Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
bastard


__ADS_3

mereka sibuk dengan makanan masing - masing. Dion melirik Eris yang terlihat baik baik saja lalu Leon, senyum sarkasnya muncul memikirkan kenapa malah Leon yang sibuk mengurusi peneror itu.


Leon menaikkan alisnya pada Dion yang masih tersenyum sarkas. Bertanya ada apa dengan isyarat mata.


" oke, gue sama Eris udah selsai. lo mau istirahat juga kan? " Leon melirik Eris yang baru saja menyimpan peralatan makannya.


Eris mengangguk, beranjak mengikuti Leon. Pandangannya tak sengaja bersitatap dengan Dion yang juga melihat serius kearahnya. Baru saja Eris melihatnya balik, Leon menariknya ketangga, tersenyum sebentar lalu membawanya kesebuah kamar disudut ruang.


"gue mandi duluan." Leon membongkar tas nya, mengambil kaos dan handuk lalu berjalan melewati Eris.


suara percikan air terdengar saat pintu kamar mandi sudah tertutup. Eris memperhatikan pintu kamar mandi, lalu beranjak. Memilih untuk kembali ke balkon ingin lebih fokus karna Leon yang tadi menganggu.


Eris ingin lupakan semua yang dikatakan Della, pergi menjauh dari Leon, menutup rapat kisah rumitnya, dan kembali memulai hidup normal tanpa jadi pusat pembicaraan.


" kayanya Della udah ngomong ya sama lo?" Seseorang berdiri disebelah Eris. Mata tajamnya menatap lurus kedepan.


"ha? lo kenal Della? lo tuh siapa sih sebenernya?"


Dion tersenyum sinis, lalu mengalihkan pandangannya pada Eris.


"gue kaka nya Della sekaligus temen deket Leon. "


"back to topic //kembali ke topik// Della udah ngomongkan ke lo? soal Leon. "


Eris mengangguk perlahan menanggapi pertanyaan Dion.


"itu yang mau gue omongin juga. Mending lo jauhin Leon, lo liat kan dampak dari hubungan lo sama dia? pertama, lo kehilangan pekerjaan yang lo impiin. Kedua, Leon nelantarin mimpinya buat bawa Andromade ke ranah internasional. " Dion mendikte sambil menghitung dengan jarinya, lalu melihat sekilas Eris yang mengerutkan alis tampak mencerna perkataannya.


"so, saran gue sebagai teman baiknya Leon. Mending kalian selsain hubungan kalian-" ujar Leon menjeda perkataanya dan tampak berfikir sebentar.


"oh, wait. Hubungan lo sama Leon tuh apasih? temen tidur doang kan? sekarang tanya ke diri lo, mau sampe kapan rusak badan sendiri?" Dion berbalik meninggalkan Eris yang melotot kearahnya.


"lo itu cowo tapi mulut lo lebih dari cewe! gue ga kenal lo siapa dan lo gapunya hak buat dikte hubungan orang walaupun lo temen deket Leon." Eris menggertakan giginya menahan teriakan, terlihat belakang punggung Dion bergetar menandakan laki - laki itu tertawa.


"dikasih tau bebal. lo tuh gakenal siapa Leon sebenarnya! lo gatau gimana brengsek nya dia." Dion mendekat kearah Eris, berbisik dengan senyum sarkasnya.

__ADS_1


Dion menarik badannya, menatap tajam Eris dengan sebelah alis terangkat.


"ada apaan nih? "


Leon terlihat sudah segar dengan handuk kecil yang masih bertengger di bahu nya.


" Nope //gaada apa apa// cuma mau kasih tau ntar malem ada pesta barbeque kecil kecilan di halaman belakang. " Dion melangkah pergi, meninggalkan Eris yang melihat malas kearahnya juga Leon yang menaikkan alis.


"Dia-" Eris tersenyum lalu beranjak masuk kedalam kamar. Meninggalkan Leon yang masih berdiri dengan tanda tanya nya.


***


Beberapa jenis vodka tersedia dimeja bulat, tak jauh dari tempat mereka memanggang dagingnya.


Leon dan Eris hanya memperhatikan Dion yang sibuk dengan pekerjaannya memanggang daging, perlahan Leon beringsut mendekat kearah Eris, memeluknya dari belakang tanpa memperdulikan gelagat tak nyamannya.


"dingin? " Tanya Leon sembari menempelkan dagunya dipundak Eris.


"engga lah, kan lo peluk" Dion tertawa menimpali Leon yang tak jauh darinya.


"cewe lo mana? "


"balik dulu." Dion menanggapi Leon lalu menyajikan dagingnya diatas piring besar, beralih mengambil beberapa botol vodka dan memindahkannya ke meja panjang. Disusul Leon dan Eris yang mengekor.


Dion duduk didepan Leon, memberi kode dengan melirik Eris disebelah Leon.


"jadi, lo sendiri kapan resmiin hubungan sama dia? "


"Tunggu aja. Tau tau gue sebar undangan. "


Dion tertawa menanggapi ucapan Leon yang ia tau betul laki - laki itu pasti becanda. Pandangannya beralih pada Eris yang tersenyun singkat lalu menuangkan minuman kedalam loki.


Tak berapa lama, Siska datang dengan setelan tidurnya yang tertutup sweater panjang, tapi mereka bisa melihat jelas belahan wanita itu.


Eris menaikkan aslinya, saat Siska menghampiri mereka, sesekali pandangannya dialihkan pada Leon yang lagi lagi Eris bisa dengan jelas melihat wanita itu berusaha menggoda laki laki disampingnya.

__ADS_1


Leon menghela nafas, sama sekali tak berminat melihat Siska. Pandangannya beralih pada Eris, ia mencondongkan badannya lebih dekat, lalu mengecup singkat leher Eris.


Kecupan singkat yang membuat wanita disampingnya membuang nafas sedikit kasar karna serangan tiba tiba Leon, Eris mengambil lokiny lalu mengangkatnya keatas.


"Cheers!" Eris tersenyum sambil memegang lokinya yang langsung dibalas sulangan oleh Leon dan yang lain.


Malam yang panjang, tapi Leon memilih menarik Eris masuk duluan. Menaiki anak tangga dan masuk kedalam ruangan mereka.


hanya ada lampu kecil yang jadi satu satu nya penerangan. Leon seperti biasa, sudah mengambil alih Eris yang ada dibawahnya. Setelah bertautan bibir, Leon mengalihkan permainannya kesetiap inci tubuh Eris. Lalu berhenti dibagian yang paling ia suka.


Leon merasa alkohol yang diminumnya kali ini berbeda, sangat menyengat bau dan rasanya, tapi 1000% lebih sempurna dari yang pernah diminumnya, begitupun Eris.


Mereka larut dalam permainan hingga Leon menjatuhkan tubuhnya disamping Eris. memeluknya dan mengecup puncak rambut wanitanya.


Senyum Leon muncul. begitupun Eris yang terasa menyunggingkan senyumnya di dada Leon, mereka saling diam dengan fikiran masing masing hingga Eris menjauhkan wajahnya untuk melihat Leon.


"Yon, kalo gue gamau lo pergi gimana? apa gue kalah karna ngelanggar peraturan yang udah kita sepakatin."


Eris menarik nafas, menundukkan wajahnya sambil melanjutkan perkataannya dengan suara sangat pelan tapi masih bisa didengar Leon.


"tentang, perasaan."


"lo jahat tau ga! gunain gue buat deket lagi sama Della. Lo yakin masih sebut diri lo manusia padahal lo gapunya perasaan! " Eris memukul dada bidang Leon berkali kali, cairan bening diujung mata nya sudah memaksa ingin keluar.


"kenapa sih Yon, kenapa? lo cuma butuh gue sebagai temen tidur lo kan? kenapa harus ambil hati gue juga! " Eris berteriak, membalikkan badannya memunggungi Leon yang masih tampak mencerna kata kata Eris.


"gue benci sama lo! tapi gue gabisa jauhin lo. please, yon. bantu gue buat selsain hubungan gajelas kita."


Leon beringsut mendekat kearah Eris, memeluk Eris yang sudah bergetar karna tangisnya sudah keluar.


"Gue gabakal tinggalin atau lepas lo. Gue cuma butuh waktu buat berdamai dulu sama rasa trauma gue. Kita udah pernah bahas soal ini kan, Ris. Jadi tolong lo sabar gue terus deketin lo bukan karna lo temen tidur gue, tapi lebih dari itu."


Leon berbisik diakhir kalimatnya, membuat Eris semakin menggigit bibir menahan tangis.


laki laki itu sangat pintar menggunakan kata kata penenang saat seperti ini. Dan bodohnya, lagi lagi aku percaya dan tetap menahan kaki untuk beranjak dari hubungan tabu ini.

__ADS_1


Rasa pusing karna menangis dengan posisi tiduran mulai terasa, membuat Eris perlahan menutup matanya sambil memegang tangan Leon yang masih melingkar di pinggangnya.


__ADS_2