Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
Funny


__ADS_3

Elusan di kepalanya membuat Eris mengernyit dengan mata yang masih terpejam. Leon mendekatkan wajahnya,meniup wajah Eris yang langsung membuat wanita itu membuka mata.


Eris meregangkan badannya, sedetik kemudian mengerjapkan mata melihat seseorang yang berada disamping Leon sambil melihat kearahnya dengan senyuman khas. Setelah mengucek mata beberapa kali untuk memastikan, Eris memilihat kearah Leon untuk meminta penjelasan.


"tadi katanya lo mau dipiijit Mak im,kan?"


"lo- beneran jemput Mak im?"


Leon mengangguk, berjalan mendekat kearah Eris yang diekori oleh Mak im dibelakangnya.


"Sorry, tadi gue mau ijin jemput Mak im, lo tidurnya nyenyak banget, jadi gue gue langsung pergi."


"Ko lo bisa tau Mak im yang mana."


Eris menyelidik pada Leon yang mengambilkan minum dan mengupas buah jeruk lalu memberikannya.


"Kenalan dulu."


Mak im tersenyum sambil mengusap kaki Eris yang ada disampingnya.


"Mak iiiim" Eris merentangkan tangan setelah dia memberikan kembali jeruk yang tersisa di tangannya pada Leon.


Dengan tergopoh, Mak im sedikit berjalan, membalas pelukan Eris dan mengusap punggungnya dengan alis tertaut.


"Neng Eis tinggal di jakarta teh jadi gendutan nya. Hahaha" Perkataan yang diselingi tawa Mak im membuat Eris dan Leon saling lihat.


"Hmm hahaha. Ehiya Mak, aku pegel banget nih, aku minta tolong pijitin kaki sama pundak ya Mak"


Mak im mengangguk, mengambil minyak yang ada didalam tas nya lalu menaikkan celana Eris agar dia bisa memijit betisnya.


"Neng Eis, Mak kira neng teh sama bu El, soalna bu el teh pamit mau pindah ke Jakarta ceunah //katanya//."


Eris mengerutkan alis, begitupun Leon yang menguping tak jauh sambil memainkan ponselnya.


"Eris udah lama gatau kabar mama,Mak."


"ulah kitu atuh, bade kumaha oge kan eta teh mama na Neng Eris. // Jangan gitu, mau gimana juga kan itu mama neng Eris// "


Mak im terlihat menurunkan kembali celana Eris, tangannya beralih ke pundak Eris dan mulai memijatnya pelan.


"Mak sekalian pinggang deh,ya. Badan Eris pada pegel banget,hehe."


tok..tok.. tok...


Pintu diketuk beberapa kali, membuat Leon segera beranjak untuk membuka pintu dan mendapati Dr.Zee dengan 2 asisten di belakangnya.


"Permisi, bu Eris diperiksa dulu ya."

__ADS_1


Leon mengangguk, meminggirkan badannya untuk menutup pintu setelah dokter dan kedua asistennya masuk.


Dr.Zee mengerjapkan mata melihat Elis yang tengkurap dan seseorang yang sedang memijit pundaknya.


"Permisi.."


Mak im menghentikkan pijatannya, memicingkan mata karna tak bisa melihat jelas jarak jauh. Sedangkan Eris membalikkan tubuhnya mendegar suara dr.Zee yang sudah berjalan mendekat kearah Eris.


"Bu Eris,masih pendarahannya?"


Eris menggeleng sambil memperhatikan dokter yang cekatan memeriksanya.


"Selama mengandung,hindari memijat bagian pundak dulu,ya. Karna kemungkinan akan memicu kontraksi dini."


Mak im mengerjapkan mata mendengar penjelasan dokter, bergantian memperhatikan dokter dan Eris yang tersenyum canggung kearahnya.


"Mak im istirahat dulu,yu. Leon udah beliin makanan."


Leon menarik pelan Mak im agar duduk sedikit menjauh di kursi, lalu kembali ke dekat Eris. Senyumnya mengembang saat Eris mendongakkan wajah dan tersenyum singkat lalu kembali bertanya pada dr. Zee.


"saya bisa pulang kapan ya,dok?"


"Kita lihat keadaan bu Eris dulu, kalau sudah stabil nanti sore bisa pulang"


tok..tok..tok..


Baru saja Leon melangkah, seseorang dari luar sudah beranjak masuk lebih dulu. Mengerjapkan mata melihat dr.zee yang sama terkejutnya.


"eh Dr,Rey. Dokter gabiasanya keluar ruang, mau jenguk bu Eris?" Dr.Zee tersenyum menebak,melihat kearah Eris lalu mengangguk sopan pada Rey yang ada didepannya.


"Iya. Dr,zee udah selsai?"


"Oh udah,dok. Kalo gitu saya permisi ya semua. Bu Eris jangan lupa diabisin makan sama obatnya."


Dr.Zee keluar, menyisakan Eris, Leon, Rey dan Mak im yang terlihat sudah tertidur di sofa.


Rey mendekat kearah Eris yang langsung Leon susul, membuat Eris mengerutkan alis karna laki - laki itu tiba - tiba duduk disampingnya diatas kasur.


"Rey lo kerja disini?"


"iya. Lo sakit apa?"  Rey tampak menyelidik, apalagi melihat Zee yang notabene nya adalah dokter kandungan berada di ruang kamar yang ditempati Eris.


Eris mengerjapkan mata, melihat kearah Leon yang juga sedang melirik kearahnya.


"Eris sakit-"


"lo dokter apa?"

__ADS_1


Leon menarik badannya kebelakang saat Eris menarik Rey sedikit mendekat, menahan tangannya sambil memicingkan mata untuk membaca nama dan jabatan yang ada di nametag laki - laki itu.


Reyhan Wyllie


Psikiater


Eris mengangguk, mengerutkan alis pada Leon yang memainkan rambutnya. Tersenyum sambil sebelah tangannya memeluk pinggang Eris.


"minggir ih. Turun!"


Laki - laki disampingnya malah semakin terlihat manja, menyandarkan kepalanya di pundak Eris yang terlihat tak nyaman, apalagi karna Rey masih ada di depan mereka.


"Turun atau gue dorong!"


"iya,iya. Belom jadi ibu ibu aja galak banget sih."


Leon memajukan bibirnya sebal, lalu turun dan tetap berada disamping Eris agar laki - laki disebelahnya tak dekat dekat lagi dengan Eris.


"Mau bubur cianjur lagi."


"uhuk" Perkataan Eris yang random berhasil membuat Leon tersedak dan mengerutkan alis kearah Eris.


Astaga kenapa ibu hamil permintaannya ngeselin,ya? Random sekali. Leon memejamkan mata, ia baru saja kembali menjemput Mak im dari bandung, Eris sudah meminta bubur cianjur yang berarti ia harus mempersiapkan tangan dan dirinya meghadapi macetnya Jakarta - puncak.


"Didepan ada ko bubur cianjur, gakalah enak dari bubur yang dipuncak waktu itu." Rey menawarkan bubur yang ada didepan rumah sakit. Walaupun permintaan Eris terdengar aneh karna waktu masih menunjukkan pukul 2 siang tapi Rey bersikap normal dan tidak lagi bertanya untuk memastikan hal yang tak ingin Eris dan Leon jawab.


"Enggak ah. Gue mau ketemu mang Udin."


Leon mengerutkan alis mendengar nama aneh yang diucapkan Eris, sedangkan Rey tertawa menebak nama yang pasti adalah penjual bubur yang tempo hari membuat Eris tertawa lepas.


Ide usil muncul saat Rey melihat muka sebal yang ditunjukkan Leon saat melihat kearahnya, Rey menahan senyumnya lalu mengangguk.


"Mau gue anter,Ris?"


"Engga. Gue aja yang anter" Leon kembali duduk disamping Eris, mengelus puncak rambut yang langsung ditepis oleh wanita disampingnya.


"Gimana,Ris? mau gue anter?" Rey kembali memastikan sambil tertawa namun terlihat serius. Membuat Leon berdecak lalu beranjak menarik Rey keluar dan menutup pintu agar tak terdengar oleh Eris yang sudah tertawa lepas melihat Leon yang menunjukkan wajah sebal sejak Rey datang.


"ck. mau lo apa,sih? Padahal lo dikelilingin banyak cewe, tapi malah mepet cewe yang ada di deket gue terus."


Leon terdengar sarkas, menyandarkan tubuhnya di tembok dekat pintu sambil memejamkan mata.


"Karna lo gapernah bener jagain cewe."


Rey membalas perkataan Leon dengan satu ucapan savage yang membuat laki laki disebelahnya melirik sinis.


"Gue serius sama Eris. 3 hari lagi gue nikah. Bilangin ke papa"

__ADS_1


Leon segera masuk, meninggalkan Rey yang mengerjapkan mata, mencerna apa yang barusan dikatakan adiknya.


Engga, engga. Gamungkin apa yang gue fikirin beneran kejadian. Rey menggelengkan kepalanya, melangkah sambil terus memikirkan perkataan tiba - tiba Leon.


__ADS_2