
Leon mengetukkan jarinya dikemudi dengan pak Mar yang duduk dikursi sebelahnya, dan Eris dikursi belakang.
Laki - laki itu bersikeras menyetir mobil sendiri karna pak Mar selalu taat pada standard kecepatan.
Leon menghela nafas, beberapa kali menekan klakson mobil karna kemacetan jakarta yang siang ini terasa lebih menyiksa.
"Pak Mar telfon voorijder. Udah mepet banget ini. " (voorijder : pengawalan pembuka jalan oleh polisi ) .
Pak Mar mengangguk, mengeluarkan ponsel Leon dan mengetikkan beberapa pesan yang membuat Leon berdecak.
"Saya bilang telfon! lama. " Pak Mar mengangguk, memberikan ponsel nya pada Leon yang langsung menerimanya dengan cepat.
"Saya minta pengawalan di jalan lingkar patung suta. Segera."
"Selamat pagi,pak Leon. Siap,pak, segera kami kirimkan."
Leon mematikan telfon secara sepihak, melemparnya pada Pak Mar yang menangkap ponsel majikannya dengan gelapan.
"ngapain sih sewa vorijder segala? udah deket kali darisini." Eris mencondongkan badannya kedepan.
"By, liat sekarang jam berapa. Mepet banget kalo tunggu macet."
Tak berapa lama, sirine polisi terdengar. Bertepatan dengan ponsel Leon yang berdering.
Leon memberi kode agar ponsel miliknya diberikan pada Eris. Lalu segera menginjak pedal gas mengikuti mobil polisi didepannya.
***
Kurang dari 20 menit, mobil Leon sudah sampai didepan lobby bandara.
Leon segera turun dari mobilnya. Mengangguk pada polisi yang memutar balik mobilnya dan menjauh.
" koper merah yang satu lagi mana? lo ko malah bawa yang kecil,sih?" Eris berbicara dengan sebal melihat hanya ada satu koper kecil yang dikeluarkan Leon.
"Astaga,by. Gue cepet - cepet tadi, ga kebawa."
"Leon, semua barang yang poko nya ada disana. Baju, handuk semuanya. Kenapa bisa lupa sih? Kan udah dipisahin koper yang perlu tuh yang mana."
Leon mengerjap saat Eris berbicara tanpa jeda dengan nada ketus. Baru saja mulutnya terbuka untuk menjawab, Eris mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.
"Halo, pak Mar. Tolong ke lobby sekarang,ya."
Eris terlihat mondar - mandir. Mengigit kuku tagannya hingga pak Mar datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada apa,bu?"
"Pak Mar, bisa tolong ambilkan koper merah? soalnya semua barang-"
"ck.Gabakal sempet,by. Udah la kita atur masalah baju nanti." Leon menarik tangan Eris dengan sebelah tangan lain menenteng koper saat mendengar announcement // pemberitahuan// bahwa pesawat mereka sebentar lagi akan lepas landas.
Mereka buru - buru masuk kedalam awak kabin pesawat. Menuju tempat duduk diantar oleh pramugari yang bertugas.
Eris mengambil tempat duduk didekat kaca. Mengarahkan pandangannya keluar karna masih sebal pada laki - laki disebelahnya.
"by, nanti gue yang urus semua. sorry, ya." Leon mengelus punggung tangan Eris, lalu mengusap pipi wanita itu walaupun tanpa balasan apapun dari Eris.
Perlahan pesawat bergerak lambat, bersamaan dengan himbauan - himbauan dari awak kabin.
"Ris, gapegel liat kesana terus? udahan ke kesel nya." Leon sedikit memiringkan tubuhnya pada Eris. Mengusap lembut rambut wanita itu.
"Permisi,pak. Silahkan minumannya?" Seorang pramugari mendekat kearah mereka, membuat Leon meliriknya singkat sambil menggelengkan kepala dan mengangkat legannya, pertanda mereka sedang tak butuh minum atau makanan.
Eris mengerjapkan mata saat pesawat mereka mulai naik menembus awan. Ini adalah kali pertama ia menyaksikan pemandangan dari luar dalam pesawat, karna setiap ia berpergian selepas pesawat lepas landas pasti Eris sudah berpindah kealam mimpinya.
Suara gemuruh dan sedikit guncagan membuat Eris refleks menarik tangan Leon. Kepanikannya bertambah apalagi saat masker oksigen diturunkan didepan mereka dan penumpang lain yang juga terlihat panik.
Cuaca diluar sedang cerah, tapi guncangan mendadak dengan durasi yang masih belum bisa ditebak membuat para penumpang langsung panik, beberapa menjerit termasuk Eris yang masih menahan teriakan paniknya.
(Turbolensi : adalah pesawat terguncang karna perubahan kecepatan udara yang terjadi dalam kurun waktu singkat)
"Penumpang yang terhormat, dimohon untuk tetap tenang, ini adalah hal yang wajar terjadi saat penerbangan. Silahkan pasang masker oksigen yang ada dihadapan anda dan tetap tenang."
Seorang pramugara terdengar menghimbau para penumpang awak kabin. Disusul dengan pesawat yang kembali bergerak normal.
Eris menghela nafas. Mengelus dada nya sambil menarik diri dari pelukan Leon.
Pandangannya kembali melihat keluar. Mereka sudah diatas awan sekarang. Seperti tanpa ujung. Perlahan mata Eris terasa berat, membuat wanita itu menahan kantuk yang semakin lama akhirnya matanya terpejam.
Leon melirik Eris yang tertidur dengan tangan menahan kepalanya yang bersandar di dekat jendela pesawat.
Tangannya beralih dengan pelan membawa Eris bersandar didadanya. Senyumnya muncul saat wanita itu menggerakkan kepala nya,mencari posisi nyaman.
Pandangan Leon beralih melihat keluar, hamparan awan dan langit yang bersih, pemandangan yang sebenarnya biasa saja. Tapi, kali ini perjalanannya berbeda karna bersama dengan wanita yang dicintainya.
Leon melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 12 siang. Tersisa +/- 4 jam lagi sampai mereka mendarat ditempat tujuan. Fikirannya kembali menerawang, tentang hal random mengenai semua hal dalam kehidupannya.
Matanya ikut terasa berat, perlahan Leon memejamkan mata, membiarkan semua fikirannya ikut luruh dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
***
"Yon." Eris beberapakali menepuk tangan Leon, membangunkan laki laki itu sambil melihat sekitarnya.
"mhhh. Kenapa,by?"
Eris menunjuk landasan didepannya dengan dagu. Membuat Leon mengucek singkat matanya lalu melihat kearah luar jendela.
"Ooo Ibrahim Nasir airport." Leon mengangguk sambil kembali memejamkan mata, tak lama matanya sempurna terbuka lebar sambil melihat kearah Eris yang menaikkan alisnya.
"udah sampe? kenapa gabilang,by. Astaga." Laki - laki itu langsung berdiri, memakai ranselnya dan mengambil koper kecil lalu menarik Eris keluar.
Seseorang terlihat mendekat kearah mereka. Mengangguk sopan pada Leon dan Eris. Wajahnya terlihat Lokal indonesia, membuat Eris mengerjapkan mata sambil melirik Leon meminta penjelasan.
"Selamat datang di Maldives, tuan Leon, nyonya Eris. Saya Yuan, private chauffer (supir pribadi) tuan Leon." Laki - laki itu memperkenalkan diri pada Eris yang terlihat bingung, lalu mengambil koper yang diberikan Leon.
Didalam mobil, Leon tak melepaskan pegangan tangannya sedikit pun pada Eris. Sesekali Yuan terlihat mencuri pandangan kearah belakang dan tersenyum.
"Maji sampe gabisa tidur karna dapet kabar tuan Leon berangkat ke Maldives hari ini." Ucap Yuan dengan sumringah yang hanya dibalas singkat oleh Leon.
"Hm. "
"Maji udah siapin tempat paling romantis. Bahkan Ma dekor taman kesukaan Nyonya Dee. Tuan pasti-"
"Yuan! Saya kesini karna permintaan istri saya."
Yuan yang semula menjelaskan dengan penuh semangat langsung terdiam mendengar jawaban Leon yang sangat dingin. Ia juga memejamkan mata singkat lalu merutuki dirinya sendiri karna mulutnya yang hobi menyeletuk.
Tak lama, mobil mereka sampai disebuah laguna. Yuan buru buru turun, bersiap membuka kan pintu untuk Leon tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh Leon.
Eris keluar dari mobil sambil sedikit meregangkan badannya. Pandangannya mengerjap melihat pemandangan laut sejauh mata melihat.
Laut yang terhampar luas dengan bukit mengelilinginya. Beberapa speedboat dan kapal pesiar terparkir rapi ditepi laguna.
"Mari,Tuan." Yuan menenteng koper Leon, mengangguk lalu memberikan jalan pada Leon dan Eris agar segera menaiki kapal pesiar didepa mereka.
"Lo bawa koper, tas gue sama tas Eris duluan. Gue sama Eris mau keliling dulu. "
Leon turun dari laguna, menaiki speadboat yang membuat Eris dibakangnya mengerutkan alis.
"Yon, kita naik ini? "
"Iya, ayo. " Leon mengangguk, menarik Eris dan membantunya menaiki speedboat.
__ADS_1