Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
dusk


__ADS_3

Leon tersenyum melihat Eris yang sudah tertidur pulas diatas rumput liar. Fikirannya menerawang, rasa perih muncul saat bayangan 14 tahun lalu melintas dihadapannya.


Didepannya, dua keluarga yang terlihat sangat bahagia.


Seorang anak laki - laki tertawa saat lengan sang ibu menggelitiknya, membuatnya menghindar dan berlari menghampiri satu teman sebaya nya.


Belum sempat ia menggapai anak laki - laki itu, kaki nya tersandung batu yang membuat dia hilang keseimbangan, anak laki - laki itu pergi sambil membawa kertas gambar tanpa menghiraukan Leon yang menatap nanar luka dilututnya.


"Sayang, mama kan udah bilang pelan - pelan lari nya."


"Tapi,ma. Leon mau liat gambar kakak itu. Gambar nya bagus ma, dia gambar gedung." jawab Leon bersemangat sambil sesekali merintih saat ibu nya menekan pelan luka dengan betadine.


"Sayang, kamu mau ga dia jadi kakak kamu? kalian bisa main tiap hari."


"kalo ada yang bilang Leon monster dia bakal belain Leon,ma?"


Wanita itu dapat melihat sirat kesedihan dan kesepian yang muncul diwajah putra nya. Membuatnya segera mengangguk dan membawa Leon kedalam pelukan hangat.


-


Leon menahan tangisnya sekuat tenaga, walaupun tak bisa dihindari saat melihat wanita yang paling disayangi nya tertidur di atas ranjang rumah sakit.


"Ma,Leon janji gabakal nakal lagi, Leon janji gabakal berantem lagi. Mama bangun,ya. Ini udah satu minggu lebih mama tidur terus."


Adrian menghampiri putra nya, menggendong Leon walaupun anak laki - laki itu meronta.


"Pa, mama kenapa ga respon Leon? Papa bangunin mama,ya. Leon mau ke maldives lagi sama mama."


***


Leon memejamkan mata, sekuat tenaga menahan air mata yang menambah rasa sesak dihati nya.


Eris bergerak, mengerutkan alis lalu membuka mata saat sinar matahari yang menyilaukan mengenai mata nya.


"Leon"


Eris menyipitkan mata, saat laki - laki itu tak meresponnya. Leon masih memejamkan mata, dengan kedua tangan yang terkepal memeluk lutut.


"Sayang."


Panggilan kedua Eris dan sentuhan hangat ditangannya membuat Leon langsung membuka mata dan melihat kearah Eris.

__ADS_1


"kenapa?"


"Cuma inget mimpi buruk." Jawab Leon mengalihkan pandangannya kedepan dengan memasang senyum.


Eris melihat sirat kesedihan dan setitik cairan bening dimata Leon.


"Gausah ditahan. Sedih itu wajar ko, nangis itu wajar, nangis juga manusiawi."


Leon menarik Eris kedalam pelukan. Menenggelamkan wajahnya di bahu wanita itu dengan helaan nafas tertahan dan satu tetes air yang berhasil meluncuri pipi nya.


"Kata orang, semakin kita nimbun kesedihan sendiri, semakin hati kita sesak. Inget ga sama janji pernikahan? tetap ada dan berbagi saat senang ataupun sedih. Lo boleh meledak, lo boleh nangis karna lo juga manusia,lo berhak buat itu." Eris mengusap rambut Leon, mengeratkan pelukan pada laki - laki rentan dihadapannya.


Ini pertama kali nya Leon menunjukkan kerentanan pada seorang wanita.


Eris menempelkan jidatnya pada dahi Leon, menggenggam tangan Leon yang akhirnya membuat laki - laki itu kembali menengadahkan wajahnya.


"Sini." Leon berdiri, menggenggam tangan Eris dan melangkahkan kaki jauh kedekat jurang. Bersamaan dengan matahari yang mulai tenggelam, memancarkan cahaya kejinggaan yang semakin meredup.


"Ris,lo mau ga jadi langitnya gue? yang selalu dengan tabah terima gimanapun cuaca yang gabisa di prediksi."


Eris menahan tawa nya, lalu mengalihkan pandangan pada Leon sambil mengerutkan alisnya.


"ini maksudnya apa? lo mau gombalin gue?"


"Leon, gue disini. Gue ga permasalahin keluarga atau tempramen lo, karna gue gaberhak buat ikut campur soal itu, gue cuma bisa mastiin diri gue ada kapan pun lo butuh."


"Karna itu definisi pasangan,kan?" Lanjut wanita itu dengan senyum hangat yang menghiasi wajahnya.


"Dulu, Maldives destinasi favorite mama. Jadi papa beli villa ini buat kado pernikahan mama, dan kebun yang lo liat adalah tempat yang paling wajib dikunjungi sama mama."


Senyum laki - laki itu terlihat samar. Leon merangkul Eris lebih dekat, lalu kembali duduk merebahkan kepalanya di pundak Eris.


"Tapi mama sering sakit sakitan, gue gatau penyebabnya apa, yang jelas papa seakan ngejauhin gue sama mama, papa sering ajak gue keluar kota atau liburan ke maldives padahal kondisi mama lagi sakit keras-"


" Papa juga makin sering ajak Hana kerumah, bahkan gue beberapa kali pergokin Hana keluar dari kamar mama."


Leon mengeraskan rahangnya, tangannya sedikit mengepal menahan rasa amarah yang kembali meletup di otaknya.


"Dan yang paling gue benci. Belom seminggu mama meninggal, papa nikah sama Hana."


Eris melingkarkan tangannya di bahu Leon, tersenyum samar saat merasakan rasa sesak juga mengisi ruang hatinya.

__ADS_1


"Balik ke villa,yu. Udah malem." Leon beranjak, mengeluarkan dua buah headlamp di tas kecilnya. Memakaikan satu untuk nya dan satu untuk Eris.


"Yon,kapan - kapan kita kesini lagi ya?"


"lo suka?"


Eris mengangguk membuat Leon berfikir singkat lalu menatapnya.


"Ok, besok gue minta Tyo -ahli perkebunan rumah Leon- buat pindahin ini ke garden rumah kita."


"Ha? ngaco dih, pindahin apa? gimana pindahinnya." Eris tertawa menanggapi Leon yang berubah seperti biasa lagi.


"Ya pindahin. Air mancur, bunga bunga nya. Oh terus burung biar kesan nature nya kerasa-" Dikte Leon sambil menunjuk jarinya menghitung.


"Eh,tapi. Kayanya burung gausah deh, udah punya."


Leon melanjutkan jawabannya yang langsung membuat Eris melotot, sedangkan laki - laki itu sudah berlari duluan sedikit menjauh.


"Leon! lo tuh ya udah jokes nya ngeres, ninggalin istri sendiri dalem hutan, bener - bener suami macem apa. Astaga." Teriak Eris sambil berjalan dengan menghentakkan kaki nya.


Didepannya Leon mengumpat dibalik pohon, tertawa geli mendengar Eris yang terus memaki nya dan memarahi angin.


Dasar ibu hamil. Kasian banget angin ga salah apa - apa ditinju, tanah juga diinjek injek.


"Leon sumpah galucu! Kalo gue nyasar gimana?huhuu" Wanita itu terlihat berhenti. Tak lama menjongkokkan badannya dan menutup mata dengan kedua tangan.


Bahu nya bergetar menandakan wanita itu menangis.


Baru saja Leon melangkah keluar dari tempat nya bersembunyi. Seseorang sudah mendahului nya memeluk bahu Eris membuat Leon semakin mendidih mengetahui musuh dalam selimut yang ada didepannya.


"Sialan! lo ngapain disini,hah? lo ngikutin kita?" Dengan satu pukulan Leon mengenai pipi Rey, membuat laki - laki itu sedikit terpental dan meringis karna terkejut.


"Rey? lo- lo ngapain disini?" Tanya Eris dengan sesenggukan menengadahkan wajah dan membuka matanya mendengar suara ribut dua pria.


"Lo gaberhak marah. Papa yang minta gue jadi guardian kalian. Terutama mastiin Eris selamat."


"Cuh. Yang gaberhak itu lo,b******k. Eris istri gue dan papa terutama lo gaberhak ikut campur urusan keluarga!"


"Lo bisa mastiin jaga dia yang bener? Hal kecil kaya tadi aja lo main mainin. Lo gatau Eris takut gelap? apalagi ini ditengah hutan."


"Lo!-"

__ADS_1


"Yon. Udah. Gue mau balik ke villa sekarang." Lerai Eris langsung menahan tangan Leon yang sudah bersiap kembali memukul. Lalu menariknya meninggalkan Rey yang tersenyum tipis dibelakang mereka


__ADS_2