
Leon terlihat sangat sibuk hari ini, bahkan ia tak bertegur sapa dengan Eris -seringnya begitu- seperti asing dan tak terlihat di kantor, sama seperti hubungan dengan staff lain. Menyapa sebutuhnya saja. Atau saat sudah sepi baru lah mereka berbicara panjang seperti saat di klub atau apartemen Eris.
Tapi kali ini, Leon terlihat mencuri waktu. Memanggil Eris keruangannya, karna setumpuk pekerjaan yang membuatnya ingin meledak. Ia butuh wanita itu sekarang.
Tok tok
Eris mengintip dibalik pintu yang sedikit terbuka, disambut senyum Leon yang selalu menyebalkan. Leon mengangguk, meminta Eris segera masuk keruangannya.
"ada apa, pak? " Eris berdiri dan menggunakan kata formal membuat Leon tertawa karna ekspresi datar yang Eris perlihatkan.
"Gapapa,sayang. Temenin ya, pusing banget kerjaan" Leon kembali mengalihkan pandangannya pada komputer dan tumpukan kertas di meja nya.
"duduk, ngapain diri aja?" Eris tersentak saat Leon kembali melihatnya yang terlihat bosan berdiri.
"atau kamu mau duduk disini? " Leon menepuk paha nya sambil tertawa usil pada Eris yang mengangkat sebelah alis nya.
"Engga, makasih. Kita masih di kantor"
"Udah sepi kali. Paling dibawah cuma ada kath sama Samuel. Leon berdiri, mengambil file yang tersusun rapi di lemari lalu menarik Eris duduk di pangkuannya.
"eh, tapi. Yon" Eris berusaha lepas dan menyingkir tapi sebelah tangan Leon yang kuat menahannya.
Leon masih tetap berkutat dengan berkas berkas juga dengan Eris yang di gendongnya. Sesekali ia menenggelamkan wajah di leher atau dada Eris, sesekali juga mengecup bibir wanita itu
"Gue keringetan. Berat juga, udah awas lepas" Eris masih berusaha melepas Leon tapi sama sekali tak di gubris bahkan di dengar oleh Leon.
"Ok selsai." Leon akhirnya melepas Eris dari gendongannya lalu menarik Eris ke meja yang sedikit luas. Mendudukkannya disana, menuntut tangan wanita itu agar memeluknya.
Bagi nya, Eris adalah mood. Apalagi menciumnya, bercinta dengan Eris bisa menambah power Leon lebih ngebut.
Jadi, ia selalu butuh wanita itu. Terutama untuk kebutuhan biologis nya. Jahat? Memang, tapi mereka sudah sama sama janji untuk tidak melibatkan perasaan. Yang akhirnya membuat hubungan mereka berjalan tanpa status jelas dan seringnya hanya seputar kontak fisik saja tanpa membuat komitmen.
Leon mendekatkan wajah nya pada Eris. Seperti biasa, menagih ciuman pada wanita nya.
Eris pun sudah faham, ia memejamkan mata. Merasakan ciuman Leon yang tiap harinya selalu mempunyai kesan berbeda. Panas, manis, kasar dan semua kombinasi sempurna lainnya.
Krek
Saat Eris balas mencium Leon sambil mulai menyentuh tubuh sama seperti yang Leon lakukan. Pintu terbuka, menampilkan seseorang yang tak kalah kaget lalu segera masuk dan menutup pintu.
Leon menatap dingin pada Samuel yang bergantian melihat kearahnya dan Eris.
"ck. Ngapain sih lo? Ganggu aja" Leon bicara sinis sambil me lap bibir Eris.
"lupa, gue mau ngapain ya tadi?"
Samuel balik bertanya yang langsung di hadiahi tatapan dingin Leon, sedangkan Eris? hanya diam sambil menyembunyikan muka merah nya dengan melihat kearah lain selain kearah Samuel berdiri.
"Keluar! " satu kali Leon peringatkan, tapi laki - laki itu malah masih diam ditempatnya sambil sesekali mengalihkan pandangan pada kemeja Eris.
Leon yang menyadari tatapan Samuel langsung menyuruh Eris merapikan kemeja dan kancingnya.
__ADS_1
"Keluar! Denger ga sih lo" suara Leon naik satu oktaf yang langsung membuat Samuel sedikit berlari keluar.
"Ok, gue keluar. Jangan lupa kunci pintu." Samuel sedikit berteriak lalu tertawa diluar sana.
"ah sial, kalo Sam nyangka yang engga engga gimana? " Eris berjalan didepan Leon lalu duduk di sofa sambil membetulkan kancing kemejanya.
"gue bilang juga apa? Ini masih dikantor, kenapa gatau tempat sih?"
Eris menutup mata dengan tangannya, merutuki Leon karna laki laki itu selalu tak bisa menahan keinginannya.
"Ya, maaf. Kamu kan tau sendiri aku-"
"hyper! " Eris memotong ucapan Leon sambil melihat sebal Leon yang malah tersenyum manis pada Eris.
"Kamu juga hyper kalo di ranjang" Leon tak mau kalah yang jawabannya langsung membuat Eris melotot lalu melempar bantal sofa kearah Leon.
"Bodoamat, gue mau balik" Eris segera beranjak meninggalkan ruangan Leon, tapi sebelumnya menyembulkan dulu wajahnya keluar, mencari apa Sam masih ada atau sudah pulang.
Eris keluar ruang dan hampir saja terjengkang saat Sam masih berdiri diujung tangga bawah sambil menekan dahinya dengan jari telunjuk.
"astaga! Lo ngapain sih,Sam?" Eris mengelus dada sambil menahan suaranya agar tak terlalu keras karna lampu ruangan Ms. Kath masih menyala, menandakan orang itu masih belum pulang.
"Nge satpamin lo sama Leon"
Eris mengerutkan alis lalu menutup muka nya menahan malu, buru buru ia melangkah -sedikit berlari ke arah meja nya, disusul dengan Leon yang keluar ruangan sambil membetulkan baju dan dasi nya.
Samuel mengusap tengkuk lalu membalikkan badan dan hampir saja terjatuh saat Leon menarik nya.
"Jangan bilang siapa siapa. Soal, tadi"
Baru saja Leon melangkahkan kaki, kali ini Samuel yang menahannya karna semua pertanyaan dalam kepalanya berdemo untuk segera diutarakan.
"lo sama Eris pacaran ya? "
Pertanyaan Samuel sontak membuat Leon sedikit tertawa dan menggeleng.
"pacaran? Hahahahaha"
Samuel mengangguk lalu meluruskan pertanyaannya. Ia yakin Leon belum bisa melupakan mantan yang sudah membuatnya hampir gila.
"ONS?"
Leon langsung menggeleng dan memukul kepala Marsel karna pertanyaan absurd nya.
"matalo ONS, gue ga sebajingan lo" Leon tersenyum yang sontak membuat Samuel tambah melotot.
"serius lo senyum? ***** gue kira urat senyum lo udah putus karna del-" Sam tambah dibuat geram karna Leon yang langsung pergi tanpa menunggunya selsai bicara.
"Leon! Sialan gue belom kelar nanya ini,woy"
\*\*\*
__ADS_1
Sepanjang jalan pulang, Eris hanya diam sambil melihat layar ponsel nya. Beberapa kali Leon melihatnya mengusap mata, mengalihkan pandangan keluar jendela walaupun Leon mengajaknya berbicara.
Leon menghentikan mobil. Sedikit berlari mengejar Eris yang buru buru keluar, bahkan ketika ia harus menaiki tangga untuk mengejar Eris yang dengan cepat menghilang di dalam lift.
"sayang, kenapa? "
Brak
Pintu kamar Eris tertutup keras, membuat Leon terpejam dan menahan kepalan tangannya untuk mengetuk.
"Ca,ada apa?"
Leon lebih lembut sambil menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar grasak grusuk Eris didalam sana.
"Lo balik aja gue lagi pengen sendiri"
"Tapi-"
"please... "
Suara Eris terdengar serak dibarengi sedikit isakan. Yang akhirnya membuat Leon mengalah untuk pergi.
Eris kembali membuka ponsel nya, melihat rentetan capture pesan dari no tak dikenal
Unknown.id
To : me
Kasian banget cuma dijadiin temen enak 😂
Unknown.id
To : me
Leon sendiri loh yang bilang wkwk gue sih malu
Unknown.id
To : me
Nuker badan sama jabatan hahaha gaada harga dirinya
Unknown.id
To : me
Bentar lagi juga dibuang. LOL
Unknown.id
__ADS_1
To : me
Sent you a picture