
tok..tok.. tok...
Leon mendongakkan wajahnya yang duduk tertidur disamping Eris, lalu beranjak mendengar pintu diketuk beberapa kali. Terlihat Eris dan Mak im yang masih tertidur pulas.
"permisi, bu Eris sudah boleh pulang ya pak. Silahkan tandatangan disini."
Seorang perawat laki - laki muncul dibalik pintu sambil membawa tab dan pulpen digital lalu menyerahkannya pada Leon.
"Baik, saya permisi dulu ya pak. "
Leon mengangguk. Membuka kembali knop pintu dari luar. Eris dan Mak im masih terlihat belum membuka mata, jadi Leon memilih mengemas kembali baju Eris yang sudah disiapkannya sendiri.
Jam baru menunjukkan pukul 4 sore, Leon memilih mandi untuk menyegarkan badannya,melihat dulu wajah tenang Eris saat memejamkan mata lalu mengusap perut Eris yang membuat wanita itu mengernyitkan dahinya sambil bergerak.
"debay baik baik ya sama mama, papa mau mandi dulu. "
Ko gue Geli denger omongan sendiri ⊂( ̄(エ) ̄)⊃. Tapi gapapa latihan sejak dini. Leon terkikik saat berdialog dengan dirinya sendiri, lalu beranjak mengambil handuk kecil.
"Dia ngomong apasih." Eris membuka mata, menahan senyumnya melihat tingkah Leon yang tiba tiba menggemaskan.
Ponsel Leon yang diletakkan di atas nakas mengalihkan pandangan Eris, membuat wanita itu sedikit bergerak mengambil ponselnya.
gapapa kali ya intip dikit, dia juga sering buka hp gue tanpa ijin.
Eris mengerutkan alisnya, lalu mengangguk membuka ponsel menggunakan sidik jari tangannya.
Sebuah pesan yang baru masuk membuat Eris mengernyitkan alisnya dan menghela nafas. Lagi - lagi Della, jempolnya sudah gatal ingin mem blokir kontak wanita itu tapi fikirannya masih sadar bahwa ponsel yang di genggamnya milik Leon dan ia tak berhak merubah apapun isi ponselnya.
Della
i miss u soooo much by❤
(just now)
Della
kapan kita bisa ketemu?
(just now)
"kipin kiti bisi kitimi. " Eris mempraktikan kata kata menjengkelkan Della, lalu segera menutup kembali ponsel Leon karna suara kran kamar mandi yang sudah dimatikan.
Tak lama, Leon keluar. Tersenyum pada Eris yang menunjukkan ekspresi kesal kearahnya.
cup
Leon mengecup puncak rambut Eris, mengacak nya lalu mengambil baju di tas karna ia hanya memakai celana pendek dengan tubuh atas top less / telanjang dada.
"mau mandi dulu ga? lo udah boleh pulang hari ini."
Eris mengangguk pelan, mengambil beberapa buah lalu menyimpannya di atas kaki yang bersila tertutup selimut.
"Gue mandi di apart aja deh. Mau berendam."
"ikut ya. " Leon berkata sambil tersenyum manis kearah Eris,beranjak mengambil ponselnya. Tak lama mengernyitkan dahi membaca pesan dari Della lalu buru buru membersihkan pesannya.
__ADS_1
"ikwut kwemana? "
Mulut Eris masih penuh sampai perkataannya tak terlalu terdengar jelas, membuat Leon tertawa gemas melihat wanitanya yang juga berubah semakin rakus.
Maklum, sekarang ada berdua. Fikirnya.
"Berendam lah, bathup lo enak buat berendam bareng. "
"uhuk. Ga! Lo balik jangan nginep di apart gue. "
Eris menggeleng, meminta tolong pada Leon untuk membuangkan beberapa kulit buahnya ke tempat sampah karna malas dengan alibi perutnya sedikit sakit.
"Yon, tolong buangin ini,ya. perut gue sakit-"
"hah? apanya yang sakit? sebelah mana? " Leon segera mengambil beberapa bekas kulit buah di pangkuan Eris lalu menyimpannya dulu diatas nakas, berjalan cepat mendekat kearah Eris lalu segera memeriksa perut dan bagian kaki wanita itu.
"issh tolong buangin. Malah disimpen disitu."
Leon mengerjapkan mata, lalu mengangguk patuh pada wanita didepannya.
maklum bumil, harus banyak disabarin. Biar ntar anak gue kesabarannya kaya lapisan wafer. Leon tersenyum. Kembali kesamping Eris yang terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil sesekali melihat kearah ponsel yang baru digenggamnya.
"Mak im mau dianterin sekarang aja? Jakarta bandung lewat tol sejam juga nyampe. 30 menit deh, gue ngebut."
"Biarin nginep di apart gue aja. Kasian cape dia. "
"gue juga cape. Lo ga kasian? kasih hadiah kiss kek sekali. "
"Engga." Eris langsung menggeleng yang membuat Leon menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya sampai pintu kembali di ketuk beberapa kali.
Leon beranjak saat melihat Eris menganggukkan kepalanya. Lalu tersenyum singkat saat beberapa petugas masuk untuk mencopot infusan dan membereskan kamar.
***
Eris tak berhenti tertawa saat Leon dan Mak im saling bersahutan mengeluarkan jokes ringan. Apalagi saat Mak im dan Eris mengajarinya bahasa sunda yang justru terdengar aneh dan lucu saat diikuti Leon.
"Saya, itu bahasa sunda nya urang. Yang lebih sopan panggilnya abdi. "
Leon mengangguk mendengarkan Eris yang mengajarinya. Lalu melihat kearah Mak im yang sudah terlihat menahan kantuk.
"Kalo kamu, bahasa sunda nya apa? "
"anjeun"
" urang teh ncan makan. Gitu? //aku itu belum makan//"
Eris tertawa mendegar logat sunda yang terdengar aneh saat diucapkan Leon.
"Lo belom makan emang? "
Leon mengangguk, lalu dengan cepat menggeleng, membuat Eris mengerutkan dahinya.
"Gue tuh tadinya mau nanya 'kamu udah makan?'. Bener ga bahasa sunda nya gitu? "
"ish bukan atuh,hahaha. Kalo kamu bahasa sunda nya Anjeun. "
__ADS_1
Tawa Eris yang lepas terdengar renyah, apalagi baru sekarang Leon melihat wanita disebelahnya bener benar tertawa lepas seperti tanpa beban.
"Eh ada pasar malem. Berenti, yon! "
Leon segera menghentikan mobilnya, membuat Mak im yang ada dibelakang mereka langsung mengerjapkan mata. Melihat sekitarnya yang seperti tak asing.
"Ini teh udah nyampe Bandung? "
Eris saling lirik dengan Leon lalu tertawa bersama menertawakan Mak im yang semakin mengerutkan dahinya.
"Hahaha. Mak, lelembutan Mak belum kumpul ya? Kan Mak im sendiri yang bilang mau nginep di apart Eris."
"Nah, sekarang kita lagi didepan pasar malem,Mak. Mak im mau ikut atau lanjut bobo? " Leon melanjutkan sambil membuka kan seat belt Eris.
"Ikut deh a Leon, neng Eris. "
...
Gemerlap pasar malam membuat mereka bertiga tersenyum terutama Eris yang langsung berlari kearah penjual arum manis.
Diikuti Leon yang iseng menawari Mak im membeli arum manis seperti Eris.
"haish, gigi Mak teh udah gak welkam ke makanan manis gitu mah a Leon. "
Leon melihat Eris yang juga melihat kearahnya lalu tertawa mendegar aksen inggris yang dikeluarkan Mak im.
"Gaya banget Mak im bisa bahasa inggris. Hahaha, ajarin Leon dong Mak. "
Mak im tertawa, memperlihatkan deretan gigi palsunnya.
"Eh mau main ituu. aaa bonekanya lucu lucu. "
Eris menunjuk mesin capit yang tak jauh dari mereka, lalu segera berjalan bergandengan dengan Mak im ketempat itu. Membuat Leon yang mengekor menggelengkan kepalanya.
"isssh, kesel aku ga dapet - dapet. Leooon bisa tolong ambilin boneka srigala yang ini? "
Leon mengangguk, setelah beberapa menit tak dianggap ada karna kedua wanita didepannya asyik sendiri dengan mesin capit,
Eris akhirnya terlihat sebal dan memperlihatkan raut wajah memohon yang tak mungkin bisa ditolaknya.
setelah 4x lebih lose //kalah// Leon berdecak frustasi karna sedikit lagi boneka itu akan dia dapatkan, bahkan saat Leo memborong hampir semua poin sampai kini hanya tersisa 3 buah poin, boneka itu belum juga terangkat.
"astaga! pak ini berapa? saya beli ya sama mesin capitnya"
Leon menunjuk boneka srigala yang diinginkan Eris lalu sedikit memukul kaca penghalang didepannya.
Laki - laki itu mengangguk saat mas mas penunggu mesin capit memberitahu cara mudah mendapatkan boneka incaran, begitupun Eris yang menganganggukkan kepalanya pelan.
"Mak mau coba. " Mak im yang berada ditengah Eris dan Leon maju kedepan, memasukkan koin lalu menggerakan tuas sedikit kebelakang dan kearah kanan.
Satu capitan Mak im berhasil, membuat Leon mengerjapkan matanya. Lalu memberi sisa koin yang baru dibelinya pada Mak im.
"Mak, sama Mak aja ya capitnya. Ambilin buat Eris."
Mak im mengangguk, tersenyum pada Eris lalu memusatkan fokus pada mesin yang ada didepannya.
__ADS_1