja takut jika ada yang memergoki kami.

__ADS_1


"Jake, bagaimana jika ada yang datang?" tanyaku, khawatir.


Dia tersenyum lalu menaikkan kaca mobilnya. "Tidak ada." Dia kemudian menelepon seseorang untuk memastikannya. Dan ternyata dia mengondisikannya. "Beres." Dia pun tersenyum padaku.


__ADS_2