Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
go back


__ADS_3

Laki - laki itu sama sekali tak berbicara saat mereka pulang dari hutan. Hanya menyuruh Eris segera tidur lalu langsung pergi keluar, menambah perasaan tak enak pada wanita itu. Apalagi Rey mungkin masih berkeliaran disekitar pulau.


Eris mondar mandir didalam kamarnya sampai getaran ponsel diatas nakas mengalihkan fokusnya.


Leon?


Buru - buru Eris menghampiri ponselnya, membuka notifikasi yang menunjukkan pesan dari no tak dikenal.


08123*****


udah sampe villa,ris?


08123*****


istirahat ya. Maaf tadi gue ganggu lo sama Leon.


Eris mengerutkan alis, menyadari pesan dari Rey, ia langsung menekan tombol panggil dan menunggu laki - laki itu menerima telfonnya.


4x lebih Eris menelfon Leon dan Rey bergantian tapi no mereka kompak tak bisa dihubungi. Membuatnya semakin merasa tak enak.


Leon,please.. angkat telfonnya. Batin Eris sambil menggigit kuku kukunya.


Sesekali pandangannya melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lalu pandangan Eris beralih cepat dari ponsel saat pintu kamar terbuka. Menampilkan Leon yang hanya meliriknya lalu berjalan melewati Eris menuju kamar mandi.


"Yon,mau mandi? gue masuk ya. Gue siapin air anget nya." ujar Eris mengetuk pintu sambil sedikit berteriak tapi tak mendapatkan respon dari Leon, malah suara kran air yang sengaja dibesarkan.


Eris menghela nafas, salah nya tak menghindar saat Rey memeluknya. Tapi bukan salah gue juga. Gue takut gelap, dihutan sendirian, headlamp jatoh, gue kan lagi parno mana gue tau itu Rey. Fikir Eris sambil menekan dahinya dengan telunjuk dan memejamkan mata.


Pintu terbuka, Leon langsung menarik Eris masuk dan sedikit membenturkannya ketembok. Eris mengerjap, menundukkan kepala saat tak sengaja melihat kilatan marah dimata laki - laki itu.


"Yon,gue,um-"


Baru saja Eris membuka mulut, Leon menarik dagunya keatas, membungkam bibir Eris dengan bibirnya. ******* bibir wanita itu dengan kasar sampai bau darah tercium.


Leon menjauhkan wajahnya, menatap Eris yang meringis dan bibir wanita itu yang terluka. Tangan Leon terangkat mengusap sedikit darah yang keluar dari bibir wanita itu.


"Gue minta maaf. Gue- gue sama sekali gatau kalo itu Rey."


"Gausah dibahas."


"keluar." Lanjut Leon sambil berbalik, membuat Eris sekali lagi mengerjap lalu menahan air matanya dan pergi menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Eris menutup pintu kamar. Berjalan cepat ke halaman belakang dan duduk sambil menutup wajahnya di kursi kecil.

__ADS_1


"Salah gue apasih?! Gue aja gatau itu Rey. Siapa suruh lo kerjain gue ditempat gitu." Umpat Eris pada dirinya sendiri sambil sesenggukkan.


"Nyonya,ini udah hampir tengah malem, angin tengah laut gabaik buat kesehatan." Yuan berdiri diambang pintu yang sama sekali tak dihiraukan Eris.


Hingga suara kaki mendekat, lalu memeluk Eris dari samping, berbisik dengan suara lembutnya.


"Sayang. Maaf, tadi emosi. Balik kamar,yu." Bujuk Leon yang langsung membuat Eris mengangkat wajahnya.


Leon mengusap bibir Eris yang masih terdapat bekas luka. Pandangannya langsung teralih pada Yuan yang masih berada diambang pintu.


"Eh, maaf bos. Lanjut"


Jawab Yuan yang langsung berlari kedalam saat tatapan dingin Leon meliriknya.


"Gue gasengaja bikin lo luka. Maaf,ya. Kita obatin di kamar."


"Gapapa." Eris menahan dirinya agar tetap duduk saat tangan Leon menariknya berdiri.


"Kalo mau main petak umpet bilang dulu. Jangan kaya gitu. Kalo gue nyasar gimana? kalo gue kepleset jatoh ke jurang gimana? " Sindir Eris pada Leon yang main tanpa tau tempat dan situasi.


"Iya, ini salah gue. Gue ngumpet juga gajauh dari lo. Cuma si b*****ek itu aja gatau malu sok jadi pahlawan yang tiba - tiba muncul." Jelas Leon dengan nada tak suka nya.


"lo masih nyalahin dia? kalo gaada dia,gue gatau sampe kapan lo ngumpet. Kayanya tunggu sampe gue pingsan ketakutan baru lo keluar kali,ya."


"aw. Sakit,Yon."


"Lebih sakit mana? Lo ngebiarin dia peluk peluk lo? sentuh lo,suka digituin sama dia?!" Teriak Leon, tak perduli Eris yang meringis didepannya.


"lo nanya lebih sakit mana? lo ciuman sama Della! satu kamar sama dia lo fikir gue ga sakit? Gue ancur,Yon. Gue hampir nyerah karna apa yang dia omongin itu kebukti."


Teriak Eris sambil menepis cengraman tangan Leon di bahunya dan berlari kearah kamar tamu setelah memastikan kamar itu kosong.


tok..tok..tok..


"Ris,buka pintunya atau gue dobrak." Suara ketukan pintu terdengar, Leon masih berbicara rendah, memanggil dan membujuk Eris beberapa kali tapi sama sekali tak ada respon dari wanita itu.


brak..brak..brak..


"Gue ga main - main. Buka atau gue dobrak!" Suara Leon meninggi, bersamaan dengan ketukan pintu yang mengeras.


Maji dan Yuan menghampiri Leon yang masih mengetuk pintu dengan keras.


"Leon,ada apa?"

__ADS_1


"Yuan! telfon Pak mar, suruh supir baru kesini sekarang."


"Tapi, tuan sekarang-"


"Gue bilang sekarang ya sekarang!"


"nunggu apalagi! Telfon!" Bentak Leon berteriak pada Yuan, membuat Maji mengerjap lalu mendekat kearah Leon, mengusap lembut tangan majikan yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


Leon menepis tangan Maji, berjalan kearah kamar utama dan membereskan semua baju yang ada dilemari, memasukkannya pada koper dengan paksa.


Jam menunjukkan pukul 12, Leon duduk sambil menundukkan kepala nya diujung kasur, mengacak acak rambutnya lalu melempar benda apapun yang ada didekatnya.


"F*ck!"


Maji dan Yuan hanya bisa mengintip dibalik celah pintu, bergantian melihat kamar tamu dan kamar utama yang sudah terbayang seperti kamar pecah.


"Maji, coba bujuk Eris ya. Kamu telfon pak Mar biar percepat penerbangan."


Malam itu, semua terasa chaos. Leon yang menggila tanpa ada seorang pun yang bisa meredamnya, Eris yang juga tak keluar kamar. Hingga akhirnya mereka hanya bisa menunggu saat helikopter Leon sudah mendarat di rooftop villa.


Leon keluar, melempar koper pada Yuan lalu berjalan kearah kamar tamu. Maji sudah menutup mata nya karna pasti tuan muda itu akan berteriak tanpa kontrol.


"Ris. Keluar sendiri dan minta maaf atau gue dobrak dan lempar lo ke hutan. Jangan fikir gue main main." Ujar Leon dengan nada datar yang menusuk.


Minta maaf? siapa yang salah, kenapa gue yang minta maaf. Batin Eris sambil menghela nafas.


"Gue itung sampe 5." Leon mengepalkan tangannya didepan pintu lalu mulai menghitung.


"1..."


"2..."


Eris langsung berdiri, bersiap membuka pintu sebelum laki - laki itu selsai menghitung. Tangannya sudah menekan knop pintu walaupun ragu.


"5..."


Spontan Eris membuka pintu karna hitungan acak Leon. Membuat wanita itu menubruk dadanya.


Bodoamat daripada gue dibuang kehutan. Batin Eris sambil memejamkan mata dan memeluk erat Leon.


"Nah, kalo lo ga bikin gue marah kan enak gaperlu saling ngotot."


Senyuman terbit di bibir Leon, lantas mengangguk saat Yuan datang memberi tau helikopter mereka sudah tiba.

__ADS_1


__ADS_2