Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
(to) accept


__ADS_3

Senyuman kecil terlihat dibibir Eris saat Leon menggenggam erat tangannya dengan sebelah tangan lain memegang kemudi. Laki - laki itu selalu bisa menenangkannya,mengembalikkan kembali warasnya saat berhasil membuatnya seperti ingin meledak.


"Sekalian fitting baju ya." Leon balas tersenyum. Membelokkan kemudinya menuju sebuah butik yang tak jauh dari tempat mereka berhenti tadi.


Pemandangan butik dengan nuansa glamour terlihat saat Leon membawa Eris masuk. Seorang wanita muda menyambut mereka dengan sumringah dan langsung memeluk Leon tanpa perduli wanita disebelahnya yang langsung mengerjapkan mata.


"Ra..."


Leon mencoba melepas pelukan wanita didepannya yang dibalas dengan tawa singkat.


"Aku masih ganyangka loh player se DKI mau nikah, astaga." Wanita itu terlihat tertawa sambil sesekali menepuk tangan Leon.


"Ohiya. Kenalin Ris,ini Laura. Dia sahabat gue." Leon menepuk bahu wanita didepannya. Lalu beralih merangkul pinggang Eris.


"Ra,ini Eris. Dia calon istri gue."


"oh? Halo, Eris. Aku Laura. Panggil Rara aja." Laura mengerjapkan matanya melihat Eris,lalu tersenyum dan merangkulnya. Membuat Leon mengerutkan alis dan melepas tangannya yang melingkar di pinggang Eris.


"Sini - sini,Ris. Gaun kamu udah jadi."


Laura membawa Eris kesebuah ruangan dilantai atas yang lebih sepi.


"Taadaaa."


Eris mengerjapkan mata melihat gaun putih di depannya. Terkesan glamour dan simpel namun tetap terlihat sederhana.



"Leon ikut tambahin detail desain nya loh." Laura terlihat berbisik pada Eris sambil sedikit terkekeh saat melihat Leon yang mengerutkan alis kearahnya.


Eris ikut tersenyum, melirik Leon yang juga tersenyum kearahnya dan kembali berkutat dengan ponsel.


"Ra, gue titip Eris dulu,ya. Rey lagi ada praktek jadi gabisa handle kerjaan."


"oh, boleh. Hati hati." Laura tersenyum pada Leon yang menghampiri mereka dan mengecup singkat pipi Eris didepannya.


"Gue tinggal dulu,gabakal lama ko. bye"


Leon terlihat sudah menghilang menuruni tangga. Rasa canggung mulai terasa walaupun Laura yang menyambutnya cukup menyenangkan.


"Ada yang mau gue obrolin sama lo. Tapi, lo coba gaun nya dulu. " Laura menjeda ucapannya sambil melihat notifikasi ponselnya yang bergetar.


"Leon minta kirimin foto nya." Eris mengangguk, mengikuti Laura yang meneruskan ucapan sambil membawakan baju sampai keruang ganti.


Mata Laura mengerjap melihat Eris yang sudah memakai gaunnya. Selera Leon yang sederhana tapi tetap glamour terlihat pas dengan detail yang juga cocok dengan wanita didepannya.


Getaran ponsel kembali mengalihkan fokusnya pada Eris. Setelah mengambil beberapa foto untuk Leon, Laura pergi keujung ruang. Memberi kode agar Eris berganti dan menunggu nya di sofa.


20 menit lebih Eris menunggu Laura yang masih mengobrol dengan lawan bicaranya disebrang ponsel. Eris mengambil ponselnya sendiri disaku celana, mengetikkan beberapa pesan saat tak mendapati satupun pesan atau telfon dari Leon.


Laura menghampiri Eris yang terlihat sedang menggulir layar pesannya. Menghapus beberapa pesan dengan raut yang tak bisa diartikan.

__ADS_1


"Leon beneran mau nikah ternyata." Laura menjatuhkan tubuh di sofa samping Eris. Pandangannya tampak menerawang dengan sedikit senyum yang terlihat tak ramah.


"berapa bulan?"


"ha?"


Eris mengerjapkan mata, mengerutkan alis saat Laura menanyakan hal itu dengan dagu menunjuk kearah perutnya.


Suara tawa yang sedikit sarkas terdengar dari wanita disebelahnya. Laura mengangguk setelah puas tertawa lalu mengusap perut Eris yang membuatnya langsung mengerjapkan mata.


"Gue tau ko. Leon cerita."


Laura kembali tersenyum singkat, lalu melihat Eris yang tampak menghela nafas.


"2 minggu. " Eris menjawab singkat dengan perasaan aneh yang muncul dalam dirinya mengetahui Leon yang malah membeberkan cerita memalukan walaupun kepada teman dekat. Yang lebih menyebalkan, dia membeberkannya pada orang yang tak Eris kenal.


"Dulu dia sering main cewe, tapi ada seseorang yang rubah dia abis abisan. Leon yang tadinya gapernah absen ke klub, gapernah masuk kuliah, tapi semenjak sama cewe itu, dia jadi cowo yang beda."


Laura melirik Eris yang terlihat memaksakan senyum lalu mengangguk.


"Mereka terusin S2 bareng di eropa. Gue gatau pasti masalahnya apa, sampe mereka udahan dan putusin buat serius sama orang yang beda. Awalnya gue sama yang lain nyangka Leon bakal nikah sama dia,tapi mungkin bukan jodohnya ya, hahaha. "


Laura melanjutkan perkataannya yang panjang, diakhiri dengan tawa yang masih terdengar tak ramah.


"Maksud lo Della? " walaupun enggan menyebut nama itu lagi, tapi Eris yakin tebakannya soal wanita yang dimaksud Laura adalah Della.


"Lo kenal? atau cuma tau nama? sebatas mantannya Leon." Ujar Laura sedikit sarkas.


Eris menyandarkan tubuhnya agar lebih rileks. Ia tak ingin terpancing dan tak mau tau lebih soal masa lalu Leon. Walaupun Eris sangat sadar, wanita disampingnya terlihat memancing dia agar bercerita lebih jauh.


Perkataan Eris yang kali ini terdengar cuek membuat Laura mengerjapkan mata, kembali tertawa diiringi sarkas halus yang seperti tak ada habisnya.


"wait, wait. Gue lagi bayangin pernikahan macam apa nanti, karna gue denger Della sekarang sama Rey kan? astaga hahaha. " Laura mengusap matanya yang mulai berair karna terus tertawa.


Hingga suara bariton dibelakang mereka membuat Laura sedikit terlonjak, begitupun Eris yang mengerjapkan mata.


"Kalian lagi ngomongin apa? seru kayanya sampe lu nangis gitu."


Leon ikut duduk ditengah Eris dan Laura, menunjuk Laura dengan dagunya saat melihat wanita itu masih mengusap air matanya sambil terkekeh.


"Curhat seputar kewanitaan." Jawaban ambigu Laura membuat Leon menautkan alisnya, ia mengalihkan pandangannya sebentar pada Eris lalu kembali melihat Laura yang beranjak.


"Kewanitaan? bentar bentar, gue ambigu ini. "


Leon tertawa, mengerutkan alis saat Eris menghela nafas dan ikut berdiri. Baru saja Leon membuka mulutnya untuk kembali berbicara, Laura menghampiri lagi mereka, tersenyum dan memberikan gaun pada Eris lalu menatap Leon sebentar.


cup


Satu kecupan bibir membuat Eris langsung mengalihkan pandangannya. Begitupun Leon yang mengerjapkan mata saat Laura tiba tiba mengecupnya, membuat tawa wanita didepannya pecah.


"Buat salam perpisahan. Abis lo nikah gue kan gabisa bebas peluk atau cium lo lagi, hahaha."

__ADS_1


Eris sedikit memaksakan senyum saat Leon langsung melepas tangan Laura yang masih bertengger di dadanya.


"Apaan sih lo, "


"Udah kan? Gue sama Eris mau langsung cabut. Masih harus cek yang lain. " Leon melanjutkan ucapannya setelah berbicara cukup datar pada Laura.


Pandangan Leon beralih pada Eris yang tersenyum, setelah berpamitan dengan nada yang berubah cukup dingin pada Laura, Leon merangkul pundak Eris, membawanya menuruni tangga, meninggalkan Laura yang tersenyum singkat.


**Laura sync


udah beres. Besok ke garden party R residence


sent**.


Mobil Leon keluar dari parkiran butik, sesekali pandangannya melirik Eris yang masih diam hanya melihat kearah luar melalui jendela.


Leon mengeratkan pegangan tangannya pada Eris dengan sebelah tangan memegang kemudi. Menghela nafas singkat karna tingkah aneh Laura yang berani.


"sekarang kemana? " ucapan Eris terdengar lemas, melihat lurus tanpa melirik Leon yang selalu mengalihkan pandangan kearahnya.


"fitting tempat. Udah 90% sih lo liat dulu, kalo gasuka bisa langsung dirombak hari ini." Leon mengusap tangan Eris dengan jarinya, lalu kembali melihat lurus, membawa mobilnya sedikit menjauh dari keramaian kota.


Mobil Leon memasuki kawasan perumahan yang terlihat tak teralu ramai. Eris memperhatikan sekitarnya, rumah rumah dengan desain minimalis sampai berukuran besar terlihat mewah berjajar disamping kiri dan kanan jalan.


Sesekali Eris melirik Leon yang masih fokus dengan kemudinya. Tersenyum pada satpam yang membuka kan portal. Mungkin ini portal ketiga yang mereka lewati,karna sedari tadi Eris tak fokus dengan jalan.


Hingga mobil Leon berhenti didepan gerbang tinggi bercat hitam. Eris bisa melihat sebuah rumah yang terlihat megah dengan cat putih, walaupun terhalang pohon besar yang rindang.


Leon menganggukkan kepala saat seorang satpam buru buru membuka gerbang. Tersenyum ramah dan menunduk saat mobil Leon lewat.


"Kita mau kemana sih sebenernya? kerumah siapa? " Nada Eris terdengar jengkel yang hanya dibalas senyuman dan usapan kepala oleh Leon.


Helaan nafas terdengar dari wanita disebelahnya yang membuat Leon semakin menahan senyum. Mobil Leon berbelok dari basement rumah mewah didepannya, sedikit turun melewati jembatan dan perkebunan buah. Leon menghentikan mobilnya. Keluar dari mobil dan langsung memutar untuk membuka kan pintu Eris.



Pandangan Eris terpaku melihat pemandangan didepannya. Lapang hijau yang luas dengan sekeliling bukit yang masih satu lingkup dengan rumah mewah yang mereka lewati. Sebuah danau dan bungalow kecil.


Dan yang paling membuat Eris mengerjap beberapa kali adalah tempat itu yang sudah di dekor. Tenda transparant dengan lampu tumblr yang menghiasi atasnya, beberapa tempat duduk dan meja bulat, juga beberapa orang yang masih terlihat mempercantik tempat itu dengan ornamen kayu,menggelar karpet dan menghias pelataran.


"Yon, ini? "


Leon mengangguk mengeratkan pegangannya di tangan Eris lalu segera membawa wanita itu lebih dekat ke area yang sudah terlihat rapi.


"Gue sengaja beli tempat ini karna gue tau lo ga terlalu suka keramaian. Tempatnya juga sempurna, lebih sempurna kalo rumah itu diisi bareng sama lo. Sama jagoan kita." Leon menunjuk rumah yang mereka lewati dengan senyum yang terlihat sangat tulus.


Buru buru Eris mengusap air matanya. Berhambur kepelukan Leon yang langsung dibalas peluk hangat dan kecupan Leon dirambutnya.


"Kenapa nangis? lo gasuka? mau cari rumah lain? atau ganti decor buat besok? "


Eris menggeleng. menahan isakan tangisnya agar tak mengeras.

__ADS_1


"kenapa lo bisa semanis ini sih? astaga. Gue sampe gabisa ngomong apa apa lagi. Thank's, Yon. "


"everything for you. My lady //Semuanya untukmu, wanitaku. "


__ADS_2