FIRE OF LOVE

FIRE OF LOVE
Minta Upah


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi hari aku terbangun dengan tubuh yang pegal-pegal dan lelah. Sepertinya aku harus pijat refleksi hari ini. Karena kalau dipijat Jake akan lain lagi ceritanya. Dan ya, aku segera menyiapkan sarapan pagi.


Jake belum menceritakan padaku bagaimana dia bisa cepat sampai ke tanah air. Dia juga belum menceritakan mengapa terlambat datang untuk menyelamatkanku. Semalam dia melampiaskan amarahnya dengan mengajak ku bercumbu. Entah mengapa, aku juga tidak tahu. Dia bilang hatinya tak terima mendengar kata-kataku pada Andrian di ruangan itu. Sehingga dia menghukumku.


"Beb, tolong belikan pencukur kumis. Kumisku sudah tumbuh lagi." Dan begitulah yang dia katakan padaku dari dalam kamar mandi.


"Ya, tunggu sebentar!" Aku pun beranjak keluar untuk membelikannya pencukur kumis.


Padahal baru beberapa hari yang lalu dicukur, tapi sekarang sudah tumbuh lagi. Hormonnya berkembang begitu pesat. Sampai-sampai kumisnya pun tumbuh secepat kilat. Dasar Jake!


Aku ke lantai bawah untuk membeli pencukur kumis Jake. Dan dengan menaiki lift tidak perlu berlama-lama untuk sampai. Aku juga segera memborong semua pencukur kumis yang dijual agar tidak bolak-balik lagi. Lalu kubayar semua barang belanjaannya dengan menggunakan kartu kredit milik Jake. Aku bisa sesuka hati menggesek uangnya.


Jangankan uangnya. Orangnya juga bisa.

__ADS_1


Dan pada akhirnya aku kembali lagi ke apartemennya. Membuka pintunya dengan menggunakan kartu, lalu lekas ke kamar mandi untuk memberikan pencukur kumis ini.


"Aku memborong semua pencukur kumisnya. Totalnya satu juta. Upahnya lima juta," kataku dengan tanpa merasa berdosa.


Dia pun segera menoleh ke arahku yang sedang membasuh wajahnya. "Lebih banyak upahnya?" Dia tak percaya dengan pemberitahuanku.


"Tentu. Zaman sekarang tidak hanya ucapan terima kasih saja." Aku pun memasang wajah menyebalkan di depannya.


Jake tertawa. "Baiklah. Tunggu aku cukur dulu."


"Akhirnya semua sudah usai. Aku bisa tenang sekarang."


Kebahagiaan kami akhirnya bisa dimulai hari ini manakala ketiga musuh Jake ditahan oleh pihak berwajib. Dan rencana lusa akan diadakan sidang oleh pengadilan atas perbuatan Lea dan Andrian. Aku pun siap-siap menontonnya dari sini. Tapi untuk sekarang Jake akan mengajak ku menemui seseorang. Yang mana dia juga ikut terlibat dalam rencana penculikanku. Siapa? Ya, tentu saja Aurelia. Dia kini ditahan oleh orang-orang Jake di suatu tempat. Dan hari ini aku akan ke sana untuk melihatnya.


Dua jam kemudian...

__ADS_1


Suara burung walet terdengar ramai di lokasi ini. Aku tiba di sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Letaknya di utara ibu kota. Dan ya, aku bersama Jake segera masuk ke sana. Tapi setelah membuka pintunya, ternyata tempatnya cukup bersih. Tersedia satu meja besar dengan banyak kursi yang mengelilingi. Tidak salah lagi jika ini adalah markas tim rajawali.


"Tuan." Kedatangan Jake pun disambut oleh orang-orangnya.


"Di mana Aurelia?" tanya Jake segera.


"Ruangan nomor enam, Tuan." Anak buahnya menyebutkan.


Jake mengenakan pakaian formal hari ini. Sedang aku sedikit santai dengan kemeja tipis sebagai rompi. Dan ya kami segera masuk ke ruangan tempat Aurelia berada. Jake membuka pintunya. Dan saat masuk, saat itu juga kulihat Aurelia sedang terikat tanpa bisa bergerak sama sekali. Di ruangan itu juga temaram sekali. Hanya lampu mini yang menyinari.


.........


...Lilia...


__ADS_1


__ADS_2