Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
crash


__ADS_3

Cahaya matahari muncul melalui celah tirai kamar, membuat Eris yang masih terpejam perlahan membuka matanya, sambil meregangkan badan.


Tangan Eris mencari sesuatu disebelahnya, seingatnya ia tidur dengan tangan Leon yang melingkar dipinggang.


"Lo udah bangun? " Leon muncul dari luar, membawa nampan berisi satu gelas susu putih dan roti,menyimpannya di meja kecil lalu membuka tirai agar cahaya matahari masuk.


Eris mendudukkan badan, sedikit meringis karna rasa nyeri dan pegal yang tiba tiba muncul.


"kenapa ris? lo sakit? mana yang sakit?" Leon buru buru menghampiri Eris dan langsung memegang tangannya.


"Engga, engga. Gue gapapa."


mereka saling diam cukup lama, Eris mengalihkan pandangannya keluar jendela dan Leon yang duduk disebelah Eris tanpa suara.


"sorry. Semalem gue lepas kendali, lo tau kan minuman yang semalem tuh kadar alko nya bener bener magic. " Leon tertawa sambil mengusap tengkuknya, mencuri lihat kearah Eris yang tersenyum singkat.


"haha, iya."


"lo mau tinggal disini dulu? buat tenangin diri?" Leon menawarkan sesuatu pada Eris yang membuat wanita itu langsung mengalihkan pandangannya melihat Leon.


"lo sendiri? lo kan harus cepet cepet masuk kerja."


"bisa diatur ko." Leon tersenyum, mengecup kedua pipi Eris lalu beranjak.


baru saja laki - laki itu bergerak, Eris memegang tangannya, menahan Leon agar tetap duduk disampingnya dulu.


"ada sesuatu yang ganggu fikiran lo? " Leon menebak karna air wajah Eris cepat berubah apalagi setelah mengobrol dengan Della dan Dion.


"ada yang mau gue omongin. "


Eris menjeda perkataannya, mengigit bibir karna gugup. tentang Leon, laki laki yang membuatnya merasakan nyaman seperti rumah. Juga Della, sahabat kecilnya yang sangat ia percaya.


"ini, tentang Della."


Leon mengerutkan alis, melepas cekalan Eris untuk berbalik menggenggam tangannya.


"Ris, kalo lo mau bilang gue manfaatin lo buat deket lagi sama Della, itu kesalahan besar. Lo bisa tanya ke Sam atau Dion seancur apa gue pas cewe itu main dibelakang."

__ADS_1


"lo belom tau kan alesan dia kaya gitu itu kenapa. karna lo sendiri,Yon!Lo gapernah bisa pastiin hubungan lebih serius."


"pastiin hubungan lebih serius? setelah gue liat dengan mata kepala gue dia having sex sama Rey? Ris, gue kerja gila gilaan buat bangun masa depan yang cerah buat dia dan lo tau ancurnya gue gimana waktu itu?! "


Leon berdiri, mencengkram bahu Eris yang membuat wanita itu meringis,membentaknya lalu berbalik meninggalkan Eris yang masih terkejut karna sifat kasar Leon yang baru dilihatnya juga tentang hubungan Della dan Rey.


rasa sakit dikepala nya kembali muncul, apalagi karna teriakan Leon yang tiba tiba. Selera makannya pun menguap entah kemana.


Eris mengambil ponsel nya. Menggulir lock screen untuk segera mencari kontak Della, ia butuh bicara dengan wanita itu.


"halo"


"halo,Ris. kenapa? "


" lo lagi dimana? bisa ke villa nya Dion ga? ada yang mau gue omongin. "


"sekarang? "


"iya. "


"emang ada apa ya? ngobrol di telfon aja gabisa? "


Della mengerutkan alis mendengar nama Rey. Jantungnya masih dibuat kaget karna undangan tiba tiba Eris ke villa kakak nya.


baru saja Della menjawab, Eris sudah memutuskan sambungan telfonnya, membuat Della semakin bingung karna tak biasanya nada Eris sedingin itu apalagi memutuskan telfon sepihak dengan tiba - tiba.


Eris beranjak ke luar balkon setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ia sama sekali tak berminat melakukan aktifitas apapun, bahkan mandi atau makan.


tok tok...


"Ris"


Eris membalikkan badannya, melihat Della yang satu jam kebelakang baru ditelfonnya sudah sampai,padahal saat ia dan Leon kesini memakan waktu lebih dari 2 jam.


"lo mau ngomong apa? " Della memperhatikan Eris yang masih memakain baju tidur pendek nya,sambil sesekali melirik pakaian Leon yang tergeletak di bawah lantai.


"nanti aja lo juga baru dateng. Sama Rey kan? "

__ADS_1


Della mengangguk, ikut bersandar di balkon sambil memandangi views pegunungan yang sangat dirindukannya.


"Ris!! " Leon membuka pintu agak kearas, memanggil Eris yang membuat kedua wanita itu langsung melihat kearahnya yang terlihat marah.


"gue mau ngomong sama dia! Lo bisa keluar dulu kan? " Leon berjalan kearah mereka, menarik Eris sambil melihat malas kearah Della.


"o-oh oke, Ris gue kebawah ya. "


"maksud lo tuh apa sih,hah? ngundang Della kesini, sama Rey lagi! " Leon menahan suaranya agar tak berteriak pada Eris yang duduk sedikit menunduk di sofa.


"yon, gue mau-"


"apa? lo itu cuma orang baru, gausah ikut campur soal masa lalu gue." kali ini suara Leon naik satu oktaf, Leon menjatuhkan kasar tubuhnya disebelah Eris, memejamkan mata sambil menjepit dahinya dengan ibujari dan Tunjuk


"gue pengen semuanya jelas! Lo, Rey, Della. Yon, lo fikir enak ada ditengah orang yang masa lalu nya belom selsai? "


Helaan nafas kasar terdengar. Eris membalikkan tubuh agar bisa dengan jelas melihat Leon yang masih memejamkan mata.


"maaf." Leon berkata lemah dengan suara lebih lembut.


"gue gamaksud buat kasarin lo, Ris. Tapi, please... fokus ketujuan awal kita, cari peneror lo dan selsain itu. Jangan buat masalah ini bercabang. "


Eris menghela nafasnya, beranjak lalu mengambil beberapa pakaian yang langsung membuat Leon berlari mendekat.


"Ris, lo mau kemana? jangan balik dulu"


"gue cuma mau mandi." Eris menaikkan alisnya karna Leon yang langsung menahan tangannya.


"terus lo ngapain keluar-luarin baju dari tas? "


"mau ambil ini. " sebuah facial wash yang ditunjukkan Eris berhasil membuat Leon menertawakan dirinya sendiri.


"o, oh hahaha. sorry gue kira lo marah karna gue gasengaja teriak teriak."


Eris tersenyum, menggeleng menanggapi Leon lalu berjalan ke kamar mandi. Menyalakan shower dan berdialog dengan diri sendiri dibawahnya.


gue gaperduli soal ghost peneror itu, hal gapenting yang Leon cari tau sampe segininya.

__ADS_1


Saat lo ada di tengah hubungan orang yang masalalu nya belum selsai apa yang bakal lo lakuin? nahan kaki lo dan terima uluran tangan dari orang itu,percaya sama dia tapi nipu hati lo sendiri atau pergi dengan konsekuensi kecewa dan patah sendirian?


setelah gue timbang. Gue, Erisca yunanda menyatakan kalah dari rules FWB yang gue bikin dan udah kita sepakatin, dan... sementara gue bakal milih opsi no 2, gue butuh penenang, gue butuh sesuatu yang bikin otak gue bisa mikir jernih lagi. alkohol


__ADS_2