Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
troubled


__ADS_3

"Gue ke depan bentar."


Jimmy hanya mengerutkan alis lalu mengangguk dan melanjutkan kocokan kartu mereka.


Sesekali terdengar tawa dibangku berisikan 5 orang dengan wanita - wanita pendamping disebelah nya, juga beberapa guardian yang berdiri mengelilingi mereka.


Dikursi sebrang yang tak cukup jauh dari gerombolan bangku Jimmy, 6 orang dengan masing masing pasangan tak kalah ramai dengan tawa yang selalu pecah.


Perhatian Leon terfokus pada satu wanita yang juga ikut tertawa,seperti tanpa beban, dengan laki - laki yang sedari tadi terlihat merangkulnya,seakan tak membiarkan wanita itu jauh satu senti pun.


Rasa marah bercampur kesalnya semakin meningkat saat langkahnya sudah semakin mendekati meja itu.


"Eris."


Leon berdiri tepat didepan Eris. Membuat semua orang mendongak tak terkecuali Kevin yang melihatnya dengan sebelah alis terangkat dan Eris yang terkejut karna kedatangan tiba - tiba Leon.


"Ayo pulang."


"apa apaan nih? lo siapa? gausah tarik - tarik dia." Cegah Kevin saat Leon menarik Eris.


"Vin." Eris menggeleng, lalu melepas cekalan Kevin yang menahannya.


Leon menatap dingin Kevin yang tak kalah tengil nya. Lalu segera menarik Eris keluar dengan cepat. Mendorongnya sedikit membentur body luar mobil saat mereka sudah berada di parkiran dalb.


"Oh,jadi gini kelakuan nyonya wyllie. Seharian gaada kabar dan dengan tenangnya masuk dalb, dirangkul cowo." Ucapan Leon terdengar dingin dan menusuk. Walaupun dengan suara yang masih dikatakan rendah.


Eris mengerjap. Mengigit bibir bawahnya dan berusaha membasahi bibirnya yang terasa kering.


"Gue jelasin dirumah," cicit Eris dengan suara yang kecil.


Eris menyentuh tangan Leon yang bahkan belum sempat tersentuh, laki - laki itu sudah memutar dan masuk kedalam mobil. Membanting pintu nya membuat wanita itu memejamkan mata dan menghela nafas, lalu segera menyusul masuk.


Perjalanan dalb menuju rumah mereka terasa begitu jauh - dan lebih dingin. Ditambah dengan atmosfer tak baik yang dibuat laki - laki disebelahnya.


Leon sama sekali tak membuka bibirnya bahkan setelah Pak Mar membuka gerbang dan mobil Leon berhenti di basement. Laki - laki itu diam sebentar di dalam mobil, begitupun Eris yang tak berani membuka mulut atau membuka pintu mobil duluan.

__ADS_1


"Gue bener bener marah sekarang. Lo utang banyak penjelasan." ujar Leon dengan nada yang berkali lipat dinginnya dengan saat laki - laki itu bicara pada Rey atau Kevin tadi.


Baru saja Eris membuka mulut. Leon beranjak, membuka pintu mobil dan kembali menutupnya dengan kasar. Lalu berjalan lurus, segera masuk dan berhenti di salah satu tiang yang berada tak jauh dari salah kamar.


Eris segera menyusul Leon. Bibirnya semakin terasa kering saat semakin dekat kearah Leon yang sudah bersandar di tiang yang terlihat mengalihkan pandangan kemanapun asal tak melihat wanita yang sudah ada dihadapannya.


"Yon, lo salah faham" -lagi batin Eris setelah memulai penjelasannya.


"Dia -dia kevin"


"salah satu dari cowo selingan lo? Rey gacukup?" Sela Leon dengan nada dingin yang membuat Eris mengerjap.


"kenapa sih? lo udah punya gue! suami lo. Kemarin Rey, sekarang cowo tadi, nanti siapa lagi? Hidup lo ga cukup sama satu cowo,ya." Ucap Leon sarkas.


"Gagitu! Dengerin dulu penjelasan gue-"


"Gue jadi gak yakin anak yang ada dalem perut lo itu anak gue. Secara,lo open ke semua cowo yang deketin lo, lo respon mereka, lo-"


plak


Umpatan kembali dilontarkan Eris saat menyadari ponsel nya tertinggal di apartement Kevin dan rumah yang ditempati nya berada dipaling ujung, tak ada satupun kendaraan umum yang melintas.


Sorot lampu yang menyilaukan membuat Eris menghalangi wajah nya dengan tangan. Seorang laki - laki terlihat keluar lalu menariknya masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan Eris yang terkejut dan tak bergeming.


"kevin?"


"kamu gapapa,kan? udah jangan nangis." Kevin memeluk Eris, lalu membawanya masuk kedalam mobil. Tak lama, laki - laki itu kembali membuka kunci mobilnya dan bersiap keluar, membuat Eris sontak menahan lengannya karna tau tujuan Kevin yang terlihat siap mengamuk.


"kamu nangis gini gara - gara dia,pasti. Biar aku kasih pelajaran!" ujar Kevin dengan suara tinggi dan menepis pelan tangan Eris.


"Vin,udah. Gapapa."


Dengan helaan nafas berat, Kevin terlihat mengalah. Lalu mengangguk dan menancap pedal gas agar segera pergi dari tempat itu.


Atmosfer dingin didalam mobil terasa. Selain karna AC yang menyala, juga karna kedua orang yang menaiki nya. Kevin berusaha fokus pada kemudi nya, sesekali lengannya mengepal melihat punggung Eris dari samping yang hampir membelakanginya.

__ADS_1


Eris pun hanya diam tanpa sedikitpun suara atau gerakan. Pandangannya menerawang ke luar jendela. Tangisnya ia tahan sebisa mungkin walaupun air matanya luruh perlahan, bersamaan dengan hujan yang membasahasi kaca mobil.


Hingga mobil Kevin masuk kedalam kawasan Pasific Place. Membuat wanita itu memejamkan mata,sedikit lega karna setidaknya ia bisa mempunyai ruang sendiri tanpa siapapun didekatnya.


"Kamu mandi dulu." Titah Kevin setelah mobilnya terparkir sempurna didalam basement.


Eris tersenyum kecil. Lalu mengangguk, segera keluar mobil setelah Kevin juga membuka pintu mobilnya.


Tangan Kevin setia merangkul bahu Eris sampai mereka sampai didepan ruang apartement Kevin.


"Abis mandi turun kesini,ya. Aku masakin iga kesukaan kamu." Kevin mendorong Eris segera naik ke lantai atas untuk segera membersihkan diri.


"Tapi- aku gabawa baju."


"Lupa. Aku beliin kamu baju,tas sama sepatu. Sekalian coba,gih. Abis naik tangga kamu belok dikit ke kanan, nanti ada satu kamar." Kevin menepuk dahinya, lalu menarik Eris segera naik ke lantai atas.


Tumpukan dus berbagai ukuran ada didalam ruang tersebut. Kevin menarik Eris kedepan sebuah lemari, yang didalam nya sudah terisi beberapa pakaian wanita yang berjejer rapi ditempat gantung.


"Khusus buat kamu." ujar Kevin sambil merangkul Eris yang mengerjap.


"Ish beneran dibawain buah tangan. Makasih, Kekep." Eris tertawa sambil memeluk laki - laki yang ada disebelahnya.


"Makasih nya gitu?"


"eh,terus?" Eris yang sudah memegang sebuah baju dan mengambilnya, langsung membalikkan badan mendengar penuturan Kevin.


Kevin merentangkan lengannya. Tersenyum usil pada Eris yang menaikkan sebelah alis,lalu tertawa dan menubruk tubuh Kevin, menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki - laki itu.


"kamu nangis?" ucap Kevin saat merasakan punggung wanita itu sedikit bergetar.


"Hei,what happen?" //apa yang terjadi?//


Lanjut Kevin melepas pelukan dan menangkup wajah Eris yang langsung di palingkan wanita itu


Tangis Eris semakin pecah saat Kevin kembali memeluknya. Mengusap rambut, lalu punggungnya dengan lembut.

__ADS_1


"Yaudah,kamu nangis dulu aja. Nanti baru cerita,ya."


__ADS_2