Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
check


__ADS_3

Leon mengambil air dingin, menuangkan dan meminumnya dengan cepat lalu meletakkan gelas nya dengan keras.


Nafasnya naik turun. Segera, Leon melangkahkan kakinya ke halaman belakang, menghempas kasar tubuhnya ke single sofa yang berhadapan dengan tanaman rambat dan kolam yang memantulkan panasnya matahari siang itu.


Sifat tempramen nya kembali muncul, bahkan karna hal kecil sekali pun amarah nya bisa terpancing cepat.


Leon menarik nafas, memejamkan mata dan mengacak rambutnya karna ia mulai tak bisa mengontrol kembali tempramennya.


Padahal sekarang ada wanita yang selalu bisa menenangkan nya, tapi ia sendiri malah membiarkan dirinya dikuasi rasa paranoid.


Leon membuka mata, menatap malas ke deretan tanaman rambat. Masalalu yang membuatnya sebegitu tak percaya dengan orang sekitar, masalalu yang juga berhasil membuat tempramen nya berantakan.


Fikiran soal Eris yang pernah bicara ia akan mengaborsi anak nya kembali muncul. Mungkin memang lebih baik begitu, Leon bukan tak sayang pada Eris apalagi calon jagoannya, tapi rasa takut membuat mereka terluka terus muncul di kepalanya. Bayangan masalalu yang selalu berhasil membuatnya lepas kendali pada hal kecil, yang sebenarnya lumrah menjadi batu kerikil dalam hubungan.


"Leon."


Suara halus Eris terdengar tak jauh di sebelahnya. Wanita itu tetap menyunggingkan senyum walaupun tanpa sengaja dibuat luka.


"Maaf,ya. Gue bikin lo marah terus." ucap Eris sedikit menunduk,dengan seulas senyum. Berdiri tak jauh dari tempat duduk Leon.


"Sini." Leon menggerakkan tangannya agar wanita itu mendekat dan duduk disebelahnya.


"Lo gaperlu minta maaf buat kesalahan kecil kaya tadi." ujar Leon sambil mengelus rambut Eris yang duduk di sampingnya.


Pandangan Leon beralih pada perut wanita itu yang terlihat sudah mulai berisi. Senyuman kecil tertarik dibibirnya, bersamaan dengan tangannya yang mengusap perut Eris.


"Ris,lo mau kasih nama anak nya apa?"


Ujar Leon diiringi tawa saat melihat kearah Eris yang mengerutkan alis dan menatapnya aneh.


"Masih jauh ,loh. Usia kandungan gue aja baru nginjek dua bulan."


"Ya apa salah nya ngasih nama dari jauh hari." Timpal Leon sambil mengedikkan bahu nya.


"Lo mau kasih nama apa?" tanya Eris balik pada Leon yang terlihat berfikir.


"Leo."


Eris mengerutkan dahinya. Menaikkan sebelah alis kearah Leon yang menjawab pertanyaannya dengan tawa.


"Apaan. Masa nama nya sama kaya lo."


"Leo,by. Bukan Leon." ujarnya masih dengan tawa dan suara yang sengaja dikeraskan dekat telinga Eris.

__ADS_1


"ish,denger! gue ga budek. Maksud nya tuh kan sama gitu, Leo - Leon. Disangka kembar ntar sama papa nya."


"Leon junior." Jawab Leon asal, membuat wanita disebelahnya mencubit lengan Leon dan mengalihkan pandangannya ke arah kolam.


"Yaudah Leo."


Leon tertawa mendengar pilihan wanitanya, merangkul Eris lebih dekat lalu merebahkan kepalanya di bahu wanita itu.


Perlahan matanya kembali terpejam. Rasa takut kehilangan selalu berhasil memunculkan tempramen berlebihan bahkan sudah mulai diluar kendalinya. Mengorbankan Eris yang selalu meminta maaf atas kesalahan yang bukan salahnya.


"maaf,by." ujar Leon dengan suara berbisik yang sangat kecil,bahkan tak terdengar oleh Eris.


***


3 hari berlalu. Leon semakin sibuk karna banyak pekerjaan yang tak bisa di handle bawahan - bawahannya.


Bahkan sekarang, setelah selsai meeting dengan skylight. Laki - laki itu masih dihadapkan dengan setumpuk masalah pekerjaan kantornya.


Leon mengalihkan pandangan ke arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Helaan nafas terdengar saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.


dret..dret...


incoming call


Senyuman kecil tertarik melihat nama penelfon. Leon segera menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel nya ke telinga.


"Yon,kalo masih banyak kerjaan, gue masuk sendiri aja,ya. Bentar lagi antrian gue." ujar Eris disebrang telfon.


"Engga,jangan. Bentar lagi gue kesitu."


tok..tok..tok


Alis Leon tertaut mendengar ketukan pintu. Tak lama, Eris mematikan telfon sepihak, membuat Leon menghela nafas dan menatap malas pintu didepannya lalu sedikit berteriak masuk pada orang yang mengetuk pintu.


"Yon jam 5 meeting sama Yurani corp. Ini duplikat perjanjian saham nya, sama ada beberapa berkas yang harus lo tandangani hari ini." Sam muncul dengan nafas sedikit terengah karna bolak - balik menyiapkan dokumen kepentingan untuk meeting.


"harus hari ini?"


"Iya. Kan lo udah setuju buat urus langsung tentang saham yang di invest Yurani."


"Ck. Lo gabisa urus sendiri? gue ada urusan yang lebih urgent." Leon sesekali melirik jam yang sudah menunjukkan hampir setengah lima sore.


"Cafe all you can eat."

__ADS_1


"ok."


Mendengar nama cafe yang dekat dengan rumah sakit tempat Eris USG dan waktu yang sudah mepet. Leon buru - buru memakai jas nya. Mengambil berkas berkas dan segera turun dengan cepat, diikuti Sam yang mengekor.


Jalanan terbilang cukup padat. Leon memutuskan untuk menaiki motor karna mengejar waktu yang sudah tinggal beberapa menit.


Tangannya mengetuk tak sabar saat mereka sudah sampai di lantai dua cafe, kali ini ceo Yurani langsung yang turun tangan membahas investasi saham nya.


"Jadi menurut lo gimana,Yon? gue bakal naikin saham invest asal lo ikut meeting kedua minggu ini." ucap Jimmy yang merupakan ceo Yurani sekaligus teman SMA Leon.


"Ini serius meeting nya di dalb?" tanya Leon pada Jimmy yang dengan mantap mengangguk.


Ponsel Leon berdering. Membuat fokus nya kembali buyar. Dengan tak sabar Leon berdiri dan setuju untuk meeting lanjutan.


"Ok deal,ya. Lo kaya nya buru - buru, ada apa?" Terka Jimmy pada Leon yang sudah bersiap.


"Iya. Istri gue udah nunggu."


"Lah lu udah punya istri? siapa tuh, Della? Laura?" tebak Jimmy diselingi tawa yang tak di gubris Leon.


Segera setelah penyerahan duplikat perjanjian saham, Leon buru buru keluar. Mobil nya sudah terparkir rapi karna ia meminta Oji yang merupakan supir kantornya segera mengantar mobil saat Leon berangkat tadi.


"Yon,nebeng."


Baru saja Sam meminta tumpangan, Leon sudah masuk mobil dan melesatkan mobilnya ke arah rumah sakit. Membuat Sam menghela nafas malas.


Leon memarkirkan mobilnya. Langkah kaki nya tertahan saat ia hendak turun. Tangannya mengepal di kemudi melihat Eris yang sedang dipeluk seseorang di lobby.


Wanita itu diam, tak berontak atau menghindar. Disebelahnya Rey tersenyum kearah Eris dan laki - laki didepan mereka yang dengan santai memeluk istrinya.


incoming call


Laura


Dering telfonnya hanya dilirik sekilas oleh Leon. Beberapa detik kemudian, terdengar notifikasi baru dari orang yang sama.


Laura


Yon,bisa tolongin gue ga?


Laura


Ke butik gue sekarang,ya. please..

__ADS_1


Tanpa melirik kearah tiga orang yang terlihat sangat dekat. Leon menancap gas nya, memutar balik mobil nya menuju butik tempat Laura.


__ADS_2