
...Lilia...
...... ...
"Jake!" Aku pun memanggil priaku.
Pria bersinglet putih itu menoleh ke arahku. "Lilia, kau sudah bangun?" tanyanya.
Tampak anak buah Jake yang berhenti tertawa. Mereka pun terdiam begitu melihatku datang.
"Em, Tuan. Kami permisi dulu. Besok kami akan datang ke markas." Salah satu dari mereka berpamitan.
Mereka tampak formal kepada Jake. Dan akhirnya satu per satu dari mereka meninggalkan apartemen ini. Mereka juga membungkukkan badannya ke arahku sebelum pergi.
"Jake?"
Aku menanyakan apa yang terjadi sambil menyilangkan kedua tangan ini di dada. Jake pun mengantar anak buahnya pergi. Ternyata dia tidak berada di kasur karena sedang bercanda tawa bersama orang-orang kepercayaannya.
__ADS_1
Jake menutup pintu apartemen lalu berjalan ke arahku. "Sudah pulas tidurnya?" tanyanya seraya melingkarkan kedua tangan dari belakang. Jake memelukku.
"Aku merasa berisik. Jadinya bangun," jawabku.
Dia mencium bahuku. "Maaf. Kami hanya punya waktu malam untuk minum bersama. Kau ingin tidur lagi?" tanyanya padaku.
"Kalian sedang membahas apa?" Aku pun ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
"Oh, itu." Jake pun melepaskan pelukan. "Kami membahas Biden dan juga persidangan tadi. Sepertinya anak buah Biden sedang mencari perlindungan ke sana dan kemari." Jake menceritakan.
"Ada apa memangnya?" tanyaku lagi.
Aku pikir semuanya bisa berakhir bahagia tanpa ada yang terluka. Tapi mendengar cerita ini aku merasa kasihan dengan pria paruh baya yang sempat menggodaku itu. Perusahaannya diambang kebangkrutan dan anak buahnya kocar-kacir tak karuan. Sepertinya ini adalah balasan yang setimpal untuknya. Mendekam di penjara dan terkena denda yang begitu besar. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika di posisinya.
"Oh, ya. Jinny meminta kita bertemu pukul sebelas nanti. Dia mempunyai kenalan seorang WO yang bisa dipercaya. Nanti kau bisa bersamanya memilih-milih busana. Karena aku harus ke markas dan juga pulau F untuk memeriksa progres pembangunan resort. Tidak apa, bukan?" Jake menanyakan padaku.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu kita beristirahat dulu. Ayo, Sayang!" Dia pun memanggilku dengan sebutan sayang.
__ADS_1
Pada akhirnya Jake memutuskan untuk memilih WO kenalan Jinny. Aku sendiri belum tahu bagaimana pastinya wedding organizer itu. Apakah bagus atau tidak? Apakah memuaskan atau tidak? Tapi karena Jake yang sudah memilihnya, mau tak mau aku ikut saja. Mungkin dia ingin semuanya cepat selesai. Sehingga tinggal berdiri di altar pernikahan. Entahlah, kuikuti saja maunya.
...... ...
...Jake...
...... ...
Ibu kota pukul sebelas siang waktu sekitarnya...
Cuaca panas terik setelah semalam dilanda hujan. Dan kini aku sedang menyeruput jus melon bersama Jinny di salah satu restoran yang ada di ibu kota. Jinny membawakan katalog WO kenalannya. Dan ya, gambarnya bagus-bagus semua.
"Tuan sudah meneleponku. Dia bilang sekitar seribu orang akan diundang. Aku tak tahu benar pastinya. Tapi karena tuan banyak relasi dan kenalan, hal itu bisa saja terjadi. Tapi masalahnya apakah kau sanggup bersalaman dengan seribu orang?" tanya Jinny padaku.
Seribu orang?! Ini pesta pernikahan atau konser besar?
Jake tidak salah-salah jika ingin mengundang orang. Aku tak bisa membayangkan jika pernikahan kami di gedung pertemuan. Entah ballroom gedung mana yang mampu menampung seribu orang dalam waktu semalam. Aku tak sanggup membayangkan.
__ADS_1