
Setelah berdebat panjang malam tadi, akhirnya Eris mengalah untuk satu ranjang dengan Leon karna laki - laki itu sangat sulit di debat.
Tak apa satu ranjang, masalahnya Leon selalu menggodanya. Mencium bibir nya, bermain dileher Eris atau menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.
Bahkan saat Eris dengan kebiasaanya terbangun tengah malam dan pergi ke dapur, Laki - laki itu malah ikut terbangun. Mengikuti nya lalu kembali menggoda Eris dengan sentuhan tangan yang ajaib.
Eris menahan senyumnya, CEO yang Samuel sebut psycho itu malah terlihat seperti bayi besar di dekat Eris. Bergelayut manja padanya, bahkan tatapan pupy eyes nya saat laki - laki itu meminta jatah walaupun sekedar ciuman pada Eris.
Leon menggeliat di dekat Eris. Kepalanya masih ia rebahkan di dada Eris dan tangan yang juga masih melingkar di pinggang rampingnya.
Jam baru menunjukkan pukul 6 tepat saat ponsel Leon berbunyi,membuat laki - laki itu mengernyitkan mata karna bising dan Eris yang bergerak untuk mengambil ponselnya.
"Siapa yang telfon? "
Leon mendudukkan badan ditepi ranjang, mengusap mata dan bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Samuel." Eris menautkan alis melihat notifikasi 5 panggilan tak terjawab dan 10 pesan yang belum dibaca dari Samuel.
"Karyawan yang baik . Nge spam notif boss nya sepagi ini. "
Eris tertawa, menyerahkan ponsel pada pemiliknya yang melihat dia dengan sebelah alis terangkat.
"Astaga! Gue lupa hari ini meeting"
Mata Leon yang semula masih agak malas langsung terbuka lebar membaca chat Samuel, apalagi akhir - akhir ini ia sudah sangat lupa jadwal jika tidak diingatkan.
Leon membalikkan badannya pada Eris, mencondongkan badannya lalu mengecup bibir Eris.
"Morning kiss, hubby" Leon mengedipkan sebelah mata lalu sedikit berlari ke kamar mandi untuk segera bersiap.
Eris ikut dibuat sibuk karna laki - laki itu memaksanya untuk memakaikan baju dan dasi dengan dalih semua tangan Leon sibuk jadi dia butuh bantuan Eris.
Tangan kiri Leon masih menerima telfon, sedangkan tangan kanannya memainkan rambut lurus Eris. Sesekali turun menyentuh bibirnya yang langsung Eris tepis.
"Hah?! Lo gimana sih, Sam? Kenapa nyuruh gue buru - buru dateng kalo lo sendiri gabisa ikut meeting."
Leon mengeraskan suaranya membuat Eris menutup kuping karna jarak mereka yang cukup dekat.
"Gausah, gue udah ada partner buat meeting hari ini. Gaji lo bulan ini gue potong 20% ."
Eris mengernyit dan langsung mendongakkan wajahnya saat Leon mematikan telfon lalu melempar ponselnya ke sofa.
"Lo temenin gue meeting. Cepet siap siap!" Leon mengambil alih dasi nya untuk ia pakai sendiri lalu menjatuhkan diri di sofa sambil mengalungkan dasinya.
"Ko masih disitu? Kan gue bilang, temenin gue meeting hari ini, Samuel gabisa dateng. "
"Tapi-" Eris menggantungkan kalimat nya saat mata tajam Leon melihat nya intens.
"Ok" Eris mengalah, membalikkan badan dan mengambil handuk nya lalu berjalan malas ke kamar mandi.
"10 menit! Gue tunggu di mobil."
Eris melotot karna Leon yang langsung pergi dan hanya memberi nya waktu bersiap selama 10 menit.
Buru - buru Eris membersihkan diri, mengambil baju kemeja selututnya dan set makeup lalu berlari keluar dengan masih menggunakan baju handuk dan muka polos tanpa sedikitpun olesan makeup.
Leon mengetukkan jarinya di kemudi. Melirik jam tangan lalu mengalihkan pandangan, menahan tawa saat Eris berlari kearahnya dengan menjinjing baju dan makeup.
Wanita itu langsung masuk dan duduk dikursi belakang, membuat Leon menaikkan sebelah alisnya lalu membalikkan badan melihat Eris yang baru saja akan membuka handuk.
"Lo kira gue supir? Duduk didepan!"
Eris mendongak, lalu menutup kembali handuknya dengan cepat.
"Gue ganti baju dulu,Yon.Udah jalan aja, buru - buru kan? "
Leon menarik nafas lalu menjalankan pelan mobil nya, sesekali melirik kearah Eris yang sedang berganti baju.
Untung saja, jalanan sedang sepi. Jadi Eris hanya siaga pada Leon yang selalu mengalihkan pandangannya ke kaca.
"Apa liat - liat?! " Eris menghalangi dadanya dengan handuk lalu dengan cepat menggunakan kemejanya. Membalikkan badannya kepinggir lalu mengancingkan bajunya.
"Oh, lo lebih rela dada lo diliatin orang orang dijalan? Fine." Leon sarkas, menyandarkan punggungnya dikursi kemudi sambil menghidupkan auto drive mobilnya dan merubah kaca mobil lebih gelap disemua bagian.
Setelah men set GPS nya agar berhenti di andromade cafe yang masih agak jauh, Leon membalikkan badannya kebelakang lalu menunduk melangkahi kursi kemudi dan duduk di samping Eris.
Eris terperanjat saat Leon membiarkan mobil mereka berjalan sendiri, sedangkan laki - laki itu malah duduk disampingnya.
"Udah gila lo! Gue masih mau idup. Balik sono kedepan."
Leon tertawa saat Eris terdengar panik. Tangannya menyentuh rambut halus Eris.
"Briefly" Leon mengecup bibir Eris, menuntun tangan wanita itu untuk berada diatas adik kecilnya.
__ADS_1
"Tapi, Yon-"
"Sebentar, Hubby" Leon membuka kembali kancing kemeja Eris, memainkan tangannya dipuncak dada wanita itu.
"Jangan di ******" (****** : p*ting)
Eris memejamkan mata saat Leon malah dengan sengaja memainkan lidahnya di ****** Eris, membuat wanita itu melenguh dan sedikit menekan kepala Leon.
"umh, ki-kita bentar lagi sampe. " Eris mengigit bibir bawahnya, rona merah sudah menghiasi wajahnya karna Leon yang menggigit bagian atas paling sensitifnya.
Leon tersenyum. Menjauhkan wajahnya lalu kembali ke kursi depan. Senyum Leon semakin mengembang mendapati resleting celananya yang sudah terbuka.
Mereka saling diam. Eris merapikan kemejanya, Leon yang juga merapikan pakaian dan celananya. Sampai Leon menghentikkan mobil. Melempar note pada Eris yang ada dibelakangnya lalu berjalan cepat.
Eris buru - buru mengikuti Leon, masuk ke andromade cafe. Wangi aroma roti dan makanan cepat saji langsung tercium saat Eris membuka pintu.
"Baca dulu note yang gue kasih sebelum pada kumpul. "
Leon menyandarkan tubuhnya, mengambil buku lalu mulai membaca tanpa perduli Eris yang bergantian melihat bingung kearah note dan dia.
"Hm, Yon. Gue hafalin semua yang ada di note ini? " Eris bertanya ragu.
Pasalnya, note tebal yang diberikan Leon berisi tentang ilmu investasi yang sangat Eris hindari karna kaitannya dengan menghitung.
Jika diberi pilihan, Eris pasti akan langsung memilih presentasi yang bersifat hafalan walaupun lebih tebal dari note yang diberikan Leon, daripada ia harus berkutat dengan satu lembar buku yang memuat angka.
Leon mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, membuat Eris mendengus dan akhirnya pasrah untuk membaca note di depannya.
Baru saja Eris menyelsaikan bacaannya di 5 lembar note. Pintu terbuka, membuat isi cafe yang tadinya ramai menjadi sangat sepi.
Leon melihat kearah pintu. Lalu menutup buku nya dan berdiri, menepuk pundak Eris agar mengikutinya.
4 orang lebih laki - laki dan satu orang perempuan. Berdiri didepan meja Leon. Hana, salah satunya.
Ardi tersenyum pada istrinya lalu meminta Hana berkeliling sebentar karna tujuannya datang kesini adalah untuk menarik andromade kembali dibawah naungan wyllie's grup.
"Leon, mama boleh minta temenin dia? Mama mau liat liat keliling sini" Hana tersenyum malu sambil berjalan menghampiri Eris dan mengusap pundaknya.
Leon melirik Eris lalu mengangguk.
"Bawa aja"
Wajah Hana langsung berbinar mendapat izin dari Leon, dengan cepat Hana merangkul Eris lalu meminta Eris mengantarnya ke taman.
"Eris,saya boleh minta tolong? " Hana berucap lembut sambil memegang tangan Eris dan tersenyum.
"minta tolong apa,ya? Bu"
"Mama titip Leon, ya. Mama percaya kamu wanita baik - baik."
Eris sedikit mengerutkan alis nya dan mengusap tengkuk, sedikit canggung karna ucapan Hana yang tiba - tiba.
Hana mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Eris. Tersenyum ketika Leon sudah ada dibelakang mereka. Menatap dingin, lalu menarik Eris dengan ekspresi datarnya.
"Kita pulang. "
Eris balas melambaikan tangan pada Hana yang tersenyum.
"Jadi kan ke dalb? " Eris melirik Leon yang hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan cepat ke apartement Eris.
\*
Gemerlap lampu yang senada dengan
Alunan musik yang semakin ramai menemani Eris yang risih karna Leon terus menempel padanya.
Leon menenggelamkan wajah nya di lekukan leher Eris, menikmati wangi mawar di lehernya dengan tangan yang masih merangkul pinggang Eris lebih dekat.
Eris menghentikan minumnya dan melambai saat 2 orang menghampiri mereka. Berbeda dengan Leon yang sedikit menegang mengetahui bahwa yang Eris maksud akan menjadi teman mereka malam ini adalah orang yang sangat ia hindari.
Della tersenyum, membalas lambaian Eris lalu menghampiri mereka yang di ekori oleh Rey yang sama terkejutnya karna mengetahui teman satu meja mereka kali ini adalah adik nya sendiri.
"Hai, gue kira lo sendiri" Eris berdiri lalu memeluk Della yang balas memeluk nya.
Della tersenyum sumringah karna kembali bertemu teman lama, ia melepas pelukannya lalu melihat kearah Leon yang menarik Eris untuk kembali duduk.
"Gue kira lo bakal balik" Rey memulai percakapan, lalu melambaikan tangan pada bartender, meminta satu botol baileys karna ia tak terlalu suka minum kadar alkohol tinggi.
Leon menggeleng, menarik Eris lebih dekat lalu kembali menenggelamkan wajah nya di leher Eris. Tanpa memperdulikan 2 orang yang melihat kaget kearahnya.
__ADS_1
"Pulang dari Eropa, lo jadi makin berani ya"
Rey tertawa melihat tingkah adik nya yang sudah dewasa lalu menarik tangannya dan merangkul Della yang justru terlihat kurang nyaman.
Eris memejamkan mata dan menahan suaranya saat Leon usil bermain di lehernya.
"Yon"
"kenapa sayang? "
Leon menghentikan kegiatannya, menangkap tatapan Eris yang melihat canggung kearah Della dan Rey yang dibalas suara tawa Rey.
"Gapapa, gapapa. Lagian tempat nya ga terlalu terang, pinter banget emang si Leon"
Rey tertawa yang dibalas sebelah alis terangkat Leon. Tanpa memperdulikan tatapan mereka, Leon menyandarkan tubuh nya di sofa, lalu menarik Eris agar mengikuti nya bersandar.
"Jangan bikin gue malu" Eris sedikit berbisik. Sambil melirik kedua pasangan didepan mereka, Della terlihat mulai menikmati minumannya, begitu juga dengan Rey.
Della tersenyum, mulai berbicara dengan santai pada Eris yang masih menggerutu pelan pada Leon
"Tumben ga minum langsung dibotol,Ris"
"Kembung perut gue kebanyakan minum" Eris menjawab sambil sesekali melotot kearah Leon karna laki laki itu terus menempel padanya.
Della tertawa melihat Leon yang tak acuh dengan dia dan Rey yang ada didepannya.
"kalian pacaran udah berapa bulan? "
Rey menyimpan minumannya lalu mulai bertanya, membuat Eris mati kutu dan menyikut Leon untuk bicara.
"Setaun" Leon menjawab asal, menegakkan diri dan beranjak.
Leon menegakkan tubuh nya, membuat Eris siaga satu karna laki laki itu mulai tersenyum menyebalkan seperti biasa. Menyandarkan kepala nya di leher Eris lalu menarik wajah wanita itu agar melihat kearahnya, dan-
Cup
Leon mencium lembut bibir wanitanya. Bahkan di depan Rey dan Della yang saling lirik.
"sayang, ayo pulang udah malem"
"tapi, Yon-"
"darl" Leon mengacak rambut Eris, menariknya berdiri lalu pergi tanpa pamit pada Rey dan Della.
"lo tuh kenapa sih? Sensi banget kaya nya sama Rey" Eris memulai pembicaraan karna sudah hampir setengah jam tanpa suara mereka lewati dalam mobil.
"harus banget lo tau? "
Leon tidak bermaksud sarkas, tapi jawabannya cukup untuk membungkam Eris. Apalagi nada dingin yang Leon keluarkan.
Leon melirik Eris yang melihat keluar jendela. Lalu menghentikan mobil, mengacak rambut Eris dan memegang tangannya.
"Nanti juga kamu tau"
Leon mengusap lembut tangan Eris lalu menautkan jari nya, melajukan mobil dengan satu tangan yang masih menggenggam Eris.
"Yon."
Eris menarik tangannya lalu duduk menyamping, melihat serius kearah Leon yang menghentikan mobil karna lampu jalan itu.
Leon yang mendengar Eris memanggilnya menoleh lalu pandangannya fokus pada paha Eris yang terbuka bebas. Ya, wanita itu lupa ia sedang berdua dengan pria dewasa sekarang.
Ia menarik jas nya yang disampirkannya di kursi kemudi, lalu menutup paha Eris yang membuat fokusnya buyar.
"kenapa,by? "
"Gajadi. Lupa" Eris buru buru membetulkan jas Leon di paha nya agar laki laki itu tak menatap Eris seperti sekarang -kau bisa liat, seperti anjing yang kelaparan, mungkin-
"oh kamu gamau pulang ke apart sekarang?oke, mau ke hotel mana? "
Kepala Leon celingukan mencari hotel mewah disekitar jalan yang mereka lewati, membuat Eris sontak memukul kepala itu. Ya kau tau, agar semua fikiran mesumnya keluar,
"Aduh, hubby. Ko malah mukul sih? Atau kamu mau ke apart aku? Apart aku priv, gabakal ada yang ganggu" Leon berbisik dan tersenyum melihat wajah Eris yang me merah.
"Ck, gue balik ke apart aja,Yon. Cape. "
Leon mengedikkan bahu, lalu memutar balik mobilnya.
"Oke sayang, tapi gue gabisa nemenin lo malem ini-"
"Bodo"
Eria terlihat acuh, mengambil ponsel nya dan tersenyum saat ada notif grup dari Beni dan Della.
__ADS_1