
satu jam lebih Eris menenangkan diri di kamar mandi, ia keluar sambil memegang perutnya yang sudah mulai lapar.
pandangannya tertuju pada nampan berisi nasi dengan daging iga diatasnya, wangi makanan pun semakin tercium saat Eris mendekat kearah meja.
"woaa my fav." Setelah menandaskan makanan yang ada di depannya, dia menyambar minum lalu beranjak ke sofa luar.
Eris segera duduk merasakan udara dingin puncak dengan bau khas yang menenangkan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, tapi cuaca masih sejuk.
Wanita itu terlihat memandang kearah langit yang sedikit mendung. Senyum kecil tercetak dari bibir mungilnya, mengingat Leon yang berjuang membelanya sejauh ini.
Leon serius sama lo bodoh, tunggu aja dulu, sabar!
tapi...
masalalu dia belom selsai, dan gue gamau kaya gini terus. gue gamau cuma jadi temen tidurnya.
Saat hati dan fikirannya mulai berdebat sebuah getaran ponsel berhasil membuyarkan kehaluannya, membuat Eris mencari sumber suara lalu mengerutkan alis melihat rentetan pemberitahuan dan sebuah chat yang tak sengaja terbuka olehnya.
Baru saja ia akan menekan back, sebuah pesan berhasil membuatnya mematung. Mengigit bibirnya dan berusaha menahan matanya yang memanas sampai seseorang datang, membuat Eris langsung menyelipkan kembali ponselnya ke pinggiran sofa
" what's problem?" //ada masalah apa//
Della duduk disamping Eris, memegang tangan sahabatnya yang terlihat gusar.
"nope" //engga//
"hm ok. ohiya lo mau ngomong apa?"
Eris melirik Della sebentar lalu kembali melihat kearah depan.
"Lo masih suka sama dia? "
Kata kata Eris yang to the point berhasil membuat Della tersedak padahal dia tidak sedang makan atau minum sesuatu.
__ADS_1
"uhuk, hm. hahaha, maksud lo siapa? "
"Leon. "
Della membuang arah pandangan saat Eris melihat intens ke manik matanya.
"Dell, kalo lo bilang dari awal tau kedekatan gue sama dia, gue bakal mundur. Lo gaperlu pake cara kaya gini. " Eris mengambil ponsel dan segera menyimpan di kantung celananya.
Beranjak dari sofa lalu bersandar di pinggiran balkon, tersenyum pada Della yang terlihat canggung dan pura pura bingung.
"lo ngomong apa sih? "
Eris mengeluarkan ponsel yang ada dalam genggamannya dalam kantung. menunjukkan chat yang berhasil membuat Della langsung gelagapan.
"lo! dapet hp gue darimana, ha? " Della sedikit berteriak, langsung mengambil ponselnya dan melotot tak percaya pada Eris yang masih terlihat tenang.
"lo masih sepicik dulu ternyata. "
"pertama lo bikin orang tua gue cerai!-"
"maksud lo?" Eris memotong perkataan Della yang bercabang, harusnya yang marah itu dia karna Della menganggunya tapi sekarang malah jadi boomerang, apalagi yang dibahas adalah hal sensitif untuk Eris, keluarga.
"papa gue cerain mama tuh karna apa,hah?! karna nyokap lo kecentilan! oh, lo gatau kalo mama lo pacaran sama bokap gue kan? pantes lo cari perhatian karna nyokap lo-"
plak
wajah Eris memerah, matanya sudah berair, tangannya pun dengan bebas menampar wanita didepannya.
"itu urusan orangtua kita. dan kita gapernah berhak ikut campur masalah mereka!" Eris berteriak membuat Della memegang pipi, tersenyum sarkas dan mengambil satu batang roko di saku celana nya lalu menatap tajam Eris.
"bicc, lo gapantes idup! lo, sama kaya nyokap lo yang rebut milik orang lain. lo gamalu,hah?"
Teriakan dan tawa Della terdengar mengerikan saat ia melempar roko dengan sumbu menyala kearah sahabatnya, membuat Eris sedikit meringis saat api menyentuh permukaan kulitnya walaupun sedikit.
__ADS_1
"harus nya lo berterimakasih karna gue bikin lo sadar lo tuh siapa! lo gapantes ada disisi Leon."
Eris mengigit bibir bawahnya saat Della terus menghantamnya dengan teriakan dan kata kata yang terdengar kasar untuknya.
"Dell-"
"Leon itu cuma tertarik sama badan lo! " Della kembali berteriak kencang, mengambil lagi rokok yang ada di saku celana lalu menyalakannya, menghisapnya dalam sambil berjalan mendekat kearah Eris yang berjalan mundur.
"Della! " Dion yang sedari tadi hanya memperhatikan di ambang pintu akhirnya bergegas lari saat adik nya sudah terlihat hilang kendali.
Dengan cepat Dion menarik dan menahan Della yang memberontak dengan kuat, menyebabkan suara keributan yang membuat semua orang naik, termasuk Leon yang menatap bingung semua orang.
pandangannya tertuju pada Eris yang memegang sebelah tangan kanannya dengan wajah yang sudah pucat dan mata merah karna tangis yang masih ditahannya. Buru - buru Leon berlari kearah Eris,menariknya kedalam pelukan tanpa perduli tatapan kebencian yang diperlihatkan Della.
"lo udah gila? kalo lo stress gausah di lampiasin ke orang." Leon bicara dengan nada tenang namun dingin yang terdengar sangat menusuk.
"Dii, mending lo bawa adik psycho lo keluar. gue gamau calon istri gue jadi korban kegilaan adek lo."
Sekali lagi, nada dingin Leon membuat atmosfer terasa mencekam. Dion menarik adik nya keluar, begitupun Rey dan Siska yang langsung keluar.
"Ris, kalo lo mau nangis, nangis aja. Maafin gue yang datang telat pas lo ada masalah. " Leon memeluk Eris yang menangis didada nya, tangisan yang semakin kencang saat semua perkataan Della, juga teror yang diterimanya kembali berputar membuat kepalanya seakan ingin meledak.
"masuk, yu. sekalian lo ganti baju, gue ambil kotak p3k dulu. "
Leon merangkul Eris masuk,membawa nya duduk di tepian kasur lalu menutup pintu balkon dan tirainya, mengunci pintu kamar kemudian mengambil kotak p3k yang ditempel di dekat lemari.
"merah ya bekasnya? pasti kecil juga sakit, tahan ya gue pakein alkohol biar dingin."
Eris tersenyum, mengacak rambut Leon yang menunduk mengusap luka merah ditangannya.
"Yon, mulai sekarang lo gaperlu cari peneror itu lagi, ya. "
Perkataan Eris berhasil membuat Leon mendongakkan wajahnya,mengangkat sebelah alis dengan kode kenapa.
__ADS_1