
"Yon, mulai sekarang lo gaperlu cari peneror itu lagi, ya. "
Leon mendongakkan wajahnya, menatap Eris yang tersenyum manis tanpa menghiraukan luka bakar ditangannya.
"kenapa? dia chat lo lagi? teror lo lagi? tell me why //beritau aku,kenapa//. "
"gue gamau ada urusan lagi sama dia. stop it,ya. Kita balik. " Sekali lagi Eris tersenyum, beranjak menghampiri ranselnya dan memulai mem packing barang - barangnya dengan sebelah tangan.
"gue kira lo bakal tinggal lebih lama di villa karna dia kesini."
iya, gue betah banget disini. Tapi fakta bahwa dia peneror nya bikin gue mutusin buat langsung cabut sebelum lo tau, i dont want to make you hate her anymore //gue gamau bikin lo tambah benci sama dia// batin Eris sambil sesekali melihat Leon yang menatap cemas kearahnya.
"selsai. " Eris menyunggingkan senyum yang membuat Leon heran karna ia menemukan fakta baru, wanita di depannya pintar memainkan topeng.
Padahal Leon mendengar sedikit pertengkarannya dengan Della.
wanita itu menyinggung hal yang paling sensitif bagi semua orang. Gue gaboleh biarin dia deketin Eris apapun alesannya. Leon mengepalkan lengan, menarik nafasnya lalu menghampiri Eris yang duduk ditepian kasur.
"ok, kita pulang sekarang. "
"tapi kayanya gue mau Barbeque bikinan Dion,enak banget tau." Eris mengigit bibir bawahnya, berharap Leon mau meminta tolong Dion memanggangkan beberapa daging untuknya.
"dasar. yaudah gue samperin Dion dulu. " Leon mengacak rambut Eris membuatnya berantakan.
Leon berada diujung tangga, mencari keberadaan Dion karna laki laki itu tak menemukannya di kamar bawah. dihalaman depan ataupun dapur. Hingga suara teriakan dari halaman belakang membuat Leon mendekatkan langkahnya pelan. Mendengarkan dengan seksama teriakan yang terdengar seperti suara Dion.
"gobl*k gue udah bilang tahan diri lo! jangan bawa bawa keluarga. **** banget sumpah, lo udah hampir berhasil dapetin yang lo mau!"
"lo bentak gue? hah! " Della tak kalah ngotot dan berteriak, melempar vas bunga ke depan Dion yang memejamkan mata.
"dengerin,dengerin gue,heh!-" Dion menghampiri adik nya yang mengambil gelas diatas meja. Menahan tangan Della yang terlihat hendak melemparnya.
" gue udah kumpulin sex tape //rekaman sex// mereka. Gue udah atur semuanya buat lo malah lo ancurin dengan cara norak kaya gitu, kalo lo mau liat cewe itu jatuh banget tahan diri lo sebentar lagi. sabar! "
Leon mengepalkan tangan, nafasnya sudah memburu saat ia dengar sendiri siapa orang yang selama ini meneror Eris.
__ADS_1
Buru - buru Leon berjalan menghampiri mereka, memukul Dion dengan satu hantaman di pipi yang membuat Della langsung berteriak karna kaget.
"ternyata kalian berdua pelaku nya, hah?!"
Leon mengangkat kembali Dion yang terduduk sambil memegang pipinya, lalu mendatatkan pukulan kedua dekat bibir laki laki itu yang membuat darah mulai keluar.
Bug
Mendengar suara ribut yang kali ini datang dari halaman belakang, semuanya berkumpul memisahkan Dion dan Leon yang mulai saling pukul.
Eris yang baru akan berlari membelah kerumunan dikejutkan dengan Della yang tiba - tiba menarik Leon dan memeluknya, membuat Leon akhirnya berhenti dan terlihat sedikit tenang. Tidak berhenti disitu, Della mengecup bibir sensual Leon bahkan dihadapan semua orang termasuk Rey.
Semua orang,kecuali Leon menangkap keberadaan Eris dan melihatnya bergantian dengan Della yang mencium bibir Leon, bahkan laki laki itu pun diam tanpa menghindar.
Tangisnya pecah diruang kamar yang telah dikuncinya. Barusaja Eris percaya pada laki - laki itu, barusaja Eris menggantungkan semuanya. Andai ia tidur saja tadi, mungkin dia bisa berpura pura tidak tau soal kejadian ini.
Leon sudah menempati salah satu bagian didalam hatinya, walaupun mereka bertemu karna kesalahan, setidaknya laki - laki itu bisa membuat Eris merasa bahwa ia masih punya seseorang yang menganggapnya ada.
Suara hujan mulai terdengar, membuat Eris semakin nyaman memeluk dirinya sendiri, menangis bahkan berjam jam, berkali kali Eris memperhatikan pintu kamar, berharap seseorang datang mengetuknya dan meminta maaf.
"pa, Eris kangen papa." satu album berisi keluarganya lengkap dengan Dedi-papa Eris berhasil menenangkan fikirannya yang acak acakan, merubah perasaan resahnya dengan rindu pada rumah dan seseorang yang lebih dulu berpulang.
Satu - satu nya pria yang taakan menyakitimu, pria yang akan selalu melindungimu dengan memasang badannya sendiri.
Eris menggulirkan layarnya ke pesan. Melihat pesan terakhir 4 bulan lalu yang dikirimkan mama nya.
feb, 28
takecare, my girl. mama lanjut kerja dulu
Satu hal yang membuat Eris sedikit tertampar; ia tak pernah tau apapun soal mama nya.
***
Eris terbangun dengan posisi bersimpuh di sofa. Jam menunjukkan pukul 10 malam, dia beranjak menghampiri kasur yang masih terdapat tas miliknya dan Leon. Mengigatkan dia soal rencana mereka pulang hari ini ini.
__ADS_1
"Leon kemana ya" Eris mengerutkan alis, bertanya pada dirinya sendiri, memutuskan berganti dengan pakaian tidurnya.
Suara perut yang terdengar lucu membuat Eris sedikit tersenyum, setelah menimbang beberapa kemungkinan ia bertemu Della atau Dion, Eris akhirnya berjalan pelan menuruni anak tangga. Berniat mencari sesuatu yang bisa dimakannya.
Baru saja kakinya menginjak tangga terakhir, Eris melongok kearah dapur, tak sengaja melihat siluet pasangan yang berciuman mesra. Dilihat dari tempatnya berdiri, Della tampak mengalungkan tangannya pada laki laki yang memunggungi Eris.
Della tampak hanya mengenakan lingerie dengan balutan sweater yang sudah terjatuh dilantai. Saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan Della, Eris buru buru membalikkan badan, melangkahkan kaki nya ketangga sampai terdengar suara Della yang seperti sengaja dikeraskan.
"aw, Leon. hahaha, stop it."
Kata - kata yang berhasil membuatnya mematung, apalagi saat ia mendengar suara Leon yang membalasnya.
"kiss here. no,no. Lebih slowly."
"bastard!" Eris memejamkan mata, menahan tangisnya dengan mengumpat lalu berlari keatas hingga tak sengaja menabrak Rey yang baru saja akan turun.
"anterin gue balik. please... " Tanpa tau malu, Eris memohon pada Rey, menyatukan kedua tangannya sambil menunduk, membuat Rey hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Leon kemana? " Rey mengerjapkan mata saat Eris buru buru berlari ke kamar, terlihat mengambil tas lalu kembali ke depannya dengan masih menunggunakan baju tidur.
"please. gue udah pesen taxi tapi gaada yang mau ambil orderannya."
"yaudah. "
Rey menuruni tangga, yang langsung Eris susul agar ia tak melihat Leon dan Della yang sedang bermesraan, Eris tak mau membuat keributan lagi hari ini.
"lo kenapa sih?" Rey melihat wanita disampingnya dengan mengerutkan alis karna Eris yang terlihat buru buru menyusulnya. Apalagi dia tak menjawab, terlihat menengok kearah dapur lalu tersenyum padanya.
"hm? engga."
Eris berjalan mendahului Rey, mengerutkan alisnya saat Della dan Leon sudah tidak ada di pantry dapur, membuatnya terus memikirkan hal itu bahkan saat ia dan Rey sudah melaju meninggalkan villa.
Suara mobil yang terdengar menjauh membuat Della menyunggingkan senyum didalam kamar miliknya. Mengusap kepala Leon yang tidur di paha terbukanya.
"Gaada yang bisa rebut lo lagi dari gue, Yon. "
__ADS_1