Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
sickness


__ADS_3

Leon melirik Eris yang menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, melihat kearah luar sambil menyilangkan lengan didepan dadanya.


Helaan nafas juga sesekali terdengar, membuat Leon hanya menahan senyum karna Eris yang seperti tak ingin diganggu.


Hingga mobil Leon masuk kedalam basement. Eris langsung turun, melangkah gontai kedalam rumah mereka tanpa perduli laki - laki dibelakangnya yang beberapa kali menghela nafas.


Eris masuk kedalam kamar, mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.


Disisi lain, Leon merasa serba salah bercampur kesal karna sikap Rey yang sangat berani. Sekelibat bayangan masalalu kembali hadir. Soal keluarga nya, juga soal Rey yang sangat membuatnya muak.


"Penghianat." Leon sedikit mengepalkan tangan. Duduk menunduk ditepi kasur sampai Eris keluar.


"lo ngomong sama siapa?"


"eh,hubby. Gue ngomong sama diri sendiri ko, ga ngomong sama siapa - siapa." Dengan senyum sedikit tertarik, Leon ikut merebahkan badannya. Memeluk Eris yang langsung didorong oleh wanita itu.


"Badan lo abis keringetan. Mandi dulu!"


"Iya, iya. " Dengan wajah sedikit cemberut, Leon beranjak. Mengambil handuknya lalu masuk kedalam kamar mandi.


Getaran ponsel di hp Leon terdengar, membuat Eris hanya meliriknya singkat lalu lanjut memejamkan matanya.


Tak lama, ponsel Leon kembali bergetar. Eris menghela nafas, sedikit merunduk mengambil ponsel yang tak jauh dari jangkauannya.


incoming call


Laura


missed voice call


one new message


Laura


Udah selsai acaranya?


Laura


ketemu nanti sore


Eris mengerutkan alisnya. Lalu buru buru menaikkan notifikasi bar dan menyimpan ponsel Leon kembali ketempatnya saat air kamar mandi sudah tak terdengar.


Wanita itu terlihat sudah memejamkan mata. Leon menghampiri Eris dengan handuk yang masih melingkari pinggang, mengecup puncak kepalanya lalu berjalan ke ruang pakaian.


Rasa pusing bercampur dingin menghinggapi Eris saat ia sudah setengah tertidur. Eris mengerutkan alis dengan mata yang masih terpejam, lalu membalikkan badan ke kiri dan kanan.


"Hubby? " Leon mengerutkan alis, segera menghampiri Eris dan memegang dahi wanitanya.


"Astaga. Tunggu bentar ya, Ris. Gue nelfon dokter. "

__ADS_1


Leon buru buru mengambil telfonnya, menghubungi Zee dengan cepat yang membuat lawan bicara disebrang telfonnya mengerjap.


"Dr. Zee, kerumah saya sekarang! urgent dok, istri saya badannya panas banget."


"Mohon maaf sekali, pak Leon. Saya udah ada janji 5 menit lagi, saya suruh pengganti-"


"Batalin! supir saya udah jemput kesitu. " Leon mematikan telfon secara pihak, Lalu melempar ponselnya ke nakas dan kembali menghampiri Eris.


Leon menatap lamat wanita didepannya, yang terlihat membalikkan badan ke kiri dan ke kanan dengan helaan nafas yang terdengar berat.


15 menit berlalu. Baru saja Leon hendak mempobong Eris karna Zee belum juga sampai, pintu terdengar diketuk dari luar. Buru - buru ia berjalan dengan langkah panjang.


"Ngapain lo ikut kesini? " Suara Leon berubah dingin melihat Rey yang ada disamping Zee.


"Pak Leon, gimana bu Eris nya? "


Seolah diingatkan, Leon mengalihkan pandangannya pada Zee, lalu memejamkan mata sebentar.


"Astaga, sampe lupa. Ayo buruan dok, istri saya guling guling terus, badannya juga panas. "


"Zee gue balik duluan, ya. Yon." Rey tersenyum dan mengangguk pada Zee dan Leon, lalu membalikan badan, menuruni tangga.


Zee mengangguk, segera mengikuti Leon saat laki - laki itu juga membalikkan badan dan masuk kedalam kamarnya tanpa bicara.


"Bu Eris cuma masuk angin ko, Pak. Ini obat nya, dan karna keadaannya sedang mengandung jadi jangan di biasakan sedikit - sedikit urut, ya. " Zee tersenyum setelah selsai memeriksa Eris, lalu menyimpat obat yang telah dibawanya diatas nakas.


"Obat penambah darahnya, jangan sampe gadiminum. "


"Makasih, Dok. Sebentar, saya anter ke depan, ya. " Eris berkata sedikit lemas, berusaha duduk yang langsung ditahan Leon agar wanita itu tetap diposisi tidurnya.


"Gue aja yang anter. "


Leon berjalan didepan Zee, menuruni tangga dan menelfon Johan -supir pribadinya- agar segera ke basement.


"Makasih pak Leon. Semoga bu Eris lekas pulih. Saya permisi dulu. " Zee mengangguk pada Leon lalu masuk kedalam mobil.


Langkah Leon terhenti saat berpapasan dengan Rey yang juga hendak menaiki tangga.


"Kali ini, gue pastiin lo gabakal bisa rebut milik gue. Jadi, lo mundur. Gaperlu repot - repot so care sama istri orang. " Ucapan Leon yang dingin dan menohok hanya dibalas senyum tipis oleh Rey. Membuat laki - laki didepannya membuang nafas malas.


"Ohiya, lo gaperlu lagi balik ke andromade. Gue udah bisa handle. " Leon membalikkan badannya sebentar, lalu melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga.


Rey mendongakkan wajah melihat pintu kamar Eris, lalu menahan senyum dan membalikkan badannya keluar.


***


"Eris, Papa sama mama pamit pulang,ya-" Adrian menjeda ucapannya saat Hana mencubit pelan lengannya sambil menjawab dengan sebal.


"Pa! Kamu tega ninggalin menantu kita sendiri? Leon kan belom pulang,pa."

__ADS_1


"Gapapa ma, pa. Ada bibi ko, ada pak Mar juga. " Eris tersenyum hangat, melerai mertua nya yang adu mulut karna beda pendapat.


Sesekali pandangan Eris teralihkan pada jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Berarti, sudah 8 jam lebih Leon keluar tanpa memberinya kabar.


"Udah waktunya makan malam. Papa sama Mama makan malam disini dulu, ya. "


Bi Surti menata meja dengan cepat dan rapi. Hana berdiri, mengambilkan nasi untuk suaminya dan Eris yang langsung menggeleng.


"Biar sama Eris aja,Ma."


"Gapapa, sayang."


Meja makan diisi dengan obrolan hangat mereka bertiga. Adrian terlihat seperti Rey yang cuek tapi sebenarnya hangat dan perhatian.


"Ohiya, ini tiketnya. Kalian mau kan liburan ke Maldives?" Hana mengeluarkan kembali dua buah tiket.


Eris tersenyum, lalu mengangguk sopan dan mengambil tiket yang diberikan Hana.


"Makasih Ma, Pa."


Mereka kembali menyelsaikan makan malamnya. Pandangan Eris masih melirik sesekali kearah jam lalu melihat ponselnya.


Leon gabiasanya banget pergi lama gak ngabarin. Apa kerjaannya banyak,ya?


Hana menahan sedikit senyuman. Lalu mengikuti Adrian dan berdiri.


"Mama sama papa pulang sekarang? " Eris ikut berdiri, mengusap lengannya sendiri saat Adrian mengangguk dan berjalan meninggalkan ruang makan, diikuti Hana dan Eris disebelahnya.


Pintu terdengar berderit. Leon muncul dibaliknya dengan wajah datar seperti biasa.


"Yon, papa sama mama pamit dulu. " Adrian tersenyum yang hanya dibalas anggukan oleh Leon.


"udah makan? " Tanpa menghiraukan atau mengantar orangtuanya ke teras, Leon merangkul Eris, mengecup sebelah pipinya.


"Hati - hati Pa, Ma. "


Eris berjalan keteras, melambaikan tangan dan mengangguk saat mobil Adrian meninggalkan halaman.


Pintu ditutup. Eris berjalan melewati Leon, kembali ke meja makan untuk mengambil tiket, diikuti Leon yang mengekor dibelakangnya. Memeluk Eris yang hanya membuat wanita itu sedikit menghela nafas.


"Prepare. Besok sore kita berangkat. " Eris melepas pelukan Leon. Memberikan dua tiket pada Leon yang mengerjapkan mata.


"Gue kan belom bilang setuju kesitu."


Dua tiket itu kembali disimpan Leon, yang membuat Eris menatapnya sebal.


"Kalo lo mau liburan, kita cari tempat lain. Asal jangan Maldives. " Bujuk Leon memegang tangan Eris yang langsung ditepisnya.


"Gabisa. Gue mau nya kesitu. "

__ADS_1


"Hubby. By! " Leon menaikkan suaranya, membuang nafas kasar saat Eris mengambil dua tiket diatas meja dan segera pergi naik kelantai atas.


Leon menganggukkan perlahan kepalanya. Memastikan ini adalah kali terakhir ia menginjakkan kaki ketempat itu, tempat yang merenggut kepercayaannya pada orang lain termasuk pada dirinya sendiri. Tempat yang mempunyai pemandangan indah dengan kenangan sangat buruk yang menyelimutinya.


__ADS_2