Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
sweaty


__ADS_3

Hamparan perkebunan disebelah kiri dan kanan mampu menghipnotis mata siapapun. Warna hijau yang mendominasi membuat mata dan fikiran cerah.


Leon menuntun tangan Eris agar memeluknya. Matahari yang perlahan beranjak naik dan angin alami yang menerpa kulit mereka menambah kesan romantis diantara pasutri baru tersebut.


"Enakan gini ya, lebih intimate." Eris tersenyum menanggapi ucapan Leon.


"Kita mau kemana? "


"Liat aja nanti." Leon masih dengan senyumnya menjawab pertanyaan Eris yang serba ingin tahu, lalu mengusap hangat tangan Eris yang melingkar diperutnya.


Beberapa menit mereka saling diam. Sama sama menikmati pemandangan yang tenang dan mencerahkan fikiran.


Senyuman tak lepas dari wajah Eris, begitupun Leon. Hingga motor yang dibawa Leon menepi disebuah perkebunan sangat luas.


Tanaman - tanaman bonsai menyambut mereka. Eris turun dari motor sambil memandang sekitarnya. Matahari yang beranjak naik, kebun yang dikelilingi bukit. Dan yang paling membuat Eris mengerutkan alisnya adalah keheningan yang benar benar hening. Tanpa ada siapapun, hanya terdengar suara air yang seperti tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Jogging disini aja ya." Leon memeluk Eris dari belakang,mengecup pipinya dari samping.


Eris tersenyum, melepas pelukan Leon lalu berlari kecil sambil meregangkan badannya. Disusul Leon yang juga ikut berlari kecil.


Potongan kayu Gaharu yang tertumpuk tak jauh dari tempat mereka parkir, menarik perhatian Eris. Kayu yang kualitasnya tak kalah dari jati, kayu yang memiliki khasiat paling banyak dan terkenal karna kemahalannya.


Eris berlari kearah tumpukan kayu gaharu. Pandangannya semakin mengerjap melihat sisi lain yang terhampar Juliet rose. Mawar paling mahal yang identik dengan keromantisan.


"suka ga? " Leon merangkul bahu Eris. Ikut tersenyum saat melihat wanitanya melebarkan senyum dengan pandangan yang tak lepas dari pemandangan didepannya.


"Gue kaya di dream land //dunia mimpi//."


Eris mengalihkan pandangannya pada Leon. Berhambur kepelukan laki - laki itu dan merebahkan nyaman kepalanya didada Leon.


"Makasih ya, Yon. Udah bantu gue wujudin satu persatu mimpi gue."


"everything for you, my hubby //segalanya untukmu, sayangku//."


Leon memeluk wanita didepannya, lalu mendongakkan wajah Eris. Mendekatkan wajah dan menautkan bibirnya perlahan.


Keduanya sama sama larut, memejamkan mata dengan tangan Eris melingkar di pundak Leon.


Suasana sepi dan hangatnya matahari turut menambah suasana menjadi lebih intimate. Hanya mereka berdua, tanpa siapapun dan fikiran apapun yang menganggu mereka saat ini.


Leon menjauhkan wajahnya. mengusap bibir Eris dengan tangannya.

__ADS_1


"Lari nya pelan pelan ya."


Eris mengangguk menanggapi Leon, lalu memegang tangannya. Membawa Leon turut berlari kecil tanpa arah tujuan.


Pagi ini, Eris merasa fikirannya kembali bebas. Senyuman paling tulusnya pagi ini berhasil mengusir fikiran over yang semalaman mengganggunya.


***


Aliran sungai dan gemercik air membuat Eris mengerjap. Setelah Leon mengajak nya sedikit menuruni perkebunan, mereka kini berada disebuah sungai kecil dengan air yang jernih.


"Mau bernang. " Eris hampir saja langsung meloncat jika tak ditahan Leon yang sambil mengerutkan alisnya.


"Kamu galiat sungainya banyak batu? kalo kepentok gimana? pelan pelan aja,hubby."


Leon menuntun Eris turun lebih pelan, mengingat wanita itu yang sedang mengandung, ia harus extra hati - hati menjaga wanitanya.


"Yakin mau bernang? dingin loh airnya. "


Eris mengangguk. Menenggelamkan kakinya lebih dulu yang semakinmembuatnya tersenyum lebar.


"Kita bernang dirumah aja gimana? Disini airnya dingin banget. " Leon kembali menarik kakinya sambil bergidik karna dinginnya air sungai.


"Hubby!"


"Apaan sih?!" Kali ini kekesalannya tidak tertahan karna Leon yang langsung menariknya, membuat Eris hampir terjatuh karna tingkah berlebihan laki - laki itu.


"Balik sekarang! Nanti kalo lo jatoh gimana? kalo lo kepeleset gimana? jangan ambil resiko. " Suara Leon tak kalah meninggi. Leon mengerutkan alisnya. Bersiap membopong Eris yang langsung dihindarinya dengan berpindah keatas batu.


"Yang buat gue hampir jatoh tuh lo! yaudah kalo lo gamau nemenin, balik aja sana."


Eris bersikeras, mengalihkan pandangannya kelain arah sambil membuang nafas kasar karna Leon yang merusak mood nya ditengah fikiran bagus pagi ini.


Tanpa menjawab, Leon membalikkan badannya. Naik kedarat dan berjalan kearah atas meninggalkan Eris yang menatapnya sinis dari belakang.


"Rese!" Eris berteriak, berusaha turun sendiri. Lalu melanjutkan permainan airnya.


Senyuman kecil sedikit tertarik ketika tangan Eris menyentuh air. Mood baiknya perlahan kembali saat ia mengusapkan air ke wajahnya.


Selang beberapa menit, Eris menahan senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya, lalu melirik kearah atas. Suara motor tak terdengar sejak tadi, yang berarti Leon masih ada disekitar disini.


Eris menahan senyum. Lalu akhirnya beranjak saat mulai merasakan dingin ditangan dan kakinya.

__ADS_1


"udah mainnya?" Leon tiba tiba muncul, menarik perlahan tangan Eris agar segera naik.


"maaf,ya. Tadi gue emosi." Suara Leon terdengar lebih rendah, sebagai ganti kekesalan dan rasa bersalahnya, Leon menarik Eris kedalam pelukan. Mencium puncak kepala dan mengusap perlahan punggung wanitanya.


"Iya. Gue juga kesel tadi,sorry ya." Eris tersenyum,membalas pelukan Leon dengan nyaman.


"Mau balik atau gimana?"


"Balik aja."


Mendengar jawaban Eris, Leon mengangguk, menggengam tangannya menuju motor yang terparkir tak jauh dari perkebunan.


Kumpulan teman Leon sudah tak sebanyak pagi tadi saat mereka kembali. Beberapa orang termasuk Sam terlihat sedang mengobrol di jembatan kecil dekat kolam sambil sesekali berebut untuk memberi makan ikan yang sudah berkumpul dibawahnya.


Rey dan Rio terlihat mengobrol sambil sesekali tertawa. Sementara Leon yang baru saja tiba, mengerutkan alis melihat rokok yang menyala tersempil dijari Rey.


"sejak kapan lo ngerokok?"


Kemunculan Leon yang tiba tiba membuat Rey menghentikan obrolannya dan melirik Leon dengan sebelah alis terangkat.


Pandangan Rey beralih pada Eris lalu beranjak. Menyentuh jidat wanita itu yang membuat beberapa teman Leon yang lain mengerjap karna sikap yang Rey tunjukkan. Terutama Leon, yang langsung menepis tangan Rey dari dahi wanita disebelahnya.


"Kenapa? " Leon berucap dingin. Beralih merangkul Eris lebih dekat.


"Nope. Cuma mastiin. "


Sebelah alis Leon terangkat mendengar alibi laki - laki didepannya. Baru saja Leon hendak melangkahkan kaki lebih dekat pada Rey, Eris menariknya, meminta buru - buru pulang karna melihat beberapa teman Leon yang menghampiri mereka.


"Yon, ayo pulang."


"Gaada yang boleh nyentuh Eris! Apalagi tanpa izin dari gue. Mau lo dokter sekalipun, kalo gaada hal urgent lo gaboleh nyentuh dia. "


Leon menahan tangan Eris. Berkata dengan nada yang beberapa tingkat lebih dingin dari sebelumnnya.


"Istirahat. Jangan kecapean terus, gabaik buat badan." Senyuman kecil tercetak di bibir Rey saat ia melirik Eris, berkata tanpa perduli Leon yang sudah mengepalkan sebelah tangannya.


Rio mengerutkan alis saat berjalan mendekat dan mendengar sekilas ucapan Rey yang terdengar cukup perhatian untuk seorang teman ataupun adik ipar.


"Yon."


"Gue titip kunci." Leon melempar kunci motor pada Rio yang langsung ditangkapnya, lalu membalikan badan dengan tangan yang beralih merangkul pinggang wanitanya.

__ADS_1


__ADS_2