Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
destination


__ADS_3

Eris melirik Leon yang sedang menggunakan pelampung dengan speedboat yang sudah ada di hadapan mereka.


Tanpa aba - aba, Leon mendekat kearah Eris, memakaikan pelampung pada wanita itu dengan sedikit senyum yang terlihat dipaksakan.


"siap?"


Eris mengangguk, sedetik kemudian Leon


langsung menariknya menuruni tangga dan bersiap menaiki speedboat, membuat Eris mengerjapkan mata dan menarik tangannya dari genggaman Leon.


"Bentar dulu! kita mau kemana sih sebenernya?"


"Secret place."


"gabisa nanti?" Tawar Eris. karna jujur, saat ini ia hanya ingin mengistirahatkan badannya dengan bersantai di villa.


Leon hanya melihat Eris sebentar lalu menggeleng. Segera menaiki speedboat, disusul wanita itu yang akhirnya hanya menghela nafas duduk dibelakang Leon.


20 menit speedboat mereka mengapung diatas permukaan air. Eris melihat bibir pantai dengan banyak pohon tinggi yang menjulang. Sekilas matanya mengerjap beberapa kali.


"our destination? // tujuan kita?//" tanya Eris pada Leon yang hanya dijawab anggukan kepala.


Leon memarkirkan speedboat mereka sembarang dibibir pantai. Lalu turun dengan cepat dan membantu Eris untuk mengikutinya.


"mau jalan - jalan ga?" tawar Leon.


Tanpa menunggu jawaban Eris, Leon melangkah lebih dulu dengan tangan masih menggenggam Eris yang ada dibelakangnya.


Eris susah payah mengikuti langkah panjang Leon. Apalagi laki - laki itu mengajaknya memasuki belantara hutan. Jalan mulai menanjak dan cahaya matahari yang menembus tipis kedalam rindangnya pohon besar disekitar mereka.


"kita mau kemana,Yon?"


"Ikutin aja." Jawab Leon tanpa berbalik melihat Eris yang sudah berkeringat.


Jalan semakin menanjak, Eris melepaskan genggaman Leon lalu menghentikan langkah sambil mengambil posisi sedikit berjongkok.


Nafas nya sudah naik turun, sangat terlihat wanita itu jarang berolahraga.


"duluan aja,sana! gue cape." keluh Eris sambil menormalkan kembali nafasnya.


"Jalan santai gini bagus buat kandungan lo. Apalagi jalan nanjak." Leon mendekat kearah Eris sambil mengusap keringat wanita itu.


"santai apanya?!-"


"Leon! turunin!" Eris bahkan belum menyelsaikan kalimatnya. Tapi Leon menggendongnya di punggung. Membuat Eris berteriak karna kaget.

__ADS_1


"Kalo lo gebuk gue terus, nanti malah jatoh. Mau?" Jawaban Leon membuat Eris langsung bungkam dan akhirnya diam mengikuti laki - laki itu.


Hamparan perkebunan hijau ditengah hutan memaku pandangan Eris yang masih melingkarkan tangannya dipundak Leon. Pencahayaan surya nya sangat alami, dengan tanaman rambat yang meliling gerbang.


Leon menurunkan Eris, membiarkan wanita itu mengagumi tempat indah yang sebenarnya sangat menyesakkan ruang hati.


Wanita itu melepas sandal yang digunakannya, berjalan tanpa alas kaki menuju sebuah air mancur. Leon tersenyum ketir dibelakang Eris, mengingat seasing ini kembali ketempat yang selalu menjadi destinasi wajibnya dulu.


"Ris"


"hm"


Eris duduk didekat sebuah pohon yang cukup membuat mereka terhalang dari teriknya matahari yang mulai beranjak naik. Membuat laki - laki itu mengikutinya dan menyandarkan kepala pada pundak Eris. Memejamkan mata saat angin berhembus pelan melewati mereka.


"masih ada yang neror lo?"


Eris mengerutkan alis, menggeleng,lalu tersenyum singkat menanggapi ucapan Leon.


"Gaada. Tapi, masalah mereka masih nge hate gue itu udah jadi konsekuensi nya,kan? -"


"Saat kita main main, atau ga sengaja kejebak dalam hubungan yang bisa dibilang toxic, kita harus siap sama kemungkinan - kemungkinan buruknya. Termasuk hate komen yang harus kita terima." Jawab Eris memperjelas ucapan sebelumnya.


Leon tersenyum, lalu mengangguk. Membiarkan wanita itu melanjutkan perkataan yang sepertinya belum selsai.


"kenapa?" Tanya Eris melirik Leon yang masih memejamkan mata dengan senyum mengembang.


"Ris." Laki - laki itu tampak ragu membuka mulutnya, menjelaskan masalah hal yang cukup mengganjal di hatinya -mungkin dihati wanita itu juga.


"kalo tiba - tiba lo tau soal masalalu gue, soal keluarga gue, lo bakal ninggalin gue?"


Eris mengerjap pelan, melihat kearah Leon yang terlihat rentan.


"kenapa gue harus ninggalin lo?"


"Gue gamau nyakitin lo-"


"Ris, lo terpaksa ga sih nikah sama gue?" Lanjut Leon yang membuat Eris sekali lagi mengerjapkan matanya. Mengerutkan alis kearah Leon yang tampak menerawang kearah air mancur dengan tatapan yang terlihat rindu dan sendu.


"Maksud gue, kalo bukan karna kecelakaan yang disengaja atau bisa dibilang kecelakaan toxic relationship. Lo-" Leon menggantungkan kalimatnya. Tak bergeming meskipun Eris menyentuh tangannya.


"Leon, gue tau lo lagi rentan sekarang. Stop overthinking karna itu bakal ancurin diri lo sendiri."


Wanita itu perlahan beringsut, merebahkan kepala di bahu lebar Leon. Senyumnya sedikit tertahan saat tak mendapat respon dari laki - laki yang ada disebelahnya.


Hingga angin yang berhembus menyentuh pipi dan kulitnya membuat Eris memejamkan mata. Menikmati sentuhan angin musim panas bersama seseorang yang tiba - tiba sok dingin disebelahnya.

__ADS_1


Eris sama sekali tak tau apa yang membuat Leon terlihat tak menyukai Maldives. Terlepas dari tempat ini berkaitan dengan masalalu nya atau bukan, tempat ini fantastis -terutama tempat yang dipijaknya saat ini.


Lama saling diam. Eris masih memejamkan mata disamping Leon yang akhirnya menghela nafas.


"hubby" Tangan Leon mengelus pipi Eris, lalu beralih mencubit hidung wanita itu yang membuat Eris langsung terperanjat dan berusaha melepas tangan Leon yang piawai mengusap dan mencubit pipinya.


"mau bernang?"


"dilaut? kita harus turun lagi berarti?"


Leon menggeleng. Membuka baju nya lalu menarik Eris kearah air mancur.


"Ehiya,lupa." ujar laki - laki itu sambil membuka kancing baju Eris yang lansung didorongnya.


"Bentar - bentar. Kita bernang disini?"


Sekali lagi, Leon hanya mengangguk. Lanjut membuka kancing wanita itu yang langsung dihindari Eris.


"Diem,gue bantu bukain kalo lo gamau."


"tapi,gue gabawa baju ganti." Jawab Eris menghindar.


"Buka baju lo. Gabakal ada orang yang berani masuk sini tanpa izin gue." Ujar Leon dengan senyum yang membuat Eris semakin menghindar.


"Buka? maksud lo?"


"lo pake bikini kan? buka aja."


Pertanyaan terakhir Leon membuat Eris melotot, lalu akhirnya mengalah. Menanggalkan pakaiannya, hanya menyisakan bikini hitam yang menutupi daerah terlarang wanita itu. Lebih tepatnya, daerah favorite Leon.


Eris mengerutkan alis melihat Leon yang senyum - senyum kearahnya. Sebisa mungkin wanita itu tetap waspada, apalagi Leon sudah berada di dalam air.


Dengan satu tarikan, Leon berhasil membawa Eris yang waspada masuk kedalam air. Membuat cipratan air keluar, lainnya mengenai wajah wanita itu yang membuatnya sedikit tersedak karna kemasukan air kedalam hidungnya.


"uhuk..ukh.."


"hubby, Maaf tadi kebawa semangat. Sini gue liat." Nada Leon terdengar khawatir. padahal cuma kemasukan air kedalem hidung, fikir Eris tersenyum dan menggeleng pada Leon.


Sejenak pandangan Leon beralih pada leher jenjang wanita itu, licin dan basah fikir Leon dengan senyum yang mengembang. Lantas beranjak mendekati Eris, menarik wanitanya kedalam pelukan.


Entah sejak kapan Leon menautkan bibirnya pada Eris, turun kerahang dan terus mengecupnya, seakan Eris adalah makanan yang harus segera dihabiskan.


Bersamaan dengan itu, seseorang tersenyum jauh dibalik pohon besar, tak terlihat. Ia hanya ingin memastikan wanita itu baik - baik saja.


Setidaknya, melihat Eris bahagia saat ini lebih cukup, walaupun sebentar lagi pasutri itu akan kembali ke tanah air.

__ADS_1


"Bob,gue minta lo segera beresin gosip murahan itu sebelum mereka balik. Jangan sampe Eris denger, report semua akun yang hate komen dia di sosmed." ujar laki - laki itu sambil berbalik menjauh.


__ADS_2