
Cahaya matahari pagi menyoroti ruang kamar mereka. Leon mengerutkan alis dengan mata yang masih terpejam saat tak mendapati Eris disebelahnya.
Perlahan Leon membuka matanya lalu tersenyum kecil mendengar suara tawa wanita itu dari luar kamar.
Eris baru sehari disini udah akrab aja sama Maji. Masih pagi gini ngerumpiin apa ya mereka. Fikirannya membuat Leon semakin menarik senyum, lalu beranjak membuka knop pintu dan menekannya hingga terbuka.
pemandangan didepannya membuat mata Leon beberapa kali mengerjap. Ia mengucek matanya untuk memastikan hal ini nyata atau hanya mimpi. Beberapa kali Leon mencubit lengannya sendiri dan terasa sakit.
Eris tertawa membelakanginya sambil bersandar dibahu seorang pria yang punggungnya tak asing.
"gimana,ris? lo mau kan jadi istri gue?"
istri? astaga gue masih idup, masih disini. Leon memejamkan matanya, mengepalkan lengan lalu berjalan cepat menghampiri mereka.
Dengan satu tarikan. Leon menarik laki - laki itu. Sorotan mata tak sukanya semakin tajam melihat Rey yang sudah tersungkur didepannya.
"B*****t lo,ya. Lo sama nyokap lo tuh sama! sama - sama pengkhianat! sama - sama perebut! dia masih istri gue. Dan lo, depan gue minta dia jadi istri lo? rasa malu lo dimana?"
Ujar Leon dengan berapi. Pandangannya sedikit teralih pada Eris yang hanya melihatnya datar sambil menaikkan sebelah alisnya.
"lo nanya rasa malu gue? harusnya gue yang nanya apa masih pantes lo disamping dia saat masalalu lo belom beres?"
Rey berdiri, tersenyum kecut pada Leon lalu beranjak mendekat kearah Eris yang langsung dihalangi Leon.
"apaansih?! balik sono ngapain lo disini?" Tanya Leon sambil merangkul Eris lebih dekat dan mencium pipinya yang malah hal itu dihindari oleh Eris dengan memalingkan wajahnya.
"Tanya ke istri lo." Rey melihat Eris sambil sedikit tersenyum. Lalu menjatuhkan badannya di sofa.
Leon melirik Eris, menariknya kedalam kamar lalu menghempaskan Eris keatas ranjang mereka.
"maksud lo apa sih? lo undang cowo asing itu kesini? niat kita liburan, honeymoon! ngapain undang orang?" Tanya Leon sewot.
"Gue ga undang dia. Lo sendiri kan yang minta pak Mar anterin baju gue."
"Ya,gue mintanya pak Mar yang anterin. kenapa dia yang dateng kesini?"
__ADS_1
"pak Mar gak bisa bawa heli. Jadi, gue inisiatif anterin baju Eris kesini. Papa yang nyuruh, bentar lagi gue balik ko." Rey muncul, menyandarkan punggungnya didekat pintu sambil menjawab perkataan Leon.
"Emang,ya. buah jatuh gapernah jauh dari pohonnya. Sama kaya lo sama nyokap lo. Gue kasih lo waktu 10 menit buat pergi darisini."
Eris hanya memperhatikan pertengkaran kakak beradik itu sambil mengerutkan alisnya. Lalu pergi mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
"bebal lo,ya? gue udah kasih tau jangan.deketin.Eris! lo faham ga sih?" Ucap Leon menekan setiap katanya dan menunjuk kearah Rey yang hanya dibalas senyum smirk.
"lo yakin bakal bisa jagain dia? yakin dia bahagia disamping lo? i know who you are. Player kaya lo gamungkin tobat karna satu cewe.
lo tau? Eris sering kena masalah itu karna lo! lo yang narik dia ke lingkaran gabener lo." Jelas Rey panjang lebar.
"lo tau apa tentang gue? anak haram." Jawab Leon sinis dengan embel embel yang membuat Rey terdiam.
Senyuman kecil tercetak dibibir laki - laki itu, Rey berbalik sambil sedikit berbisik pada Leon.
"Disini banyak kaca. lo bisa liat refleksi dari yang lo omongin barusan di diri lo sendiri. Pembuat noda kaya lo, gapantes ada disamping Eris."
***
"Leon-"
"engga!" Leon membuang nafasnya cepat,refleks menarik duduk badannya, membuat Eris mengerjapkan mata melihat tingkah aneh suaminya.
"lo kenapa?" tanya Eris aneh.
Leon melirik Eris mengerjap beberapa kali lalu langsung mengedarkan pandangannya keluar dan kearah pintu.
"cowo ******** itu kemana?" Tanya Leon sambil mengambil longcardi dan memakainya untuk menutupi tubuh atasnya yang tanpa sehelai pakaian.
"cowo ******** siapa?"
"ya si Rey! siapa lagi." Jawab Leon sinis,
Eris masih dapat melihat tonjolan urat laki - laki itu. Kepalan tangan Leon juga semakin membuatnya mengerutkan alis.
__ADS_1
"lo mimpi? gaada siapa siapa disini, cuma Maji sama Yuan dibelakang" Jelas Eris yang membuat Leon mengerjapkan matanya lalu beranjak mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.
Nafasnya masih naik turun saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Buru - buru Leon mencuci muka.
yang tadi itu mimpi? tapi ko gue ngerasa nyata banget. Engga, pokoknya gue harus lebih jaga cewe itu. Gue gabakal ngebiarin dia deketin Eris.
30 menit Leon dikamar mandi sampai ia keluar dengan rambut yang terlihat masih basah,handuk kecil yang tersampir di sebelah pundaknya, dan satu handuk lagi menutupi bagian bawah tubuhnya.
Leon melirik Eris yang menyiapkan bajunya, membuat senyum Leon tertarik dan berjalan semakin mendekat kearah Eris.
"by."
"hm" Eris hanya menjawab singkat saat Leon memeluknya dari belakang.
Baru saja Leon membuka mulutnya untuk meneruskan ucapan , pintu terdengar diketuk dari luar. Membuatnya menghela nafas yang dibalas sedikit tawa oleh Eris.
"Kalo mau ngomong, nanti aja. Ini kaya nya pak Mar." Eris langsung melepas pelukan Leon, membuka pintu dan langsung mengerjapkan mata melihat sosok yang sekarang ada dihadapannya.
"Gue cuma mau anterin ini."
Rey tersenyum, memberikan koper besar pada Eris.
Suara helikopter terdengar jelas dari luar. Membuat Eris mengerutkan alis sambil melihat kearah Rey, meminta penjelasan.
"siapa,by?"
Leon langsung menghentikan langkah, menatap malas Rey yang menyunggingkan senyum kearahnya.
"Gue gabakal ganggu waktu honeymoon kalian kok." Tangan Rey yang semula memegang pegangan koper, mendorong koper itu kehadapan Eris.
"Ok,kalo gitu gue pamit. Takecare, Ris. Hfun." Ujar Rey yang suaranya sangat jelas mengejek ditelinga Leon.
"ck. ada aja parasit pagi - pagi gini."
Leon mengusap kupingnya, lalu mengambil koper besar dihadapan Eris dan berbalik masuk kembali kedalam kamar. Meninggalkan Eris yang masih ada diambang pintu sambil mengerjapkan matanya bingung.
__ADS_1