
Della duduk di sofa dengan mata terpejam, menunggu Eris yang masih berganti baju dikamarnya.
Aroma maskulin Leon yang masih menempel di sofa yang ia duduki membuat Della sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, memeluk dirinya sendiri sambil mengingat kembali satu persatu kenangannya dengan Leon.
Dia fikir, dengan memilih Rey menjadi tunangannya akan merubah sikap dingin laki laki itu agar menunjukkan sikap lebih serius dengannya. Tapi Leon, justru malah memilih wanita lain yang sialnya adalah sahabat kecil Della.
"Dell.. "
Suara Eris yang sedikit serak membuyarkan hayalannya. Eris duduk di single sofa depan Della dengan wajah muram dan mata sembab.
"ada masalah apa,Ris? kalian berantem?"
Eris menarik nafas dengan sedikit memaksakan senyum.
"bukan itu Dell."
"terus? "
"Lo tau soal skandal gue sama Leon? "
Della menyimak dengan serius, menggeleng pelan dan sedikit mencondongkan tubuhnya menepuk - nepuk lengan Eris agar wanita itu lebih tenang.
"kalo mau nangis, nangis dulu aja Ris. Baru cerita. Tenangin diri dulu, ok. "
Air mata Eris yang semula tertahan kini keluar dengan bebas membuat Della berpindah ke pegangan sofa yang ditempati Eris. Membawa Eris kedalam pelukan dan mengusap kepalanya.
"gue keluar dari andromade, Del"
"loh? kenapa?"
"papa Leon tau soal skandal ini."
"pak Ardi? " Della mengerutkan alis dan memastikan ia tak salah dengar yang dijawab anggukan oleh Eris.
"Lo.. dipecat? "
Eris menggeleng, melepas rangkulan Della untuk mengambil tissu di kamar, meninggalkannya yang masih terkejut karna ucapan Eris.
Ponsel Eris yang diletakkan sembarang di sofa bergetar, membuat Della refleks mengambilnya dan mengerutkan alis saat melihat no tanpa nama, membaca kembali no yang tertera lalu melotot menyadari siapa penelfon itu.
"Dion ngapain telfon Eris." Della berbisik pada dirinya sendiri, hampir menjatuhkan ponsel Eris karna suara yang sudah ada dibelakangnya.
"ada yang telfon? "
"e-eh, iya, tapi no nya tanpa nama" Della mengangguk memberi ponselnya kembali pada Eris yang membuat Eris menarik nafas.
"lo mau liat teror yang gue dapet selama ini? "
Setelah mengetikkan beberapa kalimat di layar ponselnya, Eris memberikan pada Della menyuruhnya membaca pesan dan screenshot chat dari unknown.
__ADS_1
"Astaga. Ada ya manusia yang keyboard warrior gini" //Keyboard warrior \= meluapkan emosi, cacian atau kata kata kotor melalui tulisan//
Della mengerutkan alis, membaca satu persatu pesan lalu mengalihkan pandangannya pada Eris yang sedang menekan dahi di sofa sebrangnya.
"wait.. bukannya lo sama Leon pacaran?"
"engga. " Eris menggeleng, melihat kearah Della yang penuh tanda tanya.
dreett..drettt
Kedua wanita itu kompak melihat dari jauh ponsel Eris yang menunjukkan incoming call dari Leon, Della mengalihkan pandangannya pada Eris yang hanya melihat ponselnya tanpa minat.
"ga lo angkat,Ris? Leon"
"lo mau soju ga?" Eris beranjak, mengalihkan pembicaraan dengan Della yang menaikkan sebelah alisnya.
"jawab dulu telfonnya. tuh, nelfon lagi dia. "
Della menunjuk ponsel Eris dengan dagunya yang tak juga direspon oleh Eris. Wanita itu hanya mengedikkan bahu lalu berbalik ke pantry dapur untuk mengambil soju yang tersisa.
setelah memastikan Eris sudah tak terlihat, Della mengambil ponsel Eris. Melihat foto foto yang terdapat di galerinya.
Beberapa screenshot quotes, tempat lalu folder yang disimpan dengan nama bastard.
Pandangan Della terkunci melihat swafoto Leon merangkul Eris yang terlihat sama sama polos dengan hanya tertutup selimut, lalu Leon yang berfoto sendiri dengan latar Eris dibelakangnya yang masih tertidur.
Air mata Della tertahan, tersenyum getir melihat Leon yang tampak bahagia mencium pipi Eris.
Mendengar langkah kaki, buru buru Della mengerjapkan mata nya dan menyimpan kembali ponsel Eris ketempatnya. Memaksakan senyum pada Eris yang terlihat sudah cukup segar sambil membawa 2 loki dan 1 botol soju juga 1 botol vodka.
"mau minum? "
Della mengangguk menjawab tawaran Eris. Setelah meregangkan badan, ia mencondongkan badan dan mengangkat tangannya meminta loki yang dibawa Eris.
Keduanya sama sama larut dalam fikiran masing masing setelah memilih untuk meminum vodka.
Della mengeluarkan satu batang rokok disaku belakang dalam jaketnya. Menyandarkan tubuhnya lalu melihat kearah Eris, meminta izin menyalakan rokok yang hanya dijawab anggukan oleh Eris.
"lo udah ambil jalan yang paling bener ko, Ris. Tinggalin Leon. Gue gamau lo diancurin juga sama dia, dia tau lo temen deket gue jadi dia deketin lo dengan maksud mau bikin gue panas juga. "
Della sedikit tertawa ditengah isapan rokoknya. melanjutkan perkataan yang membuat Eris mematung.
"dia cuma mau manfaatin lo buat deket lagi sama gue, bukti nya dia gabisa kasih kepastian kan? gue tau Leon bohong soal hubungan kalian. Ris, jangan mau dijadiin fwb apalagi sama cowo yang gabisa pastiin arah hubungannya. "
Della berdiri, tersenyum singkat pada Eris lalu berbalik, memutuskan untuk pulang meninggalkan Eris yang masih mematung. .
sebelum masuk lift Della memejamkan mata, menarik nafasnya dan mengusap kasar air mata yang sudah jatuh.
__ADS_1
"bicc" sebuah umpatan lolos dari bibir Della, tangannya sedikit terkepal. Ingatannya kembali pada Leon yang dulu selalu bangun disampingnya, menemaninya kemanapun dan senyum yang tak pernah lepas dari wajah dingin Leon.
Della sangat merindukan sentuhan laki laki itu, amarahnya saat Della yang pulang telat ke apart mereka saat di Eropa ataupun sikap Leon yang selalu manja.
Kini, dia harus menerima kenyataan bahwa Leon tidur dengan sahabatnya. Della sangat menantikan saat ia bisa kembali bertemu dengan Leon, menjelaskan alasan kenapa dia meninggalkan laki - laki itu dulu dan kembali memulai walaupun harus susah payah mendekati Rey untuk menarik perhatian Leon agar kembali melihatnya.
pintu lift terbuka, buru buru Della menghapus air mata dan masuk kedalam lift yang kosong. Kembali berhayal tentang kisah nya yang sulit dan melupakan tujuannya untuk menenangkan Eris.
***
05.00 AM
Eris belum juga beranjak di sofa. Entah sudah berapa belas kali Leon menelfonnya tapi wanita itu sama sekali tak berminat untuk mengangkat atau menyentuh ponselnya.
Perkataan Della yang terus berputar di kepala dan telinga Eris. membuat Eris tersenyum sinis ditengah tangisan sunyinya memikirkan semua masalah yang datang karna kesalahan satu malam tentang hubungan yang tak pernah ia kira sebelumnya akan berlanjut.
Setelah memejamkan mata dan menarik nafas, Eris mencondongkan badannya mengambil ponsel dan melihat panggilan terakhir.
missed voice call
+628xxxxxxx12
Teringat sesuatu, Eris melangkahkan kaki kedalam kamarnya. Mengambil handuk dan segera membersihkan diri.
fikirannya belum jernih, apalagi ia tak bisa tidur semalaman, ditambah dengan seseorang yang sudah duduk di sofa nya dengan kemeja rapi dan mengerutkan alis melihat meja ruang yang berantakan.
"lo minum? sama siapa? "
"mau kemana? "
Leon memberondong Eris dengan pertanyaan yang bahkan belum dijawab oleh Eris. Melihat Eris yang sudah rapi pagi - pagi, Leon mendekat, menaikkan alisnya melihat lingkar hitam dibawah mata wanita itu.
"Ris? "
"lo gaperlu temuin gue lagi." Eris menepis tangan Leon yang hendak menyentuhnya, berjalan mundur untuk segera mengatur jarak aman agar tak kembali masuk kedalam pesona Leon.
"Della ngomong apa sama lo? Ris, kita baru aja baikan. please... jangan percaya sama stranger -"
" dia bukan orang asing!"
"maksud gue, lo jangan percaya lagi sama omongan orang yang belom tentu lo tau kebenarannya."
"kebenaran? cukup,Yon. Gue udah muak sama semuanya, gue udah gamau jadi batu loncatan lo. "
Leon melihat lurus ke mata Eris yang terlihat sangat serius kali ini.
"Della ngomong gitu? Lo tau kan gue sayang sama lo. Cuma trauma masa lalu gue yang bikin gue susah buat mulai hubungan lagi." dengan nada putus asa Leon menunduk.
Eris melirik sekilas kearah Leon yang masih menunduk didepannya sampai ponsel Leon memecah kesunyian, menampilkan panggilan masuk dari Dion.
__ADS_1